Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kopi hitam di hadapan Kara tidak pernah terasa sepahit ini. Di seberang meja, Anna sedang sibuk menata kebahagiaannya yang berkilau, memamerkan senyuman yang begitu cerah hingga rasanya sanggup membutakan mata siapa pun. Bagi dunia, Anna adalah mawar yang sedang mekar sempurna. Namun bagi Kara, Anna hanyalah parasit cantik yang tumbuh besar dengan menghisap nyawanya.
Seorang waitress membawakan beberapa camilan ke hadapan Kara, “silakan menikmati!” ucap sang waitress mempersilakan saat Anna kemudian ikut duduk bersama Kara.
Anna mengangguk sembari tersenyum, wajahnya begitu berseri-seri—senyuman indahnya tak pernah luntur dari wajah ayu nan anggun miliknya.
“Hari ini aku traktir, aku ‘kan dapat promosi,” ujarnya bersemangat.
“Iya, selamat, ya? Kamu hebat, baru masuk kerja beberapa bulan saja sudah bisa di atasku sekarang,” puji Kara.
Mendengar pujian itu, senyuman Anna semakin merekah bak bunga mawar yang baru saja kembang, yang keindahannya tak terbantahkan. Membuat orang ingin memetiknya, memilikinya dan mencium aromanya yang segar.
Di bawah meja, jemari Kara mengepal hingga kukunya memutih. Ingin sekali rasanya untuk ia mencabut akar mawar itu dan melihatnya layu dalam sekali sentak.
Tak berapa lama hidangan lain datang, berbagai menu tersaji di hadapan keduanya. Lalu seorang pria dengan tubuh tegap menghampiri meja mereka, menghampiri Anna lebih tepatnya.
Pria itu lantas mencium kening Anna, ciuman yang begitu dalam hingga membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri, merasa ingin diperlakukan sama oleh pasangan mereka.
Kara menunduk, ada gejolak hebat di dadanya. Tangannya bergetar, senyum yang ia paksakan seakan tak sanggup bertahan di posisinya, luruh—tapi tetap dipaksakan. Hingga terlihat senyuman itu begitu getir bila diperhatikan.
“Oh iya, aku lupa memberi tahumu, aku dan Mas Gusti akan bertunangan minggu depan,” beri tahu Anna.
Pemberitahuan itu membuat Kara serasa disambar petir. “Minggu depan?” ulang Kara.
Anna mengangguk, “iya, kenapa? Kaget, ya? Aku sengaja merahasiakan ini cukup lama, dan kamu adalah orang pertama yang aku beri tahu karena kamu, aku tidak akan ada di titik ini.”
Kara terdiam. Kalimat itu menghunjam jantungnya lebih dalam daripada kabar pertunangan. Tanpa aku? batin Kara pahit. Memang benar. Tanpa aku yang membantu mengerjakan laporanmu, tanpa aku yang menutupi kesalahanmu, dan tanpa aku—kamu hanyalah kembang pajangan yang layu.
Kara menarik napas panjang, meraih cangkir kopi di hadapannya lalu meneguknya pelan. Gemuruh dan rasa sakit itu menjalar mendidihkan darahnya.
“Benar,” ucap Kara. “Tanpa aku, kamu memang bukan siapa-siapa,” lanjut Kara dengan ketenangan. Atmosfer di sekitarnya mendadak dingin, hingga sanggup membekukan segalanya.
Senyuman Anna luntur, kebahagiaan yang baru saja ia rasakan mendadak berubah menjadi degupan aneh dan perasaan tak nyaman.
Gusti yang mendengar ucapan Kara hanya terdiam, seolah tak mengerti dengan apa yang Kara katakan. Hingga kemudian Kara menatapnya, dengan tatapan intens namun membuat bulu kuduk merinding.
“Maksud kamu?” tanya Anna bergidik ngeri. Kara melihat jelas wajah sahabatnya itu sedikit pias.
“Bukankah seharusnya aku mendapat hadiah atas pencapaianmu?” jawab Kara mengubah suasana. Namun hatinya terus saja sakit di setiap detiknya.
“Astaga!” seloroh Anna. “Aku pikir apa,” lanjutnya kemudian.
“Tenang saja, aku akan memberikan apa pun yang kamu mau saat gaji pertamaku setelah naik jabatan turun,” ucap Anna tampak begitu bahagia.
Kara kemudian merogoh tasnya, lalu mengeluarkan benda kecil yang sangat familier bagi Anna. “Tapi sekarang giliranku dulu,” ucap Kara.
Anna tercengang, sedangkan Gusti merasakan panas di wajahnya saat melihat benda kecil yang diletakkan Kara di atas meja.
“Ini semalam tertinggal di bawah tempat tidurku, aku rasa aku harus kembalikan ke pemiliknya,” jelas Kara sembari meraih kopi—lagi. Ia meneguk kopi itu dengan santai seakan baru saja membicarakan soal ‘cuaca hari ini.’
Anna menegang, pandangannya bergantian memandang benda kecil itu, kemudian Kara, dan Gusti yang wajahnya berubah pucat pasi.
Lidah Anna mendadak kelu, sorot matanya seakan menuntut kejelasan pada dua manusia yang ia anggap sangat dekat dengannya.
“Kenapa bisa di bawah tempat tidur kamu?” tanya Anna dengan suara yang mulai bergetar.
“Oh, itu—Mas Gusti semalam ke apartemenku. Katanya, dia butuh ‘hiburan’ setelah lelah pura-pura mencintaimu.” Seakan tak merasa bersalah, Kara menjelaskan bahwa Gusti hanya pura-mencintai Anna.
Sontak Anna menoleh ke arah Gusti yang sudah membuang muka dengan wajah pucat pasi. Dunia Anna seolah runtuh. Namun, Kara belum selesai.
“Dan soal promosimu, Anna ....” Kara menyesap sisa kopinya dengan nikmat. “Aku mengirimkan rekaman CCTV hotel saat kamu bertemu dengan klien bulan lalu ke meja Direktur Utama pagi ini.”
Anna terbelalak, “A-Apa?!” teriak Anna dengan suara pecah. Air matanya kini mulai tumpah perlahan, merusak riasan ayu yang tadi ia banggakan. Gusti juga menoleh, seakan tak percaya dengan fakta yang baru ia dengar.
“Aku tidak menyangka, kalau seorang Anna yang terkenal dengan kepolosan dan keanggunannya—ternyata hanya wanita murahan yang menjual tubuhnya demi proyek yang tidak seberapa,” ucap Kara penuh penekanan dengan sedikit meninggikan suara. Seolah ingin seluruh dunia tahu betapa busuknya wanita di hadapannya itu.
Kara kemudian bangkit, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Anna hingga napasnya menyentuh kulit Anna.
“Selamat atas pertunangan dan kenaikan jabatanmu, anggap saja ini kado dariku. Dan belum selesai di situ, aku juga mengirimkannya di grup kantor—juga kedua orang tua dan calon mertuamu.”
Kara tersenyum, senyuman kepuasan yang memperlihatkan wajah cantik itu tampak begitu menyeramkan. Lalu jemarinya mengusap lembut pipi Anna.
“Tanpaku, kamu memang bukan siapa-siapa. Dan tanpaku, kamu tidak akan tahu rasanya kehilangan segalanya dalam satu menit saja.”