Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku mendekat perlahan.
Bukan berani, tapi karena tidak bisa menahan diri lagi melihatnya seperti itu, apalagi foto profilnya yang....
Ahh, sudahlah....
Dan kebetulan momennya lagi tepat untuk MASUK. Aku gak mau menyesal seumur hidup. Ditambah lagi aku juga sudah lama tidak merasakan hal ini.
Saat itu napasnya tidak beraturan.
Aku pun menempelnya, sampai lutut kami bertemu.
"Tenang, tarik napas," kataku pelan.
"Pelan aja"
Ia menunduk. Bahunya naik-turun.
Sepertinya ia benar-benar merasa kesakitan, tapi aku tetap melanjutkan.
Suasana terasa… basah oleh emosi.
Aku ragu harus mulai dari mana.
Tanganku refleks terangkat, lalu berhenti di udara.
“Boleh aku…?”
Ia mengangguk kecil.
Aku menyentuh kakinya.
Tegang.
Keras.
Seperti menahan sesuatu dari dalam.
“Padahal aku sudah kasih semuanya.”
Seketika aku menelan ludah, tidak mengharapkan kalimat itu darinya apalagi di momen seperti ini. Tapi itu indikasi yang sangat bagus untuk aku melanjutkan.
Aku mengusap lengannya yang kenyal, pelan, mencoba ritme.
Satu tarikan napas.
Satu hembusan.
Dan di situlah terjadi... :
Prrttt.
Bukan keras.
Tapi cukup.
Tubuhnya langsung kaku. Kami saling menatap.
Air matanya yang keluar, berhenti sepersekian detik.
Lalu… ia menangis, deras.
“Ya Tuhan…” katanya sambil menutup wajah.
“Maaf… maaf banget…”
Aku terpaku.
Aromanya pasti menyusul pelan sebentar lagi, tapi ternyata aku salah.
Di kepalaku, suara jujur yang kejam muncul tanpa izin:
"Pantas diselingkuhi. Kelakuannya kayak begini. Enak banget dia lakuin itu, padahal baru aja dimulai."
Aku berusaha tetap waras.
“Gak apa-apa,” kataku, meski nadaku terdengar palsu.
“Namanya juga… reaksi tubuh.”
Ia terisak lebih keras.
“Ini memalukan…”
“Di depan kamu…”
Ia mengusap hidungnya, menatapku dengan mata sembab.
“Namaku Vina,” katanya lirih.
Hening.
Baru di situ aku tersadar.
Bukan singkatan dari......
Bukan kode untuk......
Bukan apa pun yang selama ini otakku bayangkan: Niat dia membuat nick name itu.
Semua adegan barusan, jatuh ke tempat yang sangat masuk akal.
Aku panik.
Aku harus menyelamatkan momen ini. Jangan sempat ia sadar misi asliku yang sebenarnya.
Aku menarik napas dalam.
Mengencangkan perut.
Mengambil keputusan terbodoh malam itu:
Prrrtttttt.
Lebih lantang.
Lebih jujur.
Aku tersenyum kaku.
“Biar adil,” kataku.
“Biar kamu nggak sendirian.”
Ia berhenti menangis.
Ia menatapku lama.
Sangat lama.
Aku bingung ingin bersikap seperti apa.
Lalu ia berdiri.
“Gila ya,” katanya datar.
“Gue lagi sedih,
dan lo malah… gitu?!”
"Tapi...?"
Di saat aku ingin coba counterattack,
"Iya aku kan gak sengaja, kalau kamu kelihatan niat banget..."
Ia berhasil duluan menyerangku habis-habisan.
Ia pergi. Meninggalkanku di bangku, sendirian, bersama udara yang penuh sesak dan satu kesimpulan pahit:
"Empati itu penting. Tapi jangan pernah berpikir untuk langsung adu Kent*t dengan perempuan di tengah first date."