Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sebuah taman di alam pikiran. Sedang duduk Francesco Petrarch, mengenakan jubah Renaisans dengan karangan bunga laurel yang melingkar di kepalanya. Ia lambat-lambat mengubah rasa sakit dalam alam pikiran menjadi begitu puitis. Hingga ia dijuluki Manusia Renaisans pertama.
Dari balik air mancur taman, Alasdair MacIntyre muncul dengan setelan jas modern, wajahnya tampak sumringah bertemu Francesco Petrarch. Karena ia tau sosok di depannya adalah pelopor humanisme Renaisans, bagian dari sejarah keruntuhan filsafat moral yang ia sebut 'zaman kegelapan baru' moral modern.
Kini mereka duduk berhadapan. Sedangkan aku? Aku tentu lebih girang lagi! Ini adalah mimpi terbaik, bisa menyaksikan dua orang ini berbincang. Mereka kini telah diberikan segala informasi yang diperlukan, tentang Indonesia!
Mari bapak-bapak, biar aku lebih lelap dan nyenyak, mimpi indah tentang 'Indonesia Gelap' ini aku persilahkan.
Sekarang, semakin jelas sosok Petrarch dan Alasdair.
Sedikit terhentak dari suasana puitisnya, Petrach tiba-tiba penuh dengan pengetahuan liar yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
"Tempat ini, ada ketertiban, namun terasa asing. Membuatku teringat kata-kataku sendiri tentang tempus obscurum-zaman kegelapan. Aku menyebutnya demikian karena cahaya kebijaksanaan Romawi dan Yunanai kuno telah redup. Apakah di negeri yang disebut ‘Indonesia’ ini juga mengalami kehilangan seperti itu? Kehilangan naskah-naskah agung, standar estetika, dan kejayaan budaya yang terkikis?" Petrach langsung pada poinnya.
Alasdair masih menyusun pikirannya dengan tenang, lalu menjawab; "Pertanyaanmu khas sekali, dan ini juga moment yang aku tunggu. Bagiku, 'kegelapan' yang utama bukanlah soal kehilangan naskah atau bangunan. Kegelapan dalam After Virtue, yang ku maksud adalah kegelapan moral dan epistemik. Saat sebuah peradaban kehilangan naratif besar yang koheren tentang apa itu kebaikan, keadilan, dan keutamaan (virtue). Yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan konsep yang kita gunakan tanpa memahami dasarnya, seperti lakon yang sedang memainkan naskah cerita leluhurnya yang sudah dilupakan. Di Indonesia, apakah mereka masih memiliki narasi bersama tentang 'orang baik' itu seperti apa? Atau hanya saling teriak klaim moral yang tak terukur?"
"Hmm. Jadi, kegelapanmu lebih dalam lagi. Bukan pada kulit peradaban, tapi pada jiwanya. Menurut pengetahuan kita tentang Indonesia, mereka pernah mengalami periode di mana satu narasi tunggal-Orde Baru-dipaksakan dengan sangat ketat. Apakah itu yang kau maksud?" Petrach mencoba membayangkan situasi zaman yang sesungguhnya asing baginya.
"Tepat! Itu contoh yang bagus. Rezim itu mencoba memaksakan kesatuan artifisial dan keseragaman narasi. Itu bukanlah tradisi moral yang hidup, melainkan pembekuannya." Alaisdair sedikit berhati-hati dengan pengetahuannya tentang Indonesia. Lalu ia melanjutkan, "Yang terjadi adalah fragmentasi. Setelah rezim itu jatuh, yang muncul bukanlah kebangkitan satu narasi, melainkan banyak suara, banyak klaim kebenaran yang saling bertabrakan-nasionalisme, agama, kapitalisme global, lokalisme-tanpa bahasa yang sama untuk berdialog. Itu adalah kondisi Zaman Kegelapan Baru yang sempurna. Mereka bebas, tetapi terdampar di lautan makna tanpa peta."
"Maka, kegelapan di Indonesia, menurut lensamu, bukanlah soal hilangnya naskah kuno leluhur atau candi yang terlupakan, meski itu penting bagiku." Petrach sedikit mengangguk, kemudian ia lanjutkan, "Aku mengerti! Namun, sebab hilangnya kerangka bersama untuk membedakan mana debat yang produktif dan mana yang hanya saling menghancurkan."
".....""
"Kalau begitu, apa cahaya penuntunnya? Bagiku, cahayanya selalu pada pengembalian ke sumber (ad fontes), menggali kembali kemurnian teks-teks klasik untuk menyalakan cahaya yang redup." Tanya Petrach penasaran.
"Cahaya penuntun? Bukan pada pencarian pada masa lalu seperti yang kau bayangkan, Francesco. Tapi pada pembentukan komunitas-komunitas rasional lokal." Alasdair mencoba lebih dalam memahami informasi tentang Indonesia yang ia dapati. Lalu ia melanjutkan, "Di tengah kegelapan besar itu, titik terang hanya bisa dinyalakan dalam kelompok kecil, seperti di kelompok sipil, di kampus, di komunitas adat, mungkin juga di warung-warung kopi. Di manapun selama orang masih bisa berdebat dan hidup berdasarkan tradisi penyelidikan rasional yang spesifik dan hidup."
"...."
"Indonesia mungkin tidak membutuhkan satu narasi yang baru atau narasi dari masa lalu, tetapi perlu merawat ribuan ruang percakapan yang sehat itu. Di situlah cahaya bisa diupayakan kembali." Alasdair tampak puas dengan argumennya.
"Jadi, saranmu lebih sederhana dan lebih radikal daripada saranku. Aku ingin menerangi seluruh teater dengan satu cahaya besar dari masa lampau. Kau justru menyalakan banyak lentera kecil di antara penontonnya, agar mereka bisa saling melihat wajah dan mulai berbicara lagi. Untuk Indonesia yang begitu luas dan beragam, mungkin cara kerjamu lebih masuk akal. Namun tetap, jangan lupakan pentingnya mereka menggali dan memahami puisi-puisi, hikayat, dan naskah agung nenek moyang mereka sendiri. Itu adalah bahan bakar untuk lentera-lentera itu." Petrach mengimbangi.
"Sepakat. Tradisi adalah bahan bakar, bukan museum. Mari kita berharap mereka (Indonesia) dapat menemukan cara untuk tidak sekadar tahu dan menyimpan tradisi, tetapi hidup di dalamnya dan menyelidikinya secara rasional. Itulah satu-satunya cara bertahan dan bangkit dari “kegelapan”, baik dalam versimu maupun versiku." Jawab Alasdair mantab.
Prok, prok, prok, aku reflek tepuk tangan.
Seketika, aku terbangun. Ayahku ternyata yang menepuk lenganku, dan mengguncang tubuhku.
Lenyap sudah sosok Francesco Petrarch dan Alasdair MacIntyre. Dan ini adalah tulisan yang aku susun sejauh ingatanku tentang mimpiku melihat dua sosok filsuf yang akrab dengan konsep 'era kegelapan' versi mereka sedang membahas Indonesia Gelap.
Rasanya, aku ingin bisa kembali ke taman alam pikiran bertemu dengan filsuf lain.
Ah, mimpi apa aku kemarin?
Tamat.