Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Saat semburat matahari muncul, samar-samar terdengar alarm bersahutan, makin lama makin kencang. Di ruang 4x3, satu kasur penuh dengan penghuninya. Rafael, Istrinya, dan dua Anaknya.
Rafael bangun dari tempat tidur dan mematikan alarm dari HPnya. Ia menepuk-nepuk kaki anaknya yang paling besar. "Bangun Nak, sudah pagi, ayo mandi,” ucap Rafael.
Rafael kemudian bergegas mandi, lalu menyeduh kopi untuk dirinya, sambil dibacanya berita yang ia tulis secara berseri di media online. Ia baca pelan-pelan tulisan terbarunya yang muncul pagi ini dengan judul: 'Indikasi Aliran Dana Jaringan Narkoba.'
Anak pertamanya sudah bangun sekarang. Istri Rafael juga sudah berada di dapur, sedang Anaknya yang kedua masih menikmati kasur empuk yang sekarang dikuasainya sendiri.
"Pak, Cerah Sekali Pagi Ini!" Anaknya tampak antusias, karena memang akhir-akhir ini setiap pagi sering mendung dan gerimis.
Rafael dan anak sudah di atas motor bebek. Mereka pun pergi meninggalkan rumah.
Setelah antar anaknya, Rafael menuju warung kopi langganannya. Di jalanan yang ramai dengan orang terburu-buru, tiba-tiba motor Rafael sulit dikendalikan, rodanya tampak tak seimbang, bergetar hebat, dan beberapa detik kemudian bannya kempes kehilangan seluruh anginnya, membuat Rafael harus menepi di bahu jalan.
Tak selang lama, satu motor datang, dengan penumpangnya berboncengan menghampiri. "Ah, ada orang baik, nawarin bantuan nih," pikir Rafael.
Salah satu turun, serta menanyakan, "Apakah bapak Rafel?" Dengan sedikit kebingungan, Rafael menjawab, "Iya, bapak siapa ya?" Orang asing yang masih memakai helm dan masker lalu mendekat, menjulurkan tangan untuk bersalaman, sedang tangannya yang satu berada di kantong jaketnya. Rafael tanpa curiga, menyambut tangan Si Orang Asing.
Dalam sekejap stun gun sudah menempel di pinggul Rafael. Hampir tersungkur, Rafael yang lemas ditangkap Si Orang Asing. Dibopongnya Rafael naik ke atas motor. Kini mereka berboncengan, Rafael di tengah diapit oleh dua Orang Asing. Mereka meninggalkan sepeda motor Rafael menuju ke arah hutan.
Sementara nasib Rafael diujung maut.
Di helipad, yang berada di tengah hutan. Helikopter tampak terbang, dan dari kabin tampak hamparan kebun sawit.
"Tuan, saya akan bantu pemerintah dengan hasil dari hutan sawit ini." El Viejo membuka percakapan.
"Hebat juga ya! Sukses kalian mengelola sawit sekarang, kenapa tidak cari uang dengan cara seperti ini saja?" jawab Javier, seorang pejabat di wilayah Lembah Suma.
"Hahahaha ... Tuan mau bisnis ini? Kalau mau, kita bisa atur bagian untuk tuan," tawar El Viejo.
"Bagaimana?!" jawab Javier singkat.
"Aku atur urusan sawit tuan, tuan bantu aku atur keamanan ekspedisi coca (kokain), juga pastikan tacha (ekstasi) di klub malam aman." El Viejo bicara dengan nada datar.
"Begini boss, pertama, saya tak pernah mengganggumu. Kedua, saya tak mau berurusan dengan urusanmu. Ketiga, soal bagianku, itu tak perlu," jawab Javier.
"Ini bukan tawaran ya tuan." El Viejo diam sejenak, lalu melanjutkan lagi, "Besok akan muncul berita tewasnya seorang wartawan yang akhir-akhir ini ikut campur urusan kami. Begitulah di dunia ini, akan selalu ada harga yang harus dibayar." El Viejo bicara dengan dinginnya.
Javier sedikit mendorong tubuhnya ke belakang, "Apa maksudmu? Kamu mengancamku?"
"Javier yang terhormat, aku peduli tentang anda, tentang negara ini, kita dalam tujuan yang sama, jadi kita bisa bekerja sama membangun wilayah ini, saling menguntungkan, dan tentu saja tanpa rasa kekhawatiran." El Viejo mengamati ke arah pintu helikopter di sebelah Javier, sebuah panel logam besar yang hanya dikaitkan dengan dua pin pengaman sederhana, standar untuk pekerjaan survei perkebunan.
"Tiba-tiba, BRAKK! Pintu yang rentan itu terjungkal di antara langit dengan sekali tendang. Angin kencang mengguncang kabin. Pilot sempat kesulitan mengendalikan heli yang oleng.
Dengan wajah tegang, Javier coba mengontrol dirinya. Dia mengubah posisi duduknya, kini agak merapat ke arah El Viejo.
"Apa-apaan ini?" Javier kembali menoleh ke El Viejo sambil berpegang pada ujung-ujung kursi.
"Kita bisa selesaikan kesepakatan ini, kemudian turun ke bawah dengan jumlah yang sama seperti saat kita berangkat, tanpa kurang apapun. Atau, Tuan bisa turun sekarang," jawab El Viejo dingin, tak mengindahkan raut tegang Javier.
"Baik, aku butuh lebih banyak daripada bagianku dari sawit. Lalu, aku perlu pastikan kegilaanmu ini tak kau lakukan kepada orang-orangku. Ketiga, aku perlu kekuatan dan dukunganmu agar aku bertahan duduk di pemerintahan." Javier memberikan syarat.
"Hahahaha," suara tawa El Viejo menggelegar terbawa helikopter yang bermanuver berbalik menuju helipad.
Sementara suasana Lembah Suma mencekam.
El Viejo berada di ruangannya membaca berita tentang wartawan yang terbunuh, dengan kondisi termutilasi, ditemukan di pesisir laut. Jauh dari sepeda motornya yang ditemukan terpisah.
Tok, tok, tok ... suara ketukan pintu dari luar.
Tampak Marino, seorang bankir yang sekarang kerja dengan El Viejo mengatur keuangan bisnis legal dari Los Suma (Kartel Narkoba).
"Bagaimana Marino? Kondisi Palma De Suma (Perusahaan Sawit milik Los Suma)? Caramu taruh uang kemarin terlalu sederhana, sehingga anjing bisa mengendusnya," bicara El Viejo datar.
"Kami sedang dalam fase layering yang ketat, Bos. Bisnis-bisnis kita akan menerbitkan faktur atas 'jasa konsultasi', 'pengiriman barang', 'sewa lahan', dan lain-lain dengan angka yang sudah diatur.”
Sambil menunjukan dokumen, Marino lanjut menjelaskan, “Kami juga sedang melakukan pendekatan investasi kepada publik figur dan kerjasama hibah kepada tokoh-tokoh masyarakat yang masih dalam jaringan kita Bos.”
El Viejo tampak sedikit mengangguk, sambil memandang Marino.
“Akan saya pastikan transaksinya lebih kompleks dan berputar di jaringan kita, rapi dan tidak mengundang kecurigaan. Uang kita akan bersih dan aman di bank." Marino menjelaskan dengan memberikan dokumen-dokumen yang ia bawa.
"Bagus Marino, Pastikan uang kita masuk dan keluar secara normal melalui bank-bank yang terhormat itu." El Viejo sedikit menekankan suaranya.
"Bos, bagaimana kalau kita membuka sektor-sektor lain, seperti peternakan, kuliner, hingga wahana wisata. Saya punya relasi untuk mewujudkannya dengan mudah," tanya Marino.
"Itu adalah strategi yang bagus! Pastikan semua yang terlibat adalah bagian dari jaringan kita. Jangan sampai ada hal-hal yang mencurigakan lagi. Dan jangan lupa, urus si Javier," tegas El Viejo.
Marino mengangguk, lalu berbalik hendak keluar. Namun dia berhenti. "Bos ... soal wartawan itu. Polisi sudah mulai bertanya ke orang-orang di warung kopi langganannya."
El Viejo tak bergeming. "Itu sudah urusan Javier. Dia yang harus memastikan polisi melihat yang kita mau mereka lihat."
Setelah Marino keluar.
El Viejo menghubungi Pintones; pimpinan Los Suma, "Hola Pintones! Semua sudah beres! Pengiriman bisa kita jalankan lagi seperti sebelumnya!"
"Baik Pintones, sepulang liburan dari Bali, saya akan langsung mengurusnya." Telepon ditutup El Viejo.