Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Selamat Ultah, Bocil!
5
Suka
31,499
Dibaca

"Mengapa aku yang selalu ditumbalkan sih, Ma?" gerutu Rian.

Mamanya membiarkan anaknya cerocos sana-sini. "Cah lanang kok gitu? Tumbal apanya. Lupa ada namanya tolong menolong?"

"Mama lupa ada kata 'kesusahan'?"

"Siapa yang kesusahan?"

"Aku lah, Ma."

"Kamu mah malas, mager, kupu-kupu, Le. Sudah sono bantuin Tante Kania."

Rian mendengus. "Mama Sulastri nggak sayang abang!"

"Oh? Mau ngambek ala Fathar? Mau mama buang gitarnya?"

"Siap Mama! Meluncur ke tkp!" seru Rian kabur.

Sesampainya di rumah Kania, Rian ogah-ogahan menyusun pernak-pernik untuk ulang tahun Fathar. Si ayah Fathar sibuk bakar ikan patin di teras, sedangkan Kania di dapur membuat kue.

"Om, fathal hali ini ulang tahun, lho," kata Fathar menatap binar ke Rian.

"Iya tau."

"Om nggak ucapin selamat ulang tahun ke Fathal?"

"Nggak."

"Kenapa?"

Rian agak kesusahan meniup balon merah. "Nanti lah bareng bocil-bocil lain."

"Om!" ucap Fathar tersenyum memamerkan giginya.

"Apa lagi?"

"Om ngapain?"

Rian menyipit. "Niup balon. Angka berapa balon ini?"

"Lima?"

"Betul sekali."

"Buat ulang taun Fathal ya?"

Senyum jahil Rian mengembang. Dia menepuk kepala Fathar. "Bukan buat Fathar."

"Buat Fathal!"

"Bukan."

"Kata bunda, buat Fathal!" Fathar ngotot.

Rian tersenyum menahan tawa. "Itu kata bunda. Kalau kata om balon ini buat yang lain."

Air mata Fathar mulai menggenang. "Fathal gak sayang om! Bunda!!!"

"Cup cup cup Fathar jangan nangis ya?" goda Rian.

Kania datang dari dapur tergopoh-gopoh sambil membawa pisau. Dia mendesah melihat Rian dan Fathar. "Ada apa, nak?"

Fathar menunjuk Rian. "Bunda! Kata Om balon-balon itu buat temen-temen!"

Kania melirik ke Rian. Rian mengangguk. "Iya kan. Nanti dibagi-bagi ke bocil-bocil lain."

Seketika Rian melihat pisau mengkilap di tangan Kania sontak berkata, "Sebentar ya bundanya Fathar, saya bikin surat wasiat dulu. Dan list permohonan maaf dua qirath ke mama Sulastri."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~
Herman Siem
Flash
Selamat Ultah, Bocil!
Ralali Sinaw
Cerpen
Bronze
Sebilah Parang dan Tugas Terakhir Paman Ahdi
Habel Rajavani
Novel
Titik Terang
Adira Putri Aliffa
Flash
Delusi Cinta
Ilestavan
Flash
Memori Berduri
Edelmira (Elmira Rahma)
Flash
KADO
Cassandra Reina
Flash
Bronze
Kala Sains Sebatas Pratikum Politik Jilid 2
Silvarani
Flash
Bronze
Radio Kuna Kunawi
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Diam yang Berbicara
muhaibra
Novel
Gold
Gadis Jeruk
Mizan Publishing
Novel
ketika harapan menjadi luka
eneng aisah
Skrip Film
Before I Cross The River
Rahmat Gunawan
Flash
Pejalanan
Selvi Diana Paramitha
Flash
Jam Malam
Alifia Sastia
Rekomendasi
Flash
Selamat Ultah, Bocil!
Ralali Sinaw
Flash
1 Pesan Baru
Ralali Sinaw
Flash
Hari Ini, Aku Sadar
Ralali Sinaw
Flash
Angan Selintas
Ralali Sinaw
Cerpen
Nada dan Canda
Ralali Sinaw
Skrip Film
One of The Finest Memories
Ralali Sinaw
Flash
Spidol Biru
Ralali Sinaw
Flash
Bubar dari Resepsi Nikahan
Ralali Sinaw
Skrip Film
Sejak Juni Menjadi Dingin
Ralali Sinaw
Novel
BYSTANDER
Ralali Sinaw
Novel
Badal Haji
Ralali Sinaw
Novel
Bronze
Spill the Tea?
Ralali Sinaw
Flash
Andai Aku Bisa
Ralali Sinaw
Flash
Kisah Masa Lalu
Ralali Sinaw
Skrip Film
Blok E
Ralali Sinaw