Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Mobil Pembawa Pesan
2
Suka
37
Dibaca

"Hah? Lima puluh juta? Tanda jadi mestinya lima juta cukup," kataku kaget sambil menatap tiga orang yang berdiri di depanku ini.

Mulutku berhenti bicara ketika melihat dua ganteng dan si cantik, anak beranak itu, tersenyum dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan. Namun pikiranku tak berhenti membuat skenario, bagaimana kalau mereka kena tipu?

"Uangnya Sulung masih di PayPal, baru cair dua hari lagi, jadi hari Sabtu nanti kita ke Surabaya lagi, bayar kekurangannya sekalian ambil mobilnya," kata suamiku. Sulung, anak gantengku yang sudah dewasa dan mapan itu dengan antusias bercerita tentang si penjual mobil yang kata mereka baik banget.

"Ibu nggak usah khawatir, ini dengan pemiliknya langsung, bukan makelar, beliau orang yang baik, sangat baik malah, tadi mengajari Bapak menyetir mobil matic, putar-putar gitu," kata Sulung. Pikiranku masih membayangkan berbagai skenario.

"Mobilnya gini," kata si cantik sambil menunjukkan dua jempolnya. "Warnanya silver, persis yang diinginkan Mas Sulung," lanjutnya.

"Iya, mobilnya bagus banget loh. Kilometernya masih tiga puluh lima ribu, tahunnya dua ribu dua puluh dua," kata suamiku.

"Kilometernya mobilnya Bapak delapan puluh ribuan, padahal mobil tahun dua ribu dua puluh tiga," timpal Sulung sambil tertawa, menunjukkan giginya yang gingsul.

Keduanya lalu bercerita tentang kebaikan-kebaikan si bapak penjual mobil, sedangkan si cantik pilih masuk kamar dan bercengkerama dengan komputernya.

Cerita suamiku, saat pulang, bapak penjual mobil menunjukkan warung bakso terenak di daerah itu, maka ketiga orang itu pun makan di sana. Tak disangka, bapak penjual mobil itu datang dengan berjalan kaki, mengantar payung yang ketinggalan.

"Baik banget 'kan? Padahal cuma payung, dibela-belain jalan kaki," kata Sulung.

"Pokoknya nggak usah khawatir, Dik," kata suamiku meyakinkanku lagi, seperti meredam si overthinking ini.

Mereka berdua terus saja bercerita tentang mobil itu, bagaimana tawar menawar yang terjadi, tentang betapa enaknya tempat duduknya dibandingkan dengan tempat duduk mobil suamiku. Sedangkan aku, mendengar sambil melanjutkan overthinking!

Sabtu pagi tiba.

"Mas jam berapa ke Surabaya?" tanyaku ketika melihat suamiku masih belum mandi.

"Nggak jadi hari ini, ternyata PayPal-nya Sulung belum bisa dicairkan hari ini, cairnya Selasa depan."

"Hah? Lama sekali."

"Nggak tahulah, kata Sulung ada perubahan aturan. Tapi hari Rabu orangnya ke Malang, jadi sekalian ngantar mobil."

"Ooh, begitu ya."

Malamnya aku begitu resah memikirkan PayPal Sulung. Apalagi kata Sulung, uangnya di PayPal tidak bisa dicairkan semua, hanya bisa dicairkan enam puluh juta saja, padahal kekurangan untuk membayar mobil masih seratus empal puluh tiga juta, jadi Sulung musti nyari pinjaman teman-temannya dulu untuk menggenapkan uangnya.

Prasangka burukku tentang si penjual mobil sudah hilang, keresahan baru pun datang. Andai aku dan suami punya uang sebanyak itu, tentu Sulung tak usah repot mencari pinjaman. Andai sistem di PayPal tidak berubah, andai ini, andai itu. Begitulah pikiranku bermain-main sampai susah tidur.

Daripada hanya membolak-balikkan tubuh di tempat tidur tanpa bisa tidur, akhirnya kuputuskan untuk salat malam saja. Aku pun mengambil air wudhu dan menumpahkan segala perasaanku di atas sajadah. Aku bertanya pada Tuhan, harus bagaimana menghadapi situasi ini?

Dalam keheningan malam, dalam keheningan pikiran dan perasaanku, malam itu aku tercerahkan.

Ternyata reaksi terbaik saat menghadapi berbagai peristiwa adalah bersyukur, bukan mempertanyakannya, bukan khawatir, bukan berandai-andai. Ya, bersyukur apa pun peristiwanya, karena setiap peristiwa membawa pesan, dan setiap peristiwa menyingkap dengan jujur pikiran dan perasaan bengkok yang harus diluruskan.

Peristiwa adalah alat bantu untuk mengenal diri sendiri apa adanya, jadi aku pun berterimakasih untuk peristiwa ini. Setelah rasa terima kasih muncul di hati yang terdalam, muncul petunjuk berikutnya.

Ternyata imanku salah selama ini, ternyata aku tidak beriman pada kalimat "Allahlah yang mengendalikan segala urusan" karena aku masih beriman pada manusialah yang mengendalikan PayPal.

Bila aku beriman pada Allah yang mengendalikan segala urusan, berarti aku tak perlu khawatir, karena Allahlah yang mengendalikan PayPal, Allahlah yang mengendalikan manusia-manusia yang berada di belakang PayPal.

Oh, ternyata itulah pesan dari peristiwa pembelian mobil dengan segala dramanya. Aku berterimakasih pada Allah yang telah menganugerahkan kepadaku pengertian-pengertian indah ini.

Apa yang akan terjadi besok, itu sudah tak meresahkan hatiku lagi, karena aku sudah menangkap pesanNya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Mobil Pembawa Pesan
Innuri Sulamono
Flash
Bronze
Bidadari di perpustakaan
ani__sie
Novel
Beautifull stranger
sk_26
Cerpen
Bronze
Tidak Mengenal Usia
Rafi Asamar Ahmad
Novel
Bronze
Butiran Tasbih Arini
Diyah Ayu NH
Novel
Bronze
SUAMI DARI SURGA
KUMARA
Novel
Bronze
A Miracle (Luka Hati Faris)
Zainur Rifky
Skrip Film
Assalamu'alaikum, ayah
deru senja
Novel
SELEPAS AKAD DENGANMU
Lail Arrubiya
Novel
Bronze
HARUN HILWA
Daud Farma
Novel
Bronze
Sekolah SMA Za-Za
tettyseptiyani02
Novel
Gold
Cinta Suci Zahrana
Republika Penerbit
Flash
Berkawan dengan malam
Lentera jingga
Cerpen
Bronze
Titipan Rindu
Rinz Sugianto
Novel
Bronze
BLANK SPACE
achmad andy rifai
Rekomendasi
Flash
Mobil Pembawa Pesan
Innuri Sulamono
Novel
Bulan Madu yang Tertunda
Innuri Sulamono
Cerpen
Setelah 39 Tahun Kemarau
Innuri Sulamono
Cerpen
Bronze
Dusta Ternoda
Innuri Sulamono
Novel
Utuh tak Berjeda
Innuri Sulamono