Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
AKU TIDAK MENGERTI CARA JATUH CINTA!
0
Suka
15
Dibaca

“Siapa cinta pertamamu Pim?”

Aku terdiam cukup lama ketika Mais bertanya padaku tentang itu. Sangat lama sampai aku merasa durasi waktu yang temanku berikan habis, lalu menguras kesabarannya.

“Aku masih kecil. Jika nanti sudah besar, akan kuberitahu,” jelasku dengan nada bercanda.

“Kecil bagaimana? Kau sudah sebesar ini, buah dadamu juga sudah muncul begitu,” keluh Mais mengerucutkan bibirnya.

Aku benci seorang pria. Mungkin karena seseorang pernah menjejali ludahnya ke mulutku saat kecil. Melumat pipiku tanpa izin sehingga bau mulut bagai bangkai itu masih membekas dalam ingatanku. Sampai seseorang datang mengunci perhatianku dengan durasi yang tidak tahu kapan habisnya.

Hari itu hujan, cukup deras sampai aku tidak sekali pun beranjak dari tempatku berdiri. Karena halte bus sempit, beberapa orang mulai berhimpitan menghindari percikan hujan. Seakan terkena sedikit saja, itu bisa membunuh mereka.

Terkecuali pria itu. Rambutnya sedikit berantakan, dengan potongan pendek yang dibuat berlapis dan tipis ke belakang mengikuti bentuk kepala. Sementara bagian atasnya dibiarkan bervolume dengan celah ditengahnya. Kemejanya kusut dan celana jeansnya seperti sudah ditambal beberapa kali. Pria itu hanya menatap bagaimana tetesan hujan itu reda, mengabaikan tentang betapa gaduhnya orang-orang dibelakang, membicarakannya kedua tangannya yang membengkok. Saat itu aku berpikir, “Ah dia sama tidak sempurnanya denganku.”

Kata orang, menariknya dari sebuah takdir adalah bisa bertemu orang yang sama dengan cara tidak terduga. Dan itulah yang terjadi padaku. Aku bertemu dengan pria itu sekali lagi. Saat itu kelas analisis bahasa, aku sekelompok dengannya. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Lian Tanggrau.

Tidak kusangka Lian banyak bicara. Namun kenapa aku tidak bisa memalingkan wajahku darinya? Padahal sebelumnya aku tidak pernah berani menatap seorang pria. Bahkan dekat pun enggan.

“Lian itu tampan. Tapi sayang sekali ia …,” Mais menggantung ucapannya dan ia mulai ragu. Aku bisa tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“Sebaiknya simpan sendiri pendapatmu. Tidak semua hal bisa kau utarakan, meski kau punya hak untuk itu,” ujarku dengan dingin. Mais terperangah ketika mendengar ucapanku. Aku pun tidak mengerti kenapa bisa seketus ini. Rasanya menyebalkan ketika mendengar Mais mengomentari fisik Lian.

Aku tidak mengerti dengan perasaanku. Sesuatu berkecamuk dalam dadaku, sehari saja tidak melihat Lian membuatku gelisah. Gelenyar aneh dalam hatiku seperti akan membunuhku jika tidak kukeluarkan. Meski aku tidak paham, apa yang harus aku utarakan pada pria itu.

Aku mengamatinya diam-diam dalam radius yang kuanggap aman, sehingga orang lain tidak akan menganggapku penguntit aneh. Aku akan duduk di tempat ia duduki sebelumnya, semua tempat yang ia kunjungi, aku akan pergi kesana juga. Aku ingin tahu bagaimana cara ia melihat dunia.

Detail-detail kecil tentang Lian, aku mengetahuinya. Lian adalah pendengar yang baik, ia menghargai wanita, terbukti ketika aku dengannya terjebak di lift. Pria itu tidak memandangku dengan ganas dan mengambil kesempatan untuk melecehkanku. Lian sangat suka makanan dengan bahan dasar keju dan susu, dan selalu membawanya sebagai makan siang ketika di kampus. Saat Lian bicara, kedua tangannya akan naik turun, aksennya yang khas dari wilayah tertentu itu membuat ia gampang dikenali.

“Apa kau bisa jelaskan bagian ini?” tanya Lian ketika mata kuliah morfologi.

“Ada beberapa imbuhan yang mengalami perubahan begitu bertemu dengan huruf tertentu, dan itu disebut dengan morfofonemik …, seperti ini,” jelasku sambil menunjuk bagian yang sudah kutebali dengan stabilo berwarna jingga. Jantungku berdetak, aku tidak pernah melihat Lian dalam jarak sedekat ini. Aroma citrus tercium dengan campuran kayu kering yang tidak terlalu berat.

“Seperti jatuh cinta ya,” celetuk Lian tersenyum.

“Eh?”

“Ketika kata dasar bertemu dengan imbuhan, maka huruf yang tadinya tetap menjadi luluh dan berganti. Bunyi dan perannya juga berubah, entah menjadi kata kerja atau pun kata sifat …,” senyum tipis terbentuk dari sudut bibir Lian, dengan sorot mata yang tertuju pada buku catatan milikku, “maka hal sama pun terjadi pada seseorang saat jatuh cinta, ia berubah dan menyesuaikan dirinya, untuk bisa menyamakan pandangan dan berjalan dengan orang yang dicintainya,”

Kedua mataku melebar, pikiranku terbuka menjawab kebingungan dari pertanyaanku selama ini. Sontak aku terkekeh, Lian pun menoleh padaku dengan heran.

“Ada apa?”

“Aku seperti orang bodoh akhir-akhir ini. Seseorang mengunci perhatianku, aku tidak bisa berpaling darinya meski sebentar saja. Ketika aku berada didekatnya, aku menjadi lebih bersemangat dan percaya diri. Setelah mendengar penjelasanmu, aku pun jadi tahu penyebabnya,” jelasku tanpa rasa canggung. Biasanya aku akan gugup ketika bicara dengan seseorang. Namun dengan Lian, aku justru bisa mengutarakan pendapatku.

Lian terdiam beberapa saat, lalu ia tersenyum.

“Sama aku juga. Aku tidak pernah dilihat siapapun, semua melihatku karena rasa kasihan atau penasaran mengapa tanganku seperti ini,” Lian mengacungkan kedua tangannya, seolah menunjukkan sisi tidak sempurnanya.

“Tapi ada satu orang yang mengabaikan itu. Justru ia lebih penasaran pada sisiku yang lain, ia mengikutiku seperti bayangan, duduk ditempatku ketika aku pergi dan mengunjungi semua tempat yang aku pernah datangi,”

Aku meneguk lidah, rasa takutku mulai menjalar dalam diriku. Mungkinkah aku ketahuan olehnya? Apa yang harus aku lakukan ketika ia membenciku dan memutuskan menjauh?

“Aku sempat takut, karena bisa saja ia penguntit. Namun ternyata yang ia ikuti bukan aku, melainkan caraku hidup dan melihat dunia. Ia duduk sambil menggumamkan sesuatu semacam jadi beginilah cara Lian melihat orang lain,” lanjut Lian menatapku. Bukan tatapan kecurigaan, melainkan tatapan lembut yang ia tunjukkan padaku.

“Apa yang akan kau lakukan padanya? Apa kau akan membencinya?”

“Aku ingin mencintainya dan menghadapinya dengan benar,”

Aku terdiam dengan detak jantung yang lebih kencang dari biasanya. Suaraku tidak keluar, seolah tercekat ditenggorokan. Lian mendekatkan wajahnya, aku bisa merasakan napasnya menyentuh lembut pipiku.

“Lalu apa yang akan kau lakukan pada orang yang mengunci perhatianmu itu?” tanya Lian dengan suara hampir berbisik.

Aku tidak mengerti cara kerja jatuh cinta. Tentang bagaimana hal itu bisa membuatku sesak dan bersemangat disaat yang sama. Namun aku tidak punya pilihan untuk mundur, aku ingin mencoba sekali saja seperti perempuan lain yang memperjuangkan cinta impiannya.

“Aku akan mencintainya. Tidak lagi mengikutinya seperti bayangan dan menghadapinya dengan benar,” jelasku dengan yakin.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Still Love You
Eka Septiani
Novel
Playlist Patah Hati Kalingga
irma nur azizah
Flash
AKU TIDAK MENGERTI CARA JATUH CINTA!
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Bronze
Perempuan Idaman
Mochammad Ikhsan Maulana
Cerpen
Bronze
Sutinah Sang Penghibur Malam
Priyo Setioko
Cerpen
Cinta Kedua
Panji Pratama
Cerpen
LALI
Rizky Anna
Cerpen
Kisah Kasih Di SMA
Puji sukma dewi
Novel
Bronze
Melody Chronos
Noffia Ferawaty
Novel
Bronze
Cinta Pertama Selalu Menyakitkan
Fitriya
Skrip Film
LANDRA
Audhy R.H
Flash
Hok Lo Pan untuk Tjen
Denik a nuramaliya
Flash
Just Friend?
Ang.Rose
Flash
PAMIT
Hans Wysiwyg
Cerpen
Encounter
Davian Mel
Rekomendasi
Flash
AKU TIDAK MENGERTI CARA JATUH CINTA!
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Pelelangan
Linggarjati Bratawati
Flash
Yang Gila Disini Siapa?
Linggarjati Bratawati
Novel
Hata-Hata Ni Dodo
Linggarjati Bratawati
Flash
AKU SUDAH BERJANJI
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Kāma-Manas
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Dogma
Linggarjati Bratawati
Cerpen
In Ternebris
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Destinasi Wisata Nirwana
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Sintak Mangilas
Linggarjati Bratawati
Flash
DISKUSI
Linggarjati Bratawati
Skrip Film
Jika Bunuh Diri Tendang Saja Kakiku
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Orleander
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Laki-laki Hijau
Linggarjati Bratawati