Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Sejarah
Rakyat terpinggir
5
Suka
130
Dibaca

"Bu, ayah pergi kemana?" Tanya Kumala

Keriput di wajah wanita yang hampir menginjak setengah abad itu nampak kusut, ia tidak mungkin mengatakan, bahwa sang Ayah, mencari sayur sisa di pasar dan tukang masak. Keringat dingin membasahi wajahnya.

"kerja nak, supaya kita bisa makan hari ini." Wajah keriput Ibu tersenyum tipis, tak ia hiraukan tubuhnya yang bergetar menahan lapar dari pagi ke pagi.

Ibu kembali menjahit baju seragam SMA herman yang bolong di ketiaknya, baju peninggalan anak bu lastri, masih nampak bersih walaupun terlihat usang.

"Abang pasti suka, bajunya kan udah bagus lagi." Celoteh riang Kumala, gadis itu mengaris warna indah di sketch booknya.

Ibu tersenyum tipis, sebenernya ia menahan lapar karena tidak makan malam. Dengan berbekal air hangat dan gula mungkin bisa meredakan rasa laparnya. Toh, orang dewasa lebih bisa menahan lapar. Ia berdoa semoga suaminya membawa uang yang cukup untuk makan malam hari ini. 

Karena besok bisa di cari lagi, Kumala berbaring di kasur mereka yang tipis, jaraknya hanya dua puluh senti-meter menyentuh tanah.

Ia menyesap pelan air gula hangat di depannya, Tangan Kumala berhenti mengarsir gambaran di hadapannya. Bibir pucat gadis sepuluh tahun itu terkatup rapat.

"Kenapa, nak?" Ibu memperhatikan gerak-gerik Kumala, gadis kecil itu nampak gusar karena, ia merasa pertanyaannya mungkin akan menyakiti sang Ibu.

"Bu, kenapa kita terlahir miskin?" Tanya kumala kemudian, tangan anak kecil itu kembali mengoreskan garis lengkungan spektrum warna jingga yang nampak indah dalam gambar yang ia ciptakan, rasa haus Kumala akan pertanyaan kehidupan mengrogoti ibu.

"Tidak ada orang yang berkeinginan terlahir miskin, nak. Sudah takdir." Ujar ibu kemudian, ia kembali fokus pada jahitannya, ia secara gamblang menjawab pertanyaan kumala.

"Takdir, artinya tuhan kejam yah bu?" Tanya Kumala masih berkutat dengan pensil warna miliknya.

 "Tuhan buat kita miskin, sedangkan orang lain kaya, mereka tidur di kasur yang hangat. Kasur kita tipis, kadang juga harus di tambal dan di jemur biar mengembang." 

Ibu terperangah, darimana gadis kecil itu belajar kata-kata itu. Ia diam dan memperhatikan Kumala sesaat. "Lantas, Kumala ingin jadi kaya raya?," Tanya ibu tersenyum. "Gadis itu mengangguk.'

Andai ia tidak menikah dengan Brama, sang Suami dan tetap meneruskan pendidikannya hingga tuntas -Bahkan, tidak hamil duluan; kehidupanya akan terjamin dan layak.

Herman dan Kumala adalah hasil cinta terlarang dari Brama serta Nida. Mereka berdua kabur dan merintis sejak SMA, sayangnys Hemran kalah di meja Judi.

ia hanya tinggal di rumah bobrok di sudut kota Jakarta, bertetanggan dengan Darmi, pemulung paruh Baya yang tengah asik menonton tv tabung di dalam ruang tamunya, rumah seluas delapan kali lima itu terasa sempit untuk mereka ber empat.

Herman keluar dari pintu kamar, ia mendengar percakapaan Kumala dan Ibu dari dalam, ia mengigit bibirnya. '

"Ayah beda sama Ayahnya Dina, mereka beli lemari baru, mala mikir kenapa ayah ga nabung aja. Biar gausah sering nambal genteng dapur yang kayak air terjun kalau hujan."

Hening, celoteh riang kumala berhenti menyisakan rasa perih di dada.

setelah di pikir lagi bukan keadaan yang menyebabkan hal itu terjadi; kebodohan, apakah ini salah pemerintah karena kebutuhan mahal dan tidak ada pendidikan yang menjamin untuk lulusan SMA akan mendapatkan kerja yang layak, menjadi buruh kasar, demi sesuap nasi, yang penting halal sudah cukup

"Jangan ikutin gaya hidup teman-teman sekolah mu, kumala." Tegur wanita yang lebih tua yang berada di depan tv tabung di ruang keluarga itu suara Bu Imah, wanita yang paling tua di dalam keluarganya itu.

 "Ini tuh salah pemerintah, ga becus buat rakyatnya, bikin melarat. Enak jaman nenek dulu, masih jaman pak harto." 

"Jaman pak harto enak, bahan pokok murah." Jelas nenek pandanganya masih tertuju pada serial drama percintaan yang sedang panas pagi itu, dengan secangkir teh hangat dan ubi rebus sambel terasi di depannya. 

Kumala menatap nenek sesaat, "Emang zaman suharto, se keren apa nek?" Tanya gadis belia itu, ia buta sejarah.

Ini menarik; karena neneknya hidup lebih lama darinya. "Petani sejahtera." Jelasnya. "Terus kerusuhan dimana-mana." Lanjutnya lagi. 

"Lalu dimana letak sejahteranya, masa dari bahan pokok murah sih nek?" Tanya Kumala, wanita tua itu tidak bisa menjawabnya. 

"Yah karena pemimpin layak di takuti, mengikuti perkembang jaman sekarang pemimpin juga bagus, tapi menurut nenek kehilangan martabatnya.

Herman terdiam, ia mendengar penuturan nenek, ia sedikit terkejut dengan kritikan pedas sang nenek.

Rintik hujan membasahi genting rapuh dirumah tua ini, herman melihat sang Ayah pulang dengan wajah sumringah. '

"Ayah bawa sayur masak ayo di kita makan, kita bisa makan enak hari ini."

Herman membawa ke dapur satu kresek merah yang di bawa ayah, ia tersenyum kecut saat melihat beberapa sayur yang layu dan menghitam, wortel yang sudah menghitam pinggirnya dan beberapa bungkusan sayur yang masih hangat tapi sedikit berbau. 

"Basi." Pekik Herman tertahan, sayur yang ada di dalam bungkusan itu basi, setengah berbau tapi di hangatkan lagi. Bagaimana ia memberitahukan jika sayur ini sudah tidak bisa di makan; binatang liar belum tentu mau makan, ada sisa potongan Ayam yang sedikit berbau dan membiru. 

Herman menyeka airmata nya perlahan, ia membuang sayur itu di dalam tong sampah.

Herman mengambil handphone jadul di sakunya, ia ketik nama Anto di pencarian dan menelponnya. Suara pria khas dialek surabaya terdengar saat telpon itu tersambung di dering ke 3.

"Hallo, Anto, gua Herman. Gua terima tawaran lu." Ujarnya pasrah, daripada sang Adik sekolah tidak layak, sepatu yang ke kecilan hingga kakinya lecet.

"Lu ga masalah, kerjaan kita berat di uber-uber polisi. Jadi pengedar tuh berat bro."

Ia menatap rumahnya yang bobrok. Mungkin ini jalan dari Tuhan, setelah menjadi pengedar mungkin uangnya bisa di gunakan untuk biaya renovasi rumah.

Suara Anto terdengar dari luar, ia membawa beberapa bungkus makanan dari luar katanya habis dapat aji mumpung.

Tekad herman sudah kuat, ia akan menjadi pengedar, ia tidak akan diam saja melihat sang Adik kelaparan di bawah tekanan Rezime pemerintahan yang pelik.

"Bu, yah, aku sama Anto pergi dulu yah, mau cari kerja." ujar Herman dengan tekad bulat ia berharap, semoga banyak anak sekolah yang membeli ganja yang di linting seperti rokok. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (6)
Rekomendasi dari Sejarah
Flash
Rakyat terpinggir
Reveniella
Flash
Penjara Aktivis
Reveniella
Novel
Bronze
PARADESHA
Rida Fitria
Cerpen
Sunan Drajat
Mahmud
Novel
elvora -lika liku luka
quennaer
Novel
Bronze
Satru Mataram [Sepasang Pendekar Pedang Cinta]
Sri Wintala Achmad
Novel
Gold
Markesot Belajar Ngaji
Bentang Pustaka
Flash
Ku kubur hatiku di padang ilalang
Lentera jingga
Novel
Bayangan Kuntilanak
Risti Windri Pabendan
Novel
DIKEJAR DOSA
Donny Sixx
Flash
1983. Kesaksian
Nur Rama Data Kapentas
Novel
Bronze
Menikah dengan Pria yang Membenci Ibu Kandungku
Okhie vellino erianto
Novel
Bronze
Langit Berdarah
Amelynzah
Novel
Gold
Flying High
Mizan Publishing
Novel
Tahu-tahu Jodoh
anonymous pout
Rekomendasi
Flash
Rakyat terpinggir
Reveniella
Flash
Penjara Aktivis
Reveniella
Novel
Ruang Abu-abu
Reveniella
Novel
First place in my heart
Reveniella
Novel
Neskara
Reveniella
Novel
Venchouva
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Cerpen
HARDARIYAM
Reveniella
Cerpen
Hadriyam (2)
Reveniella
Flash
Wanita metropolitan
Reveniella
Flash
Apakah Aku Pantas Dicintai?
Reveniella
Novel
Lily and the mask
Reveniella
Flash
Anggap Aku Rumahmu
Reveniella
Cerpen
Laki-laki Tidak Bercerita
Reveniella
Flash
Lanang
Reveniella