Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di tahun yang paling diingat warga Indonesia: 1945.
Saat sebagian wilayah Eropa masih berupa puing. Tiga pemimpin dunia berkumpul di Cecilienhof, Potsdam, Jerman sejak 17 Juli.
Stalin, Truman, dan Churchill berdebat tentang bentuk dunia pasca perang yang legendaris; Perang Dunia ke II.
"Tuan-tuan, setiap hari perang di Pasifik berlanjut, artinya lebih banyak nyawa prajurit kami yang hilang. Kesepakatan kita ini harus dipatuhi." Truman bicara dengan suara datar namun penuh keyakinan.
Churchill menyadari sesuatu dalam nada Truman. Ia menjawab, "Kesepakatan ini jelas, Mr. Presiden. Dan seperti yang kita tahu bersama, Jepang bertahan di Okinawa dengan harga yang mengerikan, Invasi ke kepulauan mereka adalah biaya yang mahal. Kita butuh kekuatan dan dukungan yang sepadan."
Truman menatap Stalin, dengan keyakinan, ia tegas bicara, "Invasi mungkin tidak perlu. Kami sendiri yang akan mengakhiri perang ini dengan segera. Dengan cara kami, tanpa perlu mengorbankan ratusan ribu nyawa dalam invasi darat."
"Dengan cara anda sendiri? Tidak! Tentara Merah (Uni Soviet) sudah bersiap. Rencana kami untuk bergerak ke Manchuria dan terlibat di front Pasifik sudah tetap." Stalin, dengan dingin menyikapi Truman. Ia sudah mendengar informasi intelijen tentang proyek bom atom.
"Tindakan Anda mungkin tidak lagi diperlukan. Akan kami beri 'kejutan' yang cukup. Dan perdamaian di Pasifik akan dibentuk oleh mereka yang memenangkannya." Jawab Truman tak kalah dingin. Tujuannya jelas, mengakhiri perang Jepang, sekaligus membatasi pengaruh Soviet pasca perang.
Churchill yang khawatir kehilangan pengaruh kolonial, akhirnya angkat bicara, "Bentuk perdamaian itu? Maksudnya? Kekosongan kekuasaan di wilayah yang diduduki Jepang perlu kita pikirkan. Ini bisa memicu lebih banyak perang di sana."
"Tatanan lamalah yang membawa kita pada perang ini. Asia telah melihat kekuatan kolonial Eropa tumbang. Dunia telah berubah. Amerika tidak akan mengalokasikan sumber daya militernya untuk membantu kekuatan kolonial lama merebut kembali wilayah mereka. Itu adalah masalah bagi mereka untuk diselesaikan dengan para pemimpin lokal." Truman dengan tenang menjawab.
Stalin sedikit tersenyum melihat keretakan di antara Sekutu Barat, ia kemudian berkata, "Mr. President bicara tentang penentuan nasib sendiri. Sebuah prinsip yang menarik. Rakyat-rakyat yang memimpikan kemerdekaan pasti akan menyambutnya. Setelah kami menyelesaikan urusan dengan Jepang, gelombang sejarah akan menentukan masa depan mereka sendiri."
"Tuan sekalian, pertimbangan pertama dan terakhir saya adalah mengakhiri perang ini, sekarang juga, dengan cara yang paling pasti dan tanpa korban jiwa Amerika. Cara lain? Akan sia-sia untuk dipikirkan." Seluruhnya sudah jelas bagi Truman.
Sementara itu ... Di kantor pemerintah Belanda di London
Dua bulan sebelumnya. Belanda baru saja mendapatkan kedaulatannya kembali. Secara de facto dan de jure bebas dari pendudukan Nazi. Tepat 5 tahun sejak Nazi Jerman menduduki Belanda pada Mei 1940.
Logemann, Menteri Urusan Tanah Jajahan secara khusus bertemu Jenderal Spoor, perwira militer yang akan memimpin pasukan.
"Kedaulatan kita sudah pulih, sekarang kita punya kesempatan untuk membangun Negeri kita kembali. Termasuk Hindia Belanda yang harus kembali ke pangkuan Kerajaan." Logemann memberikan gagasannya.
Jenderal Spoor tampak mengangguk, tapi dengan sedikit keraguan menjawab, "Tuan Menteri, situasinya sangat berbeda. Tentara kita lemah, ekonomi hancur. Kita tidak punya kapasitas untuk mengirim pasukan sendiri ke Hindia Belanda. Kekuatan kita sangat terbatas."
"Kita tidak mungkin bertindak sendiri. Kunci keberhasilan kita ada pada Sekutu. Kita ikuti dulu kerangka kerja Sekutu." Tegas Logemann.
"Kalau begitu, Inggris adalah kuncinya. South East Asia Command (SEAC) pimpinan Lord Mountbatten bertanggung jawab untuk wilayah kita. Kita harus mendesak mereka untuk segera mendarat di Jawa dan Sumatra untuk melucuti Jepang. Dan kita harus ada di kapal yang sama dengan mereka." Jawab Jenderal Spoor lebih strategis.
"Tepat! Kita tidak akan datang sebagai penjajah, tetapi sebagai pemerintahan sipil yang menyertai misi Sekutu. Untuk itulah kita membentuk NICA (Netherland Indies Civil Administration). Dan kita sudah memiliki orang terbaik untuk memimpinnya: Dr. Hubertus J. van Mook. Dia sudah berada di markas Sekutu di Australia, memahami situasi, dan siap bergerak." Logemann coba menjelaskan.
Telepon berdering....
Logemann mengangkat telepon, "Van Mook? Bagaimana perkembangan di sana?
"..."
Bagus! Negosiasi dengan pihak Inggris untuk perjanjian urusan sipil harus kita dorong. MacArthur sudah memberi dasar lewat perjanjian Desember 1944 lalu. Kini kita hanya butuh komitmen resmi dari London, setelah itu...
ketika Sekutu masuk, kita bisa segera ambil alih administrasi."
Telepon ditutup...
Logemann kembali bicara dengan Jendral Spoor, "Skema yang mungkin, Inggris akan memimpin pasukan dari SEAC. Pasukan kita akan menyatu dengan mereka. NICA akan berjalan di belakang seragam Sekutu. Rakyat di sana akan melihat kedatangan Sekutu, bukan invasi Belanda."
Logemann lalu melanjutkan, "Dan Van Mook akan menjadi ujung tombak diplomasi dan administrasi. Namun, tentu saja, pasukan Anda harus siap jika... 'ketertiban' perlu ditegakkan."
"Saya paham, 'Memulihkan ketertiban dan kewenangan sipil.' Itu akan menjadi narasi resmi kita. Kita akan memanfaatkan kekuatan Sekutu untuk membuka jalan, lalu NICA yang akan mengkonsolidasi kekuasaan. Dan...
Setelah ini, Saya akan segera mulai menyusun pasukan untuk bergabung dengan sekutu." Jawab Jenderal Spoor mantab.
"Baik. Maka konsensus kita jelas. Hindia Belanda akan pulih dengan dua kaki, diplomasi melalui van Mook dan NICA, serta kekuatan militer yang akan dipimpin sekutu. Kita akan kembali ke Hindia Belanda sebagai pemerintah sah yang hak-haknya harus dipulihkan. Semoga Ratu Wilhelmina memberkati langkah ini." Pungkas Logemann
Sementara itu... Di Tokyo, Jepang
Jepang masih ada upaya melawan Sekutu dengan strategi yang melibatkan Indonesia (Hindia Timur) dengan memberikan angin segar berupa janji kemerdekaan, bahkan sejak 7 September 1944.
"Mengenai Hindia Timur, Jepang mengizinkan penduduknya untuk berpartisipasi dalam politik sesuai dengan keinginan mereka.
Penduduk di seluruh Hindia Timur telah terus berusaha untuk melaksanakan Perang Asia Timur Raya, dengan mengenali tujuan sejati Jepang.
Mereka juga telah melihat fakta-fakta dan kami nyatakan di sini bahwa kami bermaksud untuk mengakui kemerdekaan mereka di masa depan demi memastikan kebahagiaan abadi bagi ras Hindia Timur."
Begitulah bunyi Pidato Koiso yang kemudian mendorong terbentuknya BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha‑Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tahun 1945.
1945 adalah tahun yang tegang bagi seluruh dunia.
Di Potsdam, Truman melenggang. Tentu saja, karena 'senjata' yang akan menggemparkan dunia.
Di Tokyo, segala strategi dibangun untuk mempertahankan Hindia Timur. Tak pernah mereka bayangkan akan runtuh oleh 'kejutan' Amerika.
Di London dan Australia, tak putus komunikasi antara Van Mook dan pemerintah belanda menyusun strategi 'menumpang' sekutu, demi ambisi mengembalikan hak administrasi atas Hindia Belanda.
Sedang di Indonesia, janji kemerdekaan dari Jepang terus dituntut.