Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
KEDASIH
4
Suka
12,054
Dibaca

Burung-burung kedasih beberapa hari terakhir selalu bertengger di salah satu pohon di kebun.

Mungkin dia sedang ada di pohon rambutan. Mungkin juga pohon duku. Atau pohon kelor?

Entahlah… ketiga pohon itu berdekatan dan Rina tidak ambil pusing di mana kedasih itu hinggap.

Yang jelas suaranya melengking panjang. Menakut-nakuti penduduk kampung.

Di kampung ini, mereka menyebut kedasih sebagai burung wikwik karena suaranya.

Konon, jika wikwik bernyanyi panjang di dekat rumah, itu adalah pertanda seseorang di rumah itu akan segera dijemput oleh malaikat maut.

Orang kampung akan segera memperhatikan penghuni rumah terdekat dengan keberadaan kedasih. Jika ada penghuni rumah yang sakit, mereka yakin jika orang tersebut tidak memiliki waktu lama.

Rina tidak percaya hal-hal seperti itu. Di rumah, semua anggota keluarganya sehat wal afiat..

Lagipula, Rina tahu kalau kedasih hanya bertanggung jawab dengan kematian para janin.

Kedasih, si burung yang rupanya cantik itu memang memiliki sifat keji. Dia akan memperhatikan sekitar untuk memantau sarang burung lain. Sebuah rumah yang nyaman untuk anak-anaknya tumbuh kelak.

Saat kedasih sudah melihat tuan rumah pergi dari sarang, dia akan hinggap di sarang berisi telur-telur yang tak berdosa.

Telur-telur yang tidak berdaya itu hanya akan pasrah ketika kedasih betina yang keji melempar mereka dari ranting yang tinggi menuju tanah.

Sebagai ganti telur-telur yang jatuh itu, kedasih akan bertelur di sarang itu.

Kemudian tanpa rasa bersalah meninggalkan telur-telurnya untuk dierami oleh sang pemilik rumah.

Burung malang yang anak-anaknya telah jatuh tidak akan sadar dan dengan sabar akan mengeraminya sampai menetas. Sementara si kedasih kembali terbang melanjutkan hidup.

Sungguh kisah yang tidak menyenangkan.

Jika Rina bisa menjangkau kedasih itu, sudah barang tentu ia akan melemparnya dengan batu atau menangkapnya untuk kemudian menggorok lehernya dengan pisau tumpul di dapur.

Suara kedasih itu terkadang sangat mengganggu. Apalagi di waktu menjelang ashar. Burung itu akan bernyanyi sepanjang sore sampai hampir maghrib di musim-musim sering hujan.

Seringnya, Rina belajar menggunakan headset pada saat itu. Dia tidak akan bisa berkonsentrasi dengan suara burung kedasih.

Rina pernah meminta ayahnya untuk mengusir burung itu. Berhasil hanya untuk satu hari karena esoknya kedasih itu kembali. Ayah mengusirnya lagi tapi burung itu selalu kembali hingga pengusiran ketujuh, ayah menyerah.

Rina tidak bisa berbuat apa–apa jadi dia hanya menarik napas kesal.

Ketika Rina menghentikan musik dan melepas headset, suara burung kedasih itu berhenti.Rintik hujan terdengar berjatuhan di atas genting.

Kemudian terdengar suara ribut di luar. Rina bergegas menuju teras untuk mengetahui apa yang terjadi.

“Rina itu anakku, Teh… aku mau dia tinggal sama aku!”

“Tidak bisa Ayu! Aku yang membesarkan dia, merawat dia penuh kasih sayang. Kamu tidak berhak mengambil Rina. Dia anakku!”

“Kang Rahman! Bilang sama Teh Aida kalau Rina itu anakku!!! Dia anakku dan kamu, Kang!”

Rahman menunduk, sementara istrinya—-Aida—mundur selangkah sembari memegang dada.

“Kang?!” Aida merenggut kaus Rahman. “Bener itu?”

Rahman diam saja.

“Aku terpaksa meninggalkan Rina karena kamu tidak punya anak, Teh! Sekarang aku mau anakku!!!” teriak Ayu sambil berusaha menerobos masuk.

Rahman menahannya. “Tidak. Rina itu anakku dan Aida. Bukan anak kamu!”

“Kang!” Air mata meluncur menuruni pipi Ayu. “Tega kamu! Kamu bilang kamu akan bertanggung jawab atas kelakuanmu!”

Rahman menampar Ayu keras hingga wanita muda itu tersungkur.

“Aku sudah merawat anakku. Itu bentuk pertanggungjawabanku!”

“Lalu aku bagaimana? Kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu di masa dulu,” ujar Ayu sambil menangis tersedu.

Aida di belakang Rahman tidak mampu mengucapkan apapun mendengar pengakuan suaminya. Hatinya remuk redam.

“Diam Ayu! Bukankah kamu lebih memilih juragan kayu itu daripada mengakui semuanya? Kamu bilang mau jadi istri keduaku tapi begitu si Maman tertarik padamu, kamu melupakanku dan Rina.” Rahman melangkah dengan wajah tegak mendekati Ayu. “Sekarang, setelah Rina lulus CPNS, kamu mau dia kembali padamu? Jangan kira aku tidak tahu apa maumu!”

Ayu mengusap wajah. Perlahan dia berdiri. “Aku tetap akan mengatakannya! Rina itu anakku, bukan anak Aida!”

Plakkk!

Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Ayu. 

“Diam perempuan jalang!” seru Rahman. Tumpahan air tak mampu membungkam suaranya.

Kilat berkelebat membelah gelapnya langit,

Rina sudah berdiri di daun pintu, berusaha mencerna apa yang terjadi.

Tiba-tiba saja Ayu mengeluarkan belati dari balik kebaya merahnya. Secepat yang ia bisa ditikamnya jantung Rahman.

Aida menjerit histeris. Begitu juga Rina.

Rahman terkapar di lantai. Tangannya berusaha meraih belati yang menancap dalam.

Dengan tangan gemetar, Ayu melangkah mundur. Seolah tidak menyadari apa yang telah dilakukannya. Dia melihat Rina yang ketakutan dengan mulut tertutup.

“Rina….” Ayu menghampiri anak kandungnya. “I-ini… tidak seperti yang kamu lihat, Nak.”

Kepala Rina menggeleng cepat. Dijauhinya Ayu.

“Aku ibumu, Nak. Aku ibu kandungmu….”

Rina semakin menjauh. Hujan telah mereda. Samar suara adzan maghrib menghilang dari surau. Kemudian suara kedasih terdengar pendek.

Aida menggoyang-goyangkan tubuh Rahman yang telah kaku.

Rina melihat ibunya yang menangis, ayahnya yang terbujur kaku dan Ayu yang berusaha menggapainya. Tapi dari semua suara yang ditangkap oleh telinganya, hanya suara kedasih yang diproses otak. Pendek dan mengejek. Menertawakan adegan mengerikan yang barusan dilihatnya.

Ketika Ayu mengejarnya sampai dapur, Rina melihat pisau tumpul itu tergeletak dekat kompor. Dia meraihnya cepat dan menggorok leher Ayu.

Rina tidak tahu kalau pisau itu baru saja Rahman asah.

Darah memercik ke wajah dan tubuhnya. 

Tubuh Ayu lunglai, kemudian jatuh di lantai dapur yang masih berupa tanah.

Seketika hening. Suara kedasih yang memenuhi kepala Rina sirna. Dia bisa mendengar jelas suara detak jantung Ayu yang memudar.

Kilat kembali hadir tapi tanpa suara.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
HAMPARAN SAJADAH TERAKHIR UNTUK BAPAK
Siraru
Flash
KEDASIH
Keita Puspa
Novel
Bronze
Bunga
kustina dwita N
Novel
Bronze
FRIENDSHIP
SOS (Share Our Story)
Flash
Bronze
Selamat Tahun Baru!
Reyan Bewinda
Flash
Kucing & Overthinking
Dwi Budiase
Flash
Bronze
SECANGKIR CARAMEL MACCHIATO
Christin Meirdhika
Novel
Fall in Love with Devils
judea
Novel
Kausatif
Topan Adiningrat
Flash
Bronze
Memenangi Perang Diri
alkaladia.
Novel
#PARE(tidak)JAHAT
Ilma Wahid
Flash
EMPAT KATA
Januard Benedictus
Novel
Bronze
Menjahit Retak di Langit-Langit
Prasetya Catur Nugraha
Komik
IKEMEN.PROJECT
ikemen_project
Cerpen
Bronze
BULAN YANG TERLEPAS
Sri Wintala Achmad
Rekomendasi
Flash
KEDASIH
Keita Puspa
Flash
Masalah Jiwa
Keita Puspa
Novel
He Is Not My Brother
Keita Puspa
Novel
Bronze
We're (Not) Really Break Up
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
Pending Apologize (Sintas Universe)
Keita Puspa
Novel
AGASTYA
Keita Puspa
Flash
7th Skies
Keita Puspa
Novel
DELTA TEAM
Keita Puspa
Flash
Bronze
Telor Rebus (Sintas Universe)
Keita Puspa
Novel
SINTAS 2.0: ENDURE
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
TRIAL ON MERAPI (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Cita-Cita
Keita Puspa
Flash
Bronze
Pertengkaran Kecil Menuju Puncak Besar (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Antropologi
Keita Puspa
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa