Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Senja yang Sama
2
Suka
12,486
Dibaca

Tiga tahun yang lalu. D atap salah satu gedung pencakar langit, kami menikmati indahnya guratan langit senja di ibu kota. "Aku ingin kamu tau, bahwa aku hanya butuh kamu untuk melengkapi hidupku." Kalimat itu mengalir dari lisannya begitu halus, seperti desir angin yang dengan lembut membelai wajah. Setelah obrolan panjang tentang banyak hal, aku heran, kenapa harus kalimat itu yang seolah menjadi penutupnya? 

Aku terdiam, sambil mencari tanda-tanda kepalsuan dari tatap matanya yang begitu dalam. Tapi aku tak menemukan itu. 

"Will you marry me?" Pertanyaan itu terdengar lembut dan penuh pengharapan. Pertanyaan itu, seolah ingin membunuh keraguan yang mungkin bisa ia tangkap dari senyum atau bahkan dari tatap mataku. 

"Kamu gak perlu menjawabnya sekarang kalau kamu butuh waktu untuk .... "

"Ya, aku mau." Ucapku memotong kalimatnya. 

Kali ini, dia yang menatapku dengan ragu. 

"Ya. Aku mau menjadi pendamping hidupmu, seumur hidup." Tegasku memangkas keraguannya. 

Kami saling bertukar senyum, senyum bahagia yang disaksikan oleh langit senja ibu kota. Sejak hari itu, kami seringkali merancang cerita tentang masa depan. Menjalani hari-hari dengan banyak belajar saling memahami. 

Namun kini, aku kembali berdiri di tempat yang sama.  Menikmati semburat jingga yang begitu indah. Sambil membaca ulang undangan pernikahan digital yang dikirimkan salah satu teman kantorku beberapa minggu yang lalu. 

Ada nama serta foto dia yang tertera begitu jelas. Bersanding dengan wanita yang konon adalah pilihan orangtuanya. Jangan tanya bagaimana sakitnya aku melihat kenyataan ini. Tiga tahun kami berjalan merangkai impian bersama, dan tiba-tiba kami dipaksa berpisah sebelum benar-benar saling memikili. 

Kini, setelah berjeda empat bulan semenjak perpisahan itu, aku berdiri di tempat yang sama sambil mencoba tersenyum melihat potret cincin kawin di jari kanan yang ia unggah di laman media sosialnya, meski ada sayatan luka yang tak berdarah, tak terlihat, tak bersuara, namun sangat menyakitkan.

Dan kesakitan ini membuatku belajar, bahwa sebaik apapun rencana manusia pada akhirnya kita hanya akan dihadapkan pada dua pilihan; belajar bersyukur ketika rencana itu sejalan dengan takdir atau belajar ikhlas dan sabar saat realita tak bersahabat dengan segala rencana.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (6)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Dua Puluh Mosaik Plus Satu
Dewanto Amin Sadono
Flash
TAK PERNAH SELESAI
Ocha
Flash
Senja yang Sama
Rahmi Azzura
Skrip Film
(Skenario Film) THE PAST
madiani_shawol
Cerpen
Bronze
ALENA NONA BELANDA
Rayasa Kherta
Novel
Best Mistake
Nor Laila
Novel
Bronze
Aulia Diah Salim
M. Bagus Sulistiyanto
Flash
Bronze
Mantan Makmum
Silvarani
Flash
Bronze
AKU MENCINTAI PEREMPUAN ITU dengan NYAWAKU
Onet Adithia Rizlan
Flash
Bronze
Seraut Paras Suami
Bella Paring Gusti
Cerpen
Perihal Nama Bapak
Muhammad Ilfan Zulfani
Novel
Gold
Anne of Green Gables
Mizan Publishing
Komik
Hello, Someday!
Gemi
Skrip Film
Dendam
Mohamad Rizky Ramadhani
Flash
Airnya Gak Nyala
Hilwa Athifah
Rekomendasi
Flash
Senja yang Sama
Rahmi Azzura
Flash
Biarkan Doa Kita Bertemu Di Langit yang Sama
Rahmi Azzura
Novel
Bronze
Deep Love; Berhenti Pada Satu Nama
Rahmi Azzura
Flash
Sejak Kau Tak Ada
Rahmi Azzura
Flash
Janji Di Semangkuk Bakso
Rahmi Azzura
Cerpen
Pelukan Yang Tertunda
Rahmi Azzura
Flash
Pamit
Rahmi Azzura
Flash
Rumah Tanpa Pelukan
Rahmi Azzura
Flash
Di Antara Altar dan Mimbar
Rahmi Azzura
Flash
Rumah Ilusi
Rahmi Azzura
Flash
Ombak Luka yang Tak Surut
Rahmi Azzura
Cerpen
Pertemuan Terakhir
Rahmi Azzura
Cerpen
After 1550 days
Rahmi Azzura
Flash
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
Rahmi Azzura
Flash
Tetaplah Melangkah
Rahmi Azzura