Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Wilayah Terlarang Bernama Kita
0
Suka
10,512
Dibaca

Pada tahun ketiga perang geopolitik, negara tidak lagi mengebom kota.

Mereka mengebom hubungan.

Alya baru menyadarinya saat pesan “aku rindu” yang ia ketik berubah menjadi layar kosong. Tidak gagal terkirim. Tidak juga terkirim. Hanya hilang, seolah kata rindu tak pernah ada dalam kamus yang diizinkan.

Pemberitahuan resmi masuk beberapa detik kemudian.

AKUN ANDA SEDANG DALAM PEMANTAUAN.

KOMUNIKASI LINTAS NEGARA DIKLASIFIKASIKAN SEBAGAI RISIKO NASIONAL.

Tak ada tanda seru. Tak ada ancaman langsung. Justru itu yang membuatnya menakutkan.

Rama menghilang dari daftar kontaknya pada malam yang sama. Bukan diblokir. Bukan dihapus. Namanya seakan tak pernah disimpan. Riwayat percakapan mereka kosong tahun-tahun percakapan, tawa, ketakutan, dan rencana masa depan diratakan seperti tanah setelah perang.

Alya mencoba mengingat isi chat mereka, tapi ingatan tak sepresisi arsip digital. Ada kalimat yang hilang, ada suara yang kabur. Ia mulai menuliskan kembali percakapan itu di buku catatan, dari ingatan yang bocor.

“Kalau kita bertemu nanti, kau ingin ke mana dulu?”

“Aku ingin memastikan kau nyata.”

Kalimat itu membuat tangannya gemetar. Ia tak yakin siapa yang mengucapkannya dulu.

Seminggu kemudian, seorang petugas datang.

Bukan berseragam militer. Ia mengenakan pakaian sipil, rapi, dengan tablet di tangan. Wajahnya netral, seperti seseorang yang tak pernah jatuh cinta.

“Hubungan Anda dengan warga negara musuh terdeteksi sebagai ikatan emosional mendalam,” katanya. “Dalam kondisi perang, emosi lintas batas negara berpotensi melemahkan loyalitas.”

Alya menatapnya lama.

“Dia bukan negara,” katanya pelan. “Dia manusia.”

Petugas itu mengangguk, mencatat sesuatu.

“Itulah masalahnya.”

Alya dilarang mengakses akun internasional. Semua unggahan lamanya disunting otomatis. Kata kami diganti menjadi saya. Foto-foto berdua yang bahkan belum pernah diambil menghilang dari ingatan digital sebelum sempat menjadi bukti.

Setiap malam, Alya berbicara sendiri. Ia mengucapkan nama Rama dengan suara pelan, seperti kata terlarang. Ia takut suatu hari nama itu juga akan dihapus dari kepalanya.

Di sisi lain perbatasan, Rama mengalami hal serupa. Akunnya masih ada, tapi setiap kali ia menulis nama Alya, layar berkedip merah.

KATA KUNCI TIDAK DIIZINKAN.

Ia mencoba menulis dengan metafora. Langit, rumah, suara yang kutunggu. Semua disaring. Semua dipotong. Hingga akhirnya ia menyerah dan menulis satu kalimat netral:

“Aku baik-baik saja.”

Pesan itu lolos.

Tak pernah sampai.

Beberapa bulan kemudian, perang mereda. Negara-negara menandatangani perjanjian damai. Internet dipulihkan. Sensor dilepas perlahan, seperti luka yang dibiarkan bernapas.

Alya membuka aplikasinya dengan perasaan asing. Ia mencari nama Rama. Tidak ada.

Ia menghubungi pusat data nasional. Seorang operator menjawab dengan suara datar.

“Data tersebut telah dihapus permanen karena termasuk dalam kategori hubungan berisiko tinggi.”

“Apa artinya dia mati?” tanya Alya.

Operator itu terdiam sebentar.

“Tidak,” katanya. “Lebih tepatnya dia tidak pernah diizinkan untuk ada.”

Malam itu, Alya menulis satu kalimat di buku catatannya, dengan tinta yang mudah pudar:

Di zaman perang modern, cinta bukanlah korban. Ia adalah tersangka.

Dan sejak hari itu, Alya hidup dengan satu kesadaran yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun: bahwa ia pernah mencintai seseorang yang secara resmi tidak pernah ada.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Wilayah Terlarang Bernama Kita
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Levanter 2
Tantan
Novel
Redup
Asmaul Khasanah
Cerpen
Dihari Bunga itu Mekar lagi
Dimas Hendra
Novel
SUPER JEALOUS
Frasyahira
Flash
Bronze
if we'd met before a decade
lidia afrianti
Novel
Deal, ya!
Salwaa Roudlootul
Cerpen
Bronze
Popo dan Opung Doli
Nuel Lubis
Novel
Bronze
GA
Riyana
Novel
Bronze
Anti Cancer
zee astri
Novel
Cinta Dalam Ikhlas
Albadriyya_haw
Skrip Film
"G**GLE TRANSLATE" (A love story of two countries)
Mahliana
Flash
Bronze
Persentase yang Tertinggal
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Jarum-Jarum di Dadamu
Titin Widyawati
Novel
Handcuffed Heart
Celestilla
Rekomendasi
Flash
Wilayah Terlarang Bernama Kita
lidia afrianti
Flash
Bronze
if we'd met before a decade
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Without You
lidia afrianti
Flash
Musim Hazelnut
lidia afrianti
Flash
Gravitasi
lidia afrianti
Flash
Bronze
Alasan Menjadikanmu Rumah
lidia afrianti
Flash
Aku berhenti bicara sekarang
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Line And Word
lidia afrianti
Flash
Bronze
Ramai
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
StepMother
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
A letter: Unbreakable Love From Seoul
lidia afrianti
Novel
Wandering Toward You
lidia afrianti
Cerpen
Jalur Langit
lidia afrianti
Flash
Lembar Terakhir Si Penulis
lidia afrianti
Flash
Bronze
Manusia Yang Kupanggil Priaku
lidia afrianti