Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pada tahun ketiga perang geopolitik, negara tidak lagi mengebom kota.
Mereka mengebom hubungan.
Alya baru menyadarinya saat pesan “aku rindu” yang ia ketik berubah menjadi layar kosong. Tidak gagal terkirim. Tidak juga terkirim. Hanya hilang, seolah kata rindu tak pernah ada dalam kamus yang diizinkan.
Pemberitahuan resmi masuk beberapa detik kemudian.
AKUN ANDA SEDANG DALAM PEMANTAUAN.
KOMUNIKASI LINTAS NEGARA DIKLASIFIKASIKAN SEBAGAI RISIKO NASIONAL.
Tak ada tanda seru. Tak ada ancaman langsung. Justru itu yang membuatnya menakutkan.
Rama menghilang dari daftar kontaknya pada malam yang sama. Bukan diblokir. Bukan dihapus. Namanya seakan tak pernah disimpan. Riwayat percakapan mereka kosong tahun-tahun percakapan, tawa, ketakutan, dan rencana masa depan diratakan seperti tanah setelah perang.
Alya mencoba mengingat isi chat mereka, tapi ingatan tak sepresisi arsip digital. Ada kalimat yang hilang, ada suara yang kabur. Ia mulai menuliskan kembali percakapan itu di buku catatan, dari ingatan yang bocor.
“Kalau kita bertemu nanti, kau ingin ke mana dulu?”
“Aku ingin memastikan kau nyata.”
Kalimat itu membuat tangannya gemetar. Ia tak yakin siapa yang mengucapkannya dulu.
Seminggu kemudian, seorang petugas datang.
Bukan berseragam militer. Ia mengenakan pakaian sipil, rapi, dengan tablet di tangan. Wajahnya netral, seperti seseorang yang tak pernah jatuh cinta.
“Hubungan Anda dengan warga negara musuh terdeteksi sebagai ikatan emosional mendalam,” katanya. “Dalam kondisi perang, emosi lintas batas negara berpotensi melemahkan loyalitas.”
Alya menatapnya lama.
“Dia bukan negara,” katanya pelan. “Dia manusia.”
Petugas itu mengangguk, mencatat sesuatu.
“Itulah masalahnya.”
Alya dilarang mengakses akun internasional. Semua unggahan lamanya disunting otomatis. Kata kami diganti menjadi saya. Foto-foto berdua yang bahkan belum pernah diambil menghilang dari ingatan digital sebelum sempat menjadi bukti.
Setiap malam, Alya berbicara sendiri. Ia mengucapkan nama Rama dengan suara pelan, seperti kata terlarang. Ia takut suatu hari nama itu juga akan dihapus dari kepalanya.
Di sisi lain perbatasan, Rama mengalami hal serupa. Akunnya masih ada, tapi setiap kali ia menulis nama Alya, layar berkedip merah.
KATA KUNCI TIDAK DIIZINKAN.
Ia mencoba menulis dengan metafora. Langit, rumah, suara yang kutunggu. Semua disaring. Semua dipotong. Hingga akhirnya ia menyerah dan menulis satu kalimat netral:
“Aku baik-baik saja.”
Pesan itu lolos.
Tak pernah sampai.
Beberapa bulan kemudian, perang mereda. Negara-negara menandatangani perjanjian damai. Internet dipulihkan. Sensor dilepas perlahan, seperti luka yang dibiarkan bernapas.
Alya membuka aplikasinya dengan perasaan asing. Ia mencari nama Rama. Tidak ada.
Ia menghubungi pusat data nasional. Seorang operator menjawab dengan suara datar.
“Data tersebut telah dihapus permanen karena termasuk dalam kategori hubungan berisiko tinggi.”
“Apa artinya dia mati?” tanya Alya.
Operator itu terdiam sebentar.
“Tidak,” katanya. “Lebih tepatnya dia tidak pernah diizinkan untuk ada.”
Malam itu, Alya menulis satu kalimat di buku catatannya, dengan tinta yang mudah pudar:
Di zaman perang modern, cinta bukanlah korban. Ia adalah tersangka.
Dan sejak hari itu, Alya hidup dengan satu kesadaran yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun: bahwa ia pernah mencintai seseorang yang secara resmi tidak pernah ada.