Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Wilayah Terlarang Bernama Kita
0
Suka
7,605
Dibaca

Pada tahun ketiga perang geopolitik, negara tidak lagi mengebom kota.

Mereka mengebom hubungan.

Alya baru menyadarinya saat pesan “aku rindu” yang ia ketik berubah menjadi layar kosong. Tidak gagal terkirim. Tidak juga terkirim. Hanya hilang, seolah kata rindu tak pernah ada dalam kamus yang diizinkan.

Pemberitahuan resmi masuk beberapa detik kemudian.

AKUN ANDA SEDANG DALAM PEMANTAUAN.

KOMUNIKASI LINTAS NEGARA DIKLASIFIKASIKAN SEBAGAI RISIKO NASIONAL.

Tak ada tanda seru. Tak ada ancaman langsung. Justru itu yang membuatnya menakutkan.

Rama menghilang dari daftar kontaknya pada malam yang sama. Bukan diblokir. Bukan dihapus. Namanya seakan tak pernah disimpan. Riwayat percakapan mereka kosong tahun-tahun percakapan, tawa, ketakutan, dan rencana masa depan diratakan seperti tanah setelah perang.

Alya mencoba mengingat isi chat mereka, tapi ingatan tak sepresisi arsip digital. Ada kalimat yang hilang, ada suara yang kabur. Ia mulai menuliskan kembali percakapan itu di buku catatan, dari ingatan yang bocor.

“Kalau kita bertemu nanti, kau ingin ke mana dulu?”

“Aku ingin memastikan kau nyata.”

Kalimat itu membuat tangannya gemetar. Ia tak yakin siapa yang mengucapkannya dulu.

Seminggu kemudian, seorang petugas datang.

Bukan berseragam militer. Ia mengenakan pakaian sipil, rapi, dengan tablet di tangan. Wajahnya netral, seperti seseorang yang tak pernah jatuh cinta.

“Hubungan Anda dengan warga negara musuh terdeteksi sebagai ikatan emosional mendalam,” katanya. “Dalam kondisi perang, emosi lintas batas negara berpotensi melemahkan loyalitas.”

Alya menatapnya lama.

“Dia bukan negara,” katanya pelan. “Dia manusia.”

Petugas itu mengangguk, mencatat sesuatu.

“Itulah masalahnya.”

Alya dilarang mengakses akun internasional. Semua unggahan lamanya disunting otomatis. Kata kami diganti menjadi saya. Foto-foto berdua yang bahkan belum pernah diambil menghilang dari ingatan digital sebelum sempat menjadi bukti.

Setiap malam, Alya berbicara sendiri. Ia mengucapkan nama Rama dengan suara pelan, seperti kata terlarang. Ia takut suatu hari nama itu juga akan dihapus dari kepalanya.

Di sisi lain perbatasan, Rama mengalami hal serupa. Akunnya masih ada, tapi setiap kali ia menulis nama Alya, layar berkedip merah.

KATA KUNCI TIDAK DIIZINKAN.

Ia mencoba menulis dengan metafora. Langit, rumah, suara yang kutunggu. Semua disaring. Semua dipotong. Hingga akhirnya ia menyerah dan menulis satu kalimat netral:

“Aku baik-baik saja.”

Pesan itu lolos.

Tak pernah sampai.

Beberapa bulan kemudian, perang mereda. Negara-negara menandatangani perjanjian damai. Internet dipulihkan. Sensor dilepas perlahan, seperti luka yang dibiarkan bernapas.

Alya membuka aplikasinya dengan perasaan asing. Ia mencari nama Rama. Tidak ada.

Ia menghubungi pusat data nasional. Seorang operator menjawab dengan suara datar.

“Data tersebut telah dihapus permanen karena termasuk dalam kategori hubungan berisiko tinggi.”

“Apa artinya dia mati?” tanya Alya.

Operator itu terdiam sebentar.

“Tidak,” katanya. “Lebih tepatnya dia tidak pernah diizinkan untuk ada.”

Malam itu, Alya menulis satu kalimat di buku catatannya, dengan tinta yang mudah pudar:

Di zaman perang modern, cinta bukanlah korban. Ia adalah tersangka.

Dan sejak hari itu, Alya hidup dengan satu kesadaran yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun: bahwa ia pernah mencintai seseorang yang secara resmi tidak pernah ada.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Hayyin Itu Spesial
Syafira Muna
Flash
Wilayah Terlarang Bernama Kita
lidia afrianti
Novel
Honeymoon Project
Andita Rizkyna N
Novel
Bronze
Karimun Love Wave
Lindaw
Novel
AlHubbu Fii Shanghai
Dhee Rahma
Novel
Kamu Cantik!
Selpimei
Skrip Film
Senja dan Sebuah Kisah
Nihla Arum Fazri Ning Tyas
Flash
Awan
Aneidda
Flash
Bronze
UNDANGAN
Nadya Wijanarko
Flash
Bronze
Dewi Langit dan Dewa Laut
Silvarani
Flash
Pelembab Bibir
Nila Kresna
Novel
Bronze
I LOVE YOU SENIOR (KETUA PMR)
Safinatun naja
Novel
AKU BUKAN ORANG KETIGA
Ikhaqueen
Skrip Film
Selepas Senja
Yunda pramukti
Skrip Film
Skrip Sajak Cinta Terakhir
Widhi ibrahim
Rekomendasi
Flash
Wilayah Terlarang Bernama Kita
lidia afrianti
Flash
Bronze
Jejak
lidia afrianti
Flash
Bronze
Hilang di Kota Virtual
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Tolong Hidup Sampai Aku Mati !
lidia afrianti
Flash
Dia Bernama Lumi
lidia afrianti
Flash
Maaf aku tidak menjadi apa yang kamu mau
lidia afrianti
Novel
Rumah
lidia afrianti
Flash
Bronze
Lemon Tea
lidia afrianti
Flash
Biru Merah
lidia afrianti
Flash
Barangkali Tulisan Memang Bisa Mati
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
SANGUIN
lidia afrianti
Flash
Aku ingin kamu mendengarku
lidia afrianti
Flash
Bronze
Kata Mereka Akan Baik-Baik Saja
lidia afrianti
Flash
Bronze
In Korea Means 사랑해
lidia afrianti
Flash
Aku, Cinta Dan Kamu
lidia afrianti