Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Wilayah Terlarang Bernama Kita
0
Suka
10,990
Dibaca

Pada tahun ketiga perang geopolitik, negara tidak lagi mengebom kota.

Mereka mengebom hubungan.

Alya baru menyadarinya saat pesan “aku rindu” yang ia ketik berubah menjadi layar kosong. Tidak gagal terkirim. Tidak juga terkirim. Hanya hilang, seolah kata rindu tak pernah ada dalam kamus yang diizinkan.

Pemberitahuan resmi masuk beberapa detik kemudian.

AKUN ANDA SEDANG DALAM PEMANTAUAN.

KOMUNIKASI LINTAS NEGARA DIKLASIFIKASIKAN SEBAGAI RISIKO NASIONAL.

Tak ada tanda seru. Tak ada ancaman langsung. Justru itu yang membuatnya menakutkan.

Rama menghilang dari daftar kontaknya pada malam yang sama. Bukan diblokir. Bukan dihapus. Namanya seakan tak pernah disimpan. Riwayat percakapan mereka kosong tahun-tahun percakapan, tawa, ketakutan, dan rencana masa depan diratakan seperti tanah setelah perang.

Alya mencoba mengingat isi chat mereka, tapi ingatan tak sepresisi arsip digital. Ada kalimat yang hilang, ada suara yang kabur. Ia mulai menuliskan kembali percakapan itu di buku catatan, dari ingatan yang bocor.

“Kalau kita bertemu nanti, kau ingin ke mana dulu?”

“Aku ingin memastikan kau nyata.”

Kalimat itu membuat tangannya gemetar. Ia tak yakin siapa yang mengucapkannya dulu.

Seminggu kemudian, seorang petugas datang.

Bukan berseragam militer. Ia mengenakan pakaian sipil, rapi, dengan tablet di tangan. Wajahnya netral, seperti seseorang yang tak pernah jatuh cinta.

“Hubungan Anda dengan warga negara musuh terdeteksi sebagai ikatan emosional mendalam,” katanya. “Dalam kondisi perang, emosi lintas batas negara berpotensi melemahkan loyalitas.”

Alya menatapnya lama.

“Dia bukan negara,” katanya pelan. “Dia manusia.”

Petugas itu mengangguk, mencatat sesuatu.

“Itulah masalahnya.”

Alya dilarang mengakses akun internasional. Semua unggahan lamanya disunting otomatis. Kata kami diganti menjadi saya. Foto-foto berdua yang bahkan belum pernah diambil menghilang dari ingatan digital sebelum sempat menjadi bukti.

Setiap malam, Alya berbicara sendiri. Ia mengucapkan nama Rama dengan suara pelan, seperti kata terlarang. Ia takut suatu hari nama itu juga akan dihapus dari kepalanya.

Di sisi lain perbatasan, Rama mengalami hal serupa. Akunnya masih ada, tapi setiap kali ia menulis nama Alya, layar berkedip merah.

KATA KUNCI TIDAK DIIZINKAN.

Ia mencoba menulis dengan metafora. Langit, rumah, suara yang kutunggu. Semua disaring. Semua dipotong. Hingga akhirnya ia menyerah dan menulis satu kalimat netral:

“Aku baik-baik saja.”

Pesan itu lolos.

Tak pernah sampai.

Beberapa bulan kemudian, perang mereda. Negara-negara menandatangani perjanjian damai. Internet dipulihkan. Sensor dilepas perlahan, seperti luka yang dibiarkan bernapas.

Alya membuka aplikasinya dengan perasaan asing. Ia mencari nama Rama. Tidak ada.

Ia menghubungi pusat data nasional. Seorang operator menjawab dengan suara datar.

“Data tersebut telah dihapus permanen karena termasuk dalam kategori hubungan berisiko tinggi.”

“Apa artinya dia mati?” tanya Alya.

Operator itu terdiam sebentar.

“Tidak,” katanya. “Lebih tepatnya dia tidak pernah diizinkan untuk ada.”

Malam itu, Alya menulis satu kalimat di buku catatannya, dengan tinta yang mudah pudar:

Di zaman perang modern, cinta bukanlah korban. Ia adalah tersangka.

Dan sejak hari itu, Alya hidup dengan satu kesadaran yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun: bahwa ia pernah mencintai seseorang yang secara resmi tidak pernah ada.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Perspectives on Love
Lail Arahma
Flash
Wilayah Terlarang Bernama Kita
lidia afrianti
Novel
Bronze
Antariksa
Siti Norma J
Novel
Connesso
Cano
Skrip Film
Waktu kenangan
FAIQ NABILAH APRILIA
Novel
Gold
My Ice Girl
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Shea
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin
Puput Pelangi
Skrip Film
Labuan
Tanya Fransisca
Cerpen
Bronze
Secangkir Kopi Klotok
Sendang Ayuningrum
Cerpen
Dear, Millie...
Farah
Novel
Bronze
NAYA
Anti Saputri
Novel
Gold
Polaris Fukuoka
Mizan Publishing
Novel
Gold
Friend Zone
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
My Author
Nurul Lathiffah
Rekomendasi
Flash
Wilayah Terlarang Bernama Kita
lidia afrianti
Flash
Kenapa kita kura-kura
lidia afrianti
Flash
Perempuan
lidia afrianti
Flash
Balasan Surat Untukmu, Sean
lidia afrianti
Flash
Andai semua ini benar-benar terjadi
lidia afrianti
Flash
Bronze
Hilang di Kota Virtual
lidia afrianti
Flash
Akhirnya Tetap Kalah
lidia afrianti
Flash
Kalau saat itu aku tidak diam. . .
lidia afrianti
Flash
Seandainya kita berjuang sedikit lagi
lidia afrianti
Flash
Apakah kamu pernah mencintaiku?
lidia afrianti
Flash
Maaf aku tidak menjadi apa yang kamu mau
lidia afrianti
Flash
Bronze
Suar
lidia afrianti
Flash
Biru Merah
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
The Soundless Tide
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Tolong Hidup Sampai Aku Mati !
lidia afrianti