Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Sayur Tanpa Garam
5
Suka
11,957
Dibaca

Aku selalu mencintainya—bukan setengah, bukan juga sekadar kebiasaan. Aku mencintainya dengan cara paling sunyi: menunggu, memberi, dan berharap tanpa pernah benar-benar ditanya apa kabarku. Aku menyayanginya sepenuh hati, meski sering kali hatiku sendiri tak sempat kusentuh.

Akulah yang selalu menghubungi lebih dulu. Menyusun kalimat dengan hati-hati, lalu menatap layar terlalu lama, menunggu centang biru yang tak kunjung berubah menjadi balasan. Pesanku menggantung di ruang hampa, seperti suaraku yang tak pernah benar-benar didengar.

Aku mengingat hari-hari pentingnya lebih baik daripada hari pentingku sendiri. Ulang tahunnya, hari pertama kuliahnya, bahkan tanggal-tanggal kecil yang mungkin hanya berarti baginya. Aku mengirim hadiah—bukan karena diminta, tapi karena aku ingin ia tahu: ada seseorang yang memikirkannya. Aku bahkan mengirimkan pulsa rutin untuknya, berharap itu menjadi alasan kecil baginya untuk menghubungiku lebih lama, meski hanya sesekali.

Setiap akhir bulan, aku selalu berada di tempat yang sama. Bangku tua di sudut stasiun kecil itu seolah sudah hafal bentuk tubuhku. Aku menunggunya pulang dari luar kota, dari tempat ia kuliah, dengan tas punggung dan wajah lelah yang selalu kurindukan. Kadang ia datang dan tersenyum seadanya. Kadang ia tidak datang sama sekali—tanpa kabar, tanpa penjelasan. Dan aku belajar menelan kecewa, seolah itu bagian dari mencintainya.

Sampai suatu hari, ia benar-benar datang. Wajahnya kusut, matanya lelah, tapi bukan karena perjalanan. Ada jarak aneh di antara kami, meski ia duduk tepat di depanku.

“Kita putus aja,” katanya tanpa basa-basi, tanpa jeda, tanpa peringatan.

Dadaku seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat. Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, suaraku bergetar, “Kenapa?”

Ia menghela napas, lalu menatap ke arah lain. “Satu tahun lebih pacaran sama kamu rasanya kayak makan sayur tanpa garam. Nggak ada rasanya. Aku nggak bisa lanjutin ini.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghancurkan. Aku ingin tertawa, ingin marah, ingin menyangkal. Tapi yang keluar hanya diam. Dalam kepalaku, berputar semua yang pernah kulakukan—semua penantian, semua perhatian, semua cinta yang kuberi tanpa hitung-hitungan.

Mungkin benar, baginya aku hambar. Tapi ia lupa, sayur tanpa garam tetap dimakan orang yang lapar. Dan aku… hanya mencintai orang yang tak pernah benar-benar ingin merasakannya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Sayur Tanpa Garam
Linda Er
Novel
Pena Antik. The Four Steps of Love
Setyawan Lam
Novel
Bronze
Arca, Alien, dan Bunga Daisy
Deasy Wirastuti
Novel
Alpha vs Alpha
mikaji Al daufan
Flash
Bronze
Menonton Televisi
Afri Meldam
Komik
Bronze
Salvation
Mery Shera
Skrip Film
Diary-nya
Riwisssss
Flash
Bronze
Drama
B12
Flash
Bronze
Photos behind the bookshelf
Ang.Rose
Cerpen
April
Rama Sudeta A
Novel
Bank(rut) Syariah
Dania Oryzana
Novel
Gold
The Hollow Cat
Mizan Publishing
Komik
Can I ?
Blueleaf
Flash
Ternyata Akting
nisaaa
Novel
RANDURIANA
Seto Yuma
Rekomendasi
Flash
Sayur Tanpa Garam
Linda Er
Novel
Bronze
Buah Dari Luka
Linda Er
Cerpen
Bronze
Hanya Saja
Linda Er
Flash
Pengakuan Yang Tidak Dijawab
Linda Er
Cerpen
Bronze
Red flag
Linda Er
Flash
Bronze
Potret Terakhir Azalea
Linda Er
Cerpen
Bronze
Langkah Langkah Kecil Aruna
Linda Er
Cerpen
Bronze
Persahabatan yang Pelan-Pelan Hilang
Linda Er
Cerpen
Bronze
Menghilang Tanpa Kata
Linda Er
Novel
Ketika Orang Dewasa Memilih Pergi
Linda Er