Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku selalu mencintainya—bukan setengah, bukan juga sekadar kebiasaan. Aku mencintainya dengan cara paling sunyi: menunggu, memberi, dan berharap tanpa pernah benar-benar ditanya apa kabarku. Aku menyayanginya sepenuh hati, meski sering kali hatiku sendiri tak sempat kusentuh.
Akulah yang selalu menghubungi lebih dulu. Menyusun kalimat dengan hati-hati, lalu menatap layar terlalu lama, menunggu centang biru yang tak kunjung berubah menjadi balasan. Pesanku menggantung di ruang hampa, seperti suaraku yang tak pernah benar-benar didengar.
Aku mengingat hari-hari pentingnya lebih baik daripada hari pentingku sendiri. Ulang tahunnya, hari pertama kuliahnya, bahkan tanggal-tanggal kecil yang mungkin hanya berarti baginya. Aku mengirim hadiah—bukan karena diminta, tapi karena aku ingin ia tahu: ada seseorang yang memikirkannya. Aku bahkan mengirimkan pulsa rutin untuknya, berharap itu menjadi alasan kecil baginya untuk menghubungiku lebih lama, meski hanya sesekali.
Setiap akhir bulan, aku selalu berada di tempat yang sama. Bangku tua di sudut stasiun kecil itu seolah sudah hafal bentuk tubuhku. Aku menunggunya pulang dari luar kota, dari tempat ia kuliah, dengan tas punggung dan wajah lelah yang selalu kurindukan. Kadang ia datang dan tersenyum seadanya. Kadang ia tidak datang sama sekali—tanpa kabar, tanpa penjelasan. Dan aku belajar menelan kecewa, seolah itu bagian dari mencintainya.
Sampai suatu hari, ia benar-benar datang. Wajahnya kusut, matanya lelah, tapi bukan karena perjalanan. Ada jarak aneh di antara kami, meski ia duduk tepat di depanku.
“Kita putus aja,” katanya tanpa basa-basi, tanpa jeda, tanpa peringatan.
Dadaku seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat. Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, suaraku bergetar, “Kenapa?”
Ia menghela napas, lalu menatap ke arah lain. “Satu tahun lebih pacaran sama kamu rasanya kayak makan sayur tanpa garam. Nggak ada rasanya. Aku nggak bisa lanjutin ini.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghancurkan. Aku ingin tertawa, ingin marah, ingin menyangkal. Tapi yang keluar hanya diam. Dalam kepalaku, berputar semua yang pernah kulakukan—semua penantian, semua perhatian, semua cinta yang kuberi tanpa hitung-hitungan.
Mungkin benar, baginya aku hambar. Tapi ia lupa, sayur tanpa garam tetap dimakan orang yang lapar. Dan aku… hanya mencintai orang yang tak pernah benar-benar ingin merasakannya.