Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bengkulu, 10 Maret 1869
Udara pagi itu beraroma kapur barus dan lilin baru. Ruang kelas Sekolah Melayu di Benkoelen (Bengkulu) dipenuhi anyaman bunga kertas dan daun kelapa muda. Tampak para murid Melayu dengan pakaian terbaik mereka—baju putih sedikit longgar, sarung sarat motif.
Chatieb berdiri di sudut, tangannya tergenggam di belakang punggung. Matanya yang tenang mengikuti setiap gerak siswa yang sedang menjawab soal-soal. Mereka sedang menyelesaikan ujian.
Tuan Pruijs van der Hoeven bertepuk tangan. “Bagus,” katanya dalam logat Belanda yang kental. Sebuah peti kayu dibuka, menampilkan 16 kain chintz bermotik cerah, sarung dan buku-buku berjumlah 120. Hadiah-hadiah itu diserahkan satu per satu.
Dalam sambutannya, Tuan Pruijs tak lupa memberikan pujian kepada Chatieb Labieh; ‘Terima Kasih kepada Chatieb, Seorang Guru yang patut diteladai ketekunanya, usaha, dan keterampilannya yang telah ditunjukkan dalam mengajar banyak muridnya membaca, menulis, berhitung, geografi, dan sejarah, serta aksara Belanda dan Arab.’ Ujar Tuan Pruijs.
Chatieb Labieh hanya tersenyum simpul, sedang para tamu yang hadir menengok, mencari sosok Chatieb. Chatieb hanya sedikit mengangguk kepada para tamu, sebagai tanda terima kasih.
4 Tahun Setelahnya ….
Fort de Kock, Februari 1873
Chatieb Labieh sekarang adalah guru di Fort de Kock. Penugasannya ia terima dengan lapang, berharap keputusan Resident adalah keputusan terbaik, ia juga merasa bahwa di Bengkulu banyak guru yang tak kalah hebat darinya. ‘Saya ini hanyalah guru yang ingin membersamai murid-murid dimanapun saya berada, di sini, di Bengkulu atau di Bukittinggi nanti, sama saja. Di sini ada saudara-saudara sekalian yang begitu hebat mendampingi anak-anak, dan saya pribadi banyak belajar dari saudara-saudara, saya banyak mengambil ilmu dari saudara sekalian. Saya juga sangat terbantu oleh saudara sekalian. Tujuan kita sama, bagaimana agar bangsa kita ini tidak kalah dengan bangsa lain. Jadi, saudara-saudara saya memang harus pindah tugas dari sini ke Bukittinggi, ada pepatah; orang boleh berganti, namun kebaikan-kebaikan akan menetap, ia akan tetap berada di sini, di sekolah saya dan kita semua, sekolah di Bengkulu ini.’
Begitulah yang Chatieb Labieh sampaikan saat perpisahannya dengan para guru di sekolahnya. Chatieb mengingat momen-momen itu lagi, ia termenung di tempat duduknya di ruang guru. Saat tiba-tiba, seorang muridnya mengetuk pintu, ‘Chatieb, apakah benar Chatieb akan di berhentikan Resident?’ Sambil menangis siswa tersebut langsung mencerca.
Chatieb Labieh tercengang, ia berdiri dari kursinya. Ia tahu soal ini, tapi bagaimana muridnya bisa tahu kabar ini? Ia lalu, sedikit berlari menghampiri muridnya yang masih di muka pintu. ‘Muridku, kau tau kabar itu dari mana?’ Tanya Chatieb. Muridnya hanya mengangkat tangannya yang menggenggam surat kabar. Diterimanya surat kabar itu, dibacanya sebuah artikel berbahasa Belanda;
"Pendidikan bagi masyarakat adat di provinsi ini tampaknya memiliki banyak hal yang dinantikan pada tahun 1873. Sekolah 'Kweekschool' untuk calon guru pribumi akan dibuka di Fort de Kock pada tanggal 10 Maret. Para gurunya adalah Gerth van Wijk, yang sebelumnya menjabat sebagai guru kedua di sekolah pelatihan Bandong; Harmsen, asisten guru di sekolah dasar Eropa di Fort de Kock; dan Daud Galar Radja Medan, guru pertama di sekolah pribumi di Padang. Dana telah tersedia untuk pembangunan gedung sekolah sementara dan gedung untuk menampung para peserta pelatihan. Dana yang diperlukan kini juga telah disediakan untuk perabotan, tempat tinggal, bahan ajar, dan lain-lain."
Waktu pemberhentiannya memang semakin dekat, namun tidak dipikirkan oleh Chatieb bahwa murid-muridnya mengetahuinya dari surat kabar. Ia hanya bisa memeluk muridnya yang menangis tersedu-sedu.
Informasi ini menyebar ke seluruh murid di sekolah Fort de Kock.
Keesokan harinya, ruang kelas yang biasanya begitu hidup oleh proses belajar mengajar kini kosong, hanya ada bangku dan meja yang sunyi. Seluruh murid kini berada di tanah lapang di depan sekolah Fort de Kock. ‘Kami tidak mau masuk ruang kelas sampai Chatieb dipastikan mengajar kami!’ Seorang murid berteriak. ‘Jangan berhentikan guru yang kami cintai!’ Teriak murid lain menimpali. Guru-guru tampak bingung, mereka tak mampu berbuat banyak. Chatieb Labieh mencoba menenangkan menghadap para siswa, ia maju ke depan meninggalkan guru yang berdiri di belakangnya.
‘Tidak Chatieb! Kami tidak akan diam saja! Kami tahu apa yang baik buat kami!’ Seru seseorang murid yang tampak menahan tangis.
‘Kami semua akan menulis surat pengunduran diri juga!’ Suara yang bercampur tangis dari seorang murid. Dan disambut suara gemuruh dari seluruh murid;
‘Ya! Kami juga mundur!’
‘Kami Keluar!’
‘Kami Bersama Chatieb Labieh!’
Seluruh murid tak kuasa menahan rasa kecewanya. Entah siapa yang memulai, sekarang sudah ada surat pernyataan pengunduran diri dengan tulisan tangan berkeliling dan bergantian ditanda tangani.
‘Ayo tanda tangan semua! Kita kirim surat pengunduran ini ke Resident!’ Salah satu berteriak setelah menandatangani.
Warga sekitar yang mendengar keributan ini tampak ramai berkumpul di depan sekolah. Mereka berdesakan, saling berbisik, penasaran apa yang sedang terjadi. Suara isak tangis murid lambat laun mereda, berganti sunyi gedung sekolah, murid-murid telah pergi ke kantor residen, guru-guru tak punya kuasa pulang ke rumah masing-masing.
Sekarang tertinggal Chatieb Labieh bersama hening ruang kelas. Ia tak mampu membendung kesedihannya, ia menunduk lama, menyelami segala yang sudah dialaminya. Ia tak menyangka bahwa semangat dan keceriaan murid-muridnya yang calon guru itu bisa menjadi tangis yang begitu hebat dalam seketika. Ia adalah guru, namun ia tak punya kuasa atas dirinya, semakin dalam tunduknya, semakin ia tenggelam dalam jiwanya, doanya seperti sabda mantra; ‘murid-murid sejatinya adalah jiwa-jiwa yang merdeka, tiada yang mampu membendungnya, kelak mereka akan menemukan jalannya, jalan kemerdekaan jiwanya.'
Keesokan hari, benar saja, tidak ada murid yang datang ke sekolah. Kabar ini sudah menyebar hingga termuat disebuah Koran berbahasa Belanda yang dipegang Chatieb Labieh;
“Masih perlu dicatat, bahwa di sini orang ingin tahu (ada isu) bahwa para siswa Sekolah Normal di sini telah menyampaikan pengunduran diri mereka kepada Residen. Penyebabnya dikatakan adalah pemberian surat pemberhentian kepada guru pribumi Chatieb Labieh dan pengangkatan Radja Medan sebagai penggantinya.”
***
Pada akhirnya, murid-murid Chatieb Labieh tidak kembali. Sekolah tetap dibuka kembali oleh Rasident, bahkan prosesnya dipercepat, menjadi Kweekschool.
Pada tahun pertama sekolah itu jumlah muridnya tercatat hanya 15 orang. Mereka tidak berasal dari Bukittinggi saja, tapi juga dari luar daerah, seperti Bengkulu, Lampung, dan Pulau Nias. Beberapa murid yang dikirim kemudian dipulangkan karena tidak lulus tes kualifikasi.