Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di malam yang dingin itu, gerimis turun tertahan, seolah enggan membasahi bumi sepenuhnya. Aku duduk di balik kemudi dengan perasaan yang berkecamuk, dan ternyata, itu bukanlah depresi. Itu seperti kehampaan yang membingungkan, yang terus membuat diri ini gundah gulana.
Sebuah perasaan asing yang kuyakini pernah kurasakan sebelumnya, dan kini ia sedang menguasai kepalaku. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukanlah karena kamu. Ya, harusnya bukan karena kamu.
Namun, tekanan di dadaku terlanjur memuncak. Aku memutuskan untuk pergi keluar, menyetir sendirian menembus tengah malam yang sunyi. Tidak ada teman bicara, hanya deretan lampu jalan yang melintas bergantian, melemparkan cahaya kuning pucat ke dalam mobil.
Dalam keheningan itu, suaramu kembali menggema. “Bisakah kamu berhenti menghantuiku sekarang?” bisikku pada udara yang hampa. Dirimu tetap ada di sana, di sudut mataku, tak kunjung pergi.
Waktu itu, aku mengira jika menyimpan perasaan ini untuk diriku sendiri saja sudah cukup. Tidak harus lagi diutarakan, aku akan merasa aman dalam diam. Namun ternyata, aku salah.
Sekarang, aku menginginkan satu hal: dapatkah aku bertemu denganmu sekali lagi? Aku butuh pertemuan itu bukan untuk memilikimu, tetapi hanya ingin membuktikan seberapa besar kesetiaanku pada rasa sakit ini.
Aku ingat bagaimana matamu menatapku—tatapan yang seolah menelan seluruh keberadaanku, dan membuatku jatuh dalam hipnotis yang tak berujung. Aku sering mendapati diriku yang mencoba membaca gerakan bibirmu, tenggelam dalam fantasimu, yang ternyata aku sendiri yang menciptakan itu.
Dalam lamunanku di sana, aku melihatmu melambaikan tanganmu perlahan, sebuah gerakan kecil yang mendengungkan suara-suara di kepalaku. Pipimu yang bersinar tertimpa oleh cahaya-cahaya di sekitarnya... membuatku berbisik di dalam hati, "Akankah kamu menjadi Seraphim-ku?”
Sosok malaikat pelindung yang anggun dan suci, yang hanya bisa ku puja tanpa berani kusentuh. Kamu adalah sesuatu yang kurindukan. Ya, sekarang aku ingat, kamu adalah yang selalu kurindukan.
Aku tahu, kamu tidak pernah menyadari apa pun. Kamu tidak pernah melihat bagaimana jantungku terus-menerus terjatuh, tercerai-berai di bawah kakimu, lalu merangkai dirinya kembali hanya untuk terjatuh lagi. Dan biarlah tetap seperti itu.
Kamu tidak perlu tahu. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku akan menyimpan rahasia ini jauh di palung hatiku, bersama keheninganku di malam yang sejuk; bahwa sebenarnya yang paling nyata adalah... yang aku inginkan hanyalah kamu.
Ya, all i want is you...
***
Terinspirasi penuh dari lagu "seraphim" - Ardi ananda (Kisah singkat yang di interpretasi bebas dari lirik lagu tersebut)