Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Lampu Terakhir di Lorong B
1
Suka
3,077
Dibaca

Tidak ada yang benar-benar memperhatikan Lorong B.

Rumah sakit itu sudah tua—dibangun sebelum gedung-gedung modern menjamur, dengan dinding hijau pucat yang catnya mengelupas di sudut-sudut. Lorong A selalu ramai. Lorong C dipakai staf. Tapi Lorong B… dibiarkan.

Hanya satu hal yang konsisten di sana.

Lampu terakhir.

Setiap malam, tepat setelah jam kunjungan selesai, lampu neon di ujung Lorong B selalu menyala. Padahal saklarnya rusak sejak lama.

“Korsleting listrik,” kata Pak Harun, petugas keamanan malam, sambil menguap. “Gedung tua. Biasa.”

Aku hampir percaya. Hampir.

Sampai malam ketiga aku yang berjaga.

Aku perawat magang. Shift malam adalah hukuman sekaligus pelajaran. Saat jam menunjukkan 01.47, aku berjalan melewati Lorong B untuk ke pantry. Lorong itu kosong. Sunyi. Lampu-lampu lain mati, kecuali satu—lampu neon yang berdengung pelan, berkedip seperti napas yang tidak stabil.

Aku berhenti melangkah.

Lampu itu baru saja menyala.

Di ruang ICU, seorang pasien lansia sedang kritis. Monitor jantungnya berbunyi pelan, ritmenya tak teratur. Aku kembali ke nurse station. Lima menit kemudian, alarm panjang terdengar.

Dokter menutup tirai.

Monitor berhenti.

Dan entah kenapa—aku tahu sebelum menoleh—lampu di Lorong B pasti mati.

Aku terpaku.

Besoknya aku mencatat waktu. Sengaja. Pasien sekarat, lampu menyala. Pasien meninggal, lampu mati. Tidak pernah meleset. Tidak pernah lebih cepat. Tidak pernah terlambat.

Aku melapor ke bagian teknik. Mereka mengganti kabel. Mematikan panel. Bahkan mencabut aliran listrik khusus Lorong B.

Lampu itu tetap menyala malam berikutnya.

“Ada yang mainin saklar?” tanyaku.

Pak Harun menggeleng pelan. “Nggak ada saklar. Dari dulu nggak ada.”

Aku mulai mencari arsip lama. Denah rumah sakit sebelum renovasi. Lorong B tidak selamanya berfungsi sebagai koridor.

Dulu, itu ruang isolasi.

Zaman wabah. Zaman ketika keluarga pasien tidak boleh masuk. Tidak boleh menyentuh. Tidak boleh berpamitan.

Di catatan manuskrip usang, tertulis satu prosedur sederhana:

Jika pasien kritis, keluarga menyalakan lampu di luar ruangan sebagai tanda: jangan masuk.

Aku menutup berkas itu dengan tangan gemetar.

Malam berikutnya, aku sengaja berdiri di Lorong B.

Lampu itu menyala perlahan, seperti seseorang yang mengingat sesuatu. Dengungnya lembut. Tidak mengancam. Justru… sabar.

Di ICU, seorang anak kecil terbaring. Orang tuanya menunggu di luar, memeluk satu sama lain tanpa suara.

Monitor berbunyi dengan nada statis.

Lampu mati.

Aku berdiri sendirian di lorong kosong, menyadari sesuatu yang membuat tenggorokanku kering.

Lampu itu bukan karena korslet.

Bukan hantu.

Itu ingatan.

Jejak terakhir dari keluarga-keluarga yang dulu tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Sebuah tanda yang terus dinyalakan—bukan untuk melarang masuk, tapi untuk mengingatkan:

Ada seseorang yang sedang pergi. Dan mereka pantas dihormati dengan sunyi.

Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi menyebut Lorong B sebagai lorong kosong.

Dan setiap kali lampu itu menyala, aku berhenti berjalan.

Karena seseorang, entah siapa, sedang berpamitan.

Dan aku tidak mau masuk tanpa izin.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Bayangan kata
alifa ayunindya maritza
Flash
Di Mana Aku?
Jie Jian
Flash
Lampu Terakhir di Lorong B
Aulia umi halafah
Flash
Tebak Parasitnya
Jessica Laureen.C
Cerpen
Pesugihan
Iena_Mansur
Novel
KIDAL
Ade Agustia Putri
Cerpen
Rumah Tua dan Buku-buku yang Hilang
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Novel
1996
Elliene Hubbs
Flash
Satu Lembar Kertas
Rimadian
Flash
Bronze
Akun Asli Cia Bukan, Sih?
Nuel Lubis
Novel
Life and Dream
Irwan Moch Ridwan
Cerpen
Menerka Dibalik Kisah Kehidupan
dreaminghand
Cerpen
Bronze
Penemuan dan Kekuatan Baru
Mulyana
Flash
Mencari Jenazah di Dalam Danau
Lumba-Lumba
Novel
Kirana dan Pangeran Cinta - Into Darkness
Cancan Ramadhan
Rekomendasi
Flash
Lampu Terakhir di Lorong B
Aulia umi halafah
Cerpen
Rapat Tanpa Nama
Aulia umi halafah
Flash
Sekolah yang Pulang Lebih Dulu
Aulia umi halafah
Novel
Tanda Tangan Neraka
Aulia umi halafah
Cerpen
Bronze
Penumpang Terakhir Malam Itu
Aulia umi halafah
Cerpen
Surat yang Tidak Pernah Sampai
Aulia umi halafah
Flash
Orang yang Selalu Pulang Lebih Dulu
Aulia umi halafah
Flash
Nama yang Tidak Pernah Dipanggil
Aulia umi halafah
Cerpen
Anggaran Yang Hilang Jam Dua Pagi
Aulia umi halafah
Cerpen
Salah Kirim Chat, Malah Jadi Gebetan
Aulia umi halafah
Cerpen
Lorong yang Menganga
Aulia umi halafah
Cerpen
Bronze
Saat Gelap Tak Lagi Meminta Izin
Aulia umi halafah
Cerpen
Bronze
Ketika Lampu Padam
Aulia umi halafah
Cerpen
Jodoh yang Dipersiapkan oleh Allah
Aulia umi halafah
Cerpen
Bronze
Jam Pulang yang Selalu Sama
Aulia umi halafah