Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tidak ada yang benar-benar memperhatikan Lorong B.
Rumah sakit itu sudah tua—dibangun sebelum gedung-gedung modern menjamur, dengan dinding hijau pucat yang catnya mengelupas di sudut-sudut. Lorong A selalu ramai. Lorong C dipakai staf. Tapi Lorong B… dibiarkan.
Hanya satu hal yang konsisten di sana.
Lampu terakhir.
Setiap malam, tepat setelah jam kunjungan selesai, lampu neon di ujung Lorong B selalu menyala. Padahal saklarnya rusak sejak lama.
“Korsleting listrik,” kata Pak Harun, petugas keamanan malam, sambil menguap. “Gedung tua. Biasa.”
Aku hampir percaya. Hampir.
Sampai malam ketiga aku yang berjaga.
Aku perawat magang. Shift malam adalah hukuman sekaligus pelajaran. Saat jam menunjukkan 01.47, aku berjalan melewati Lorong B untuk ke pantry. Lorong itu kosong. Sunyi. Lampu-lampu lain mati, kecuali satu—lampu neon yang berdengung pelan, berkedip seperti napas yang tidak stabil.
Aku berhenti melangkah.
Lampu itu baru saja menyala.
Di ruang ICU, seorang pasien lansia sedang kritis. Monitor jantungnya berbunyi pelan, ritmenya tak teratur. Aku kembali ke nurse station. Lima menit kemudian, alarm panjang terdengar.
Dokter menutup tirai.
Monitor berhenti.
Dan entah kenapa—aku tahu sebelum menoleh—lampu di Lorong B pasti mati.
Aku terpaku.
Besoknya aku mencatat waktu. Sengaja. Pasien sekarat, lampu menyala. Pasien meninggal, lampu mati. Tidak pernah meleset. Tidak pernah lebih cepat. Tidak pernah terlambat.
Aku melapor ke bagian teknik. Mereka mengganti kabel. Mematikan panel. Bahkan mencabut aliran listrik khusus Lorong B.
Lampu itu tetap menyala malam berikutnya.
“Ada yang mainin saklar?” tanyaku.
Pak Harun menggeleng pelan. “Nggak ada saklar. Dari dulu nggak ada.”
Aku mulai mencari arsip lama. Denah rumah sakit sebelum renovasi. Lorong B tidak selamanya berfungsi sebagai koridor.
Dulu, itu ruang isolasi.
Zaman wabah. Zaman ketika keluarga pasien tidak boleh masuk. Tidak boleh menyentuh. Tidak boleh berpamitan.
Di catatan manuskrip usang, tertulis satu prosedur sederhana:
Jika pasien kritis, keluarga menyalakan lampu di luar ruangan sebagai tanda: jangan masuk.
Aku menutup berkas itu dengan tangan gemetar.
Malam berikutnya, aku sengaja berdiri di Lorong B.
Lampu itu menyala perlahan, seperti seseorang yang mengingat sesuatu. Dengungnya lembut. Tidak mengancam. Justru… sabar.
Di ICU, seorang anak kecil terbaring. Orang tuanya menunggu di luar, memeluk satu sama lain tanpa suara.
Monitor berbunyi dengan nada statis.
Lampu mati.
Aku berdiri sendirian di lorong kosong, menyadari sesuatu yang membuat tenggorokanku kering.
Lampu itu bukan karena korslet.
Bukan hantu.
Itu ingatan.
Jejak terakhir dari keluarga-keluarga yang dulu tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Sebuah tanda yang terus dinyalakan—bukan untuk melarang masuk, tapi untuk mengingatkan:
Ada seseorang yang sedang pergi. Dan mereka pantas dihormati dengan sunyi.
Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi menyebut Lorong B sebagai lorong kosong.
Dan setiap kali lampu itu menyala, aku berhenti berjalan.
Karena seseorang, entah siapa, sedang berpamitan.
Dan aku tidak mau masuk tanpa izin.