Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Mother Earth
1
Suka
2,266
Dibaca

​Akhir-akhir ini aku mulai kalut. Aku hampir membanting ponselku di trotoar; suara dari seberang sana tidak berhenti menagih angka-angka yang belum sempat kurevisi di meja kerja.Langkah lunglaiku menyusuri jalan pulang, kusangka tempatku untuk pulang adalah rumah, namun itu hanya sebuah bangunan untukku terlelap saja. Di dalam sana, masih ada manusia yang terus menekanku untuk tetap menghasilkan uang dari hutang yang tak pernah kucicipi. Napas di dadaku terus menyempit, seolah-olah aku sedang tenggelam dalam kolam aspal yang mendidih.

​Maka, aku memilih melarikan diri, menjemput pelukan Mother Earth. Namun, ia tidak memberikan pelukannya secara cuma-cuma. Aku mempersiapkan segalanya seorang diri, karena ini sudah kesekian kalinya aku menjemput rinduku.

***

​Jalur pendakian ini curam dan beringas, seolah sengaja ingin menguji seberapa besar nyaliku untuk mencari jalan pulang yang sebenarnya. Langit mendadak muram, menjatuhkan gerimis tipis yang mengubah tanah menjadi bubur licin. Berkali-kali sepatuku tergelincir di atas akar pohon yang menonjol. Betis kaku, paru-paruku terasa seperti terbakar saat dipaksa menghirup udara yang kian tipis dan dingin menusuk tulang. Di tengah kegelapan hutan, keraguan kadang berbisik: "Untuk apa kau terus melakukan ini?" Namun, setiap langkah berat itu adalah cara tubuhku membuang racun dunia. Keringat yang bercampur rintik hujan adalah air mata yang tidak sanggup kutumpahkan di hadapan orang-orang di rumah.

***

​Kini, semua lelah itu lunas. Di atas puncak ini, emosi liar yang dicambuk kerasnya hidup meluruh perlahan bersama uap segelas kopi panas. Bau tanah basah dan aroma pinus yang tajam menyerbu indra penciumanku, jauh lebih jujur daripada wangi parfum di ruang kantor yang penuh kepalsuan.

​Aku menyesap kopi, membiarkan panasnya menjalar ke ujung-ujung jari yang kaku. Alam tidak pernah berkhianat. Sejauh apa pun kakiku melangkah, ia selalu menyuguhkan kasih yang memanjakan mata melalui hamparan awan yang berarak di bawah kaki. Di bawah sana, di balik kabut tebal itu, kota dan rumah yang menyesakkan terlihat seperti kotak mainan yang tak berarti. Dunia mungkin masih sibuk menagih janji, tapi di sini, hanya ada bisikan angin yang menyapu telinga, seolah berkata bahwa aku cukup hanya dengan bernapas.

​Aku menutup mata sejenak, merasakan kulitku disapa udara pegunungan yang murni. Saat manusia dan bangunan beton mulai meremukkan jiwaku, rindu akan kehangatan sunyi ini selalu menyeret langkahku untuk kembali. Di sini, aku belajar tentang mana yang harus digenggam kuat dan mana yang harus dilepaskan seperti asap kopi ini yang menguap ke langit.

​Berdoa pada waktu agar sudi memberi sisa usia yang panjang, hanya untuk satu tujuan: selalu bisa pulang ke pelukan alam yang mencintai anaknya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Mother Earth
stillzee
Flash
Warna Pertama
INeeTha
Cerpen
Sinden Jugala
Lail Arahma
Cerpen
Akhsara
Riyan Iyan
Flash
Bronze
Pengecut yang disukai Tuhan
K. Istiana
Flash
Bronze
Gadis yang Mati di Atap
verlit ivana
Novel
DUKA SERENA
Ai Pitriani
Flash
Seri Kerangka Berpikir: Logis Dan Non-Logis
M. Fagih Alhafizh
Cerpen
Takhta yang Mulia
Achmad Afifuddin
Flash
Musang; Leo Tolstoy
Ahmad Muhaimin
Flash
Uang Panas
Hans Wysiwyg
Cerpen
Putus, Tapi Nggak Putus Asa
Tresnaning Diah
Flash
Aku Hanya Ingin Bercerita
Awan ElBiru
Cerpen
Ana Mia
Ra
Flash
Harimau si raja hutan
Nunu nugraha
Rekomendasi
Flash
Mother Earth
stillzee
Cerpen
ANGLE
stillzee
Novel
V.R.R - Virasat Rumah Rubuh
stillzee
Novel
Orca
stillzee
Cerpen
Between Giants
stillzee
Cerpen
Pelukan Terakhir dari Alam Twilight
stillzee