Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Mother Earth
1
Suka
1,743
Dibaca

​Akhir-akhir ini aku mulai kalut. Aku hampir membanting ponselku di trotoar; suara dari seberang sana tidak berhenti menagih angka-angka yang belum sempat kurevisi di meja kerja.Langkah lunglaiku menyusuri jalan pulang, kusangka tempatku untuk pulang adalah rumah, namun itu hanya sebuah bangunan untukku terlelap saja. Di dalam sana, masih ada manusia yang terus menekanku untuk tetap menghasilkan uang dari hutang yang tak pernah kucicipi. Napas di dadaku terus menyempit, seolah-olah aku sedang tenggelam dalam kolam aspal yang mendidih.

​Maka, aku memilih melarikan diri, menjemput pelukan Mother Earth. Namun, ia tidak memberikan pelukannya secara cuma-cuma. Aku mempersiapkan segalanya seorang diri, karena ini sudah kesekian kalinya aku menjemput rinduku.

***

​Jalur pendakian ini curam dan beringas, seolah sengaja ingin menguji seberapa besar nyaliku untuk mencari jalan pulang yang sebenarnya. Langit mendadak muram, menjatuhkan gerimis tipis yang mengubah tanah menjadi bubur licin. Berkali-kali sepatuku tergelincir di atas akar pohon yang menonjol. Betis kaku, paru-paruku terasa seperti terbakar saat dipaksa menghirup udara yang kian tipis dan dingin menusuk tulang. Di tengah kegelapan hutan, keraguan kadang berbisik: "Untuk apa kau terus melakukan ini?" Namun, setiap langkah berat itu adalah cara tubuhku membuang racun dunia. Keringat yang bercampur rintik hujan adalah air mata yang tidak sanggup kutumpahkan di hadapan orang-orang di rumah.

***

​Kini, semua lelah itu lunas. Di atas puncak ini, emosi liar yang dicambuk kerasnya hidup meluruh perlahan bersama uap segelas kopi panas. Bau tanah basah dan aroma pinus yang tajam menyerbu indra penciumanku, jauh lebih jujur daripada wangi parfum di ruang kantor yang penuh kepalsuan.

​Aku menyesap kopi, membiarkan panasnya menjalar ke ujung-ujung jari yang kaku. Alam tidak pernah berkhianat. Sejauh apa pun kakiku melangkah, ia selalu menyuguhkan kasih yang memanjakan mata melalui hamparan awan yang berarak di bawah kaki. Di bawah sana, di balik kabut tebal itu, kota dan rumah yang menyesakkan terlihat seperti kotak mainan yang tak berarti. Dunia mungkin masih sibuk menagih janji, tapi di sini, hanya ada bisikan angin yang menyapu telinga, seolah berkata bahwa aku cukup hanya dengan bernapas.

​Aku menutup mata sejenak, merasakan kulitku disapa udara pegunungan yang murni. Saat manusia dan bangunan beton mulai meremukkan jiwaku, rindu akan kehangatan sunyi ini selalu menyeret langkahku untuk kembali. Di sini, aku belajar tentang mana yang harus digenggam kuat dan mana yang harus dilepaskan seperti asap kopi ini yang menguap ke langit.

​Berdoa pada waktu agar sudi memberi sisa usia yang panjang, hanya untuk satu tujuan: selalu bisa pulang ke pelukan alam yang mencintai anaknya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Mother Earth
stillzee
Flash
Bronze
Parallel Myself in Kanagawa Morning
Silvarani
Flash
Breakfast at Kempinski's
Ardhi Widjaya
Flash
Seri Suara Dan Opini : Mulut Yang Diam, Hati Yang berteriak
M. Fagih Alhafizh
Cerpen
Akhsara
Riyan Iyan
Cerpen
Lensa di Balik Tirai Dapur
INeeTha
Cerpen
Bronze
Bukan Pencuri
Titin Widyawati
Flash
Satu Langkah Lebih Berani
Penulis N
Flash
Beda Luka Beda Rasa
lidia afrianti
Cerpen
Bantu Aku Mengeja "Tuhan"
dari Lalu
Novel
DUKA SERENA
Ai Pitriani
Flash
Mawar yang Tak Menyadari Durinya
Jasma Ryadi
Novel
Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap
Bintang Senjaku
Flash
Topografi Luka
Wulan Kashi Dhamar
Flash
Bronze
Terombang di Palembang
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Mother Earth
stillzee
Novel
Orca
stillzee
Cerpen
Between Giants
stillzee
Cerpen
ANGLE
stillzee
Novel
V.R.R - Virasat Rumah Rubuh
stillzee
Cerpen
Pelukan Terakhir dari Alam Twilight
stillzee