Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Hari Ini, Aku Sadar
8
Suka
21,924
Dibaca

Dia bagai potrait sempurna. Sedangkan aku tahulah seperti apa.

Kharisma dan keanggunannya membuatku kagum sekaligus tahu diri. Dia lebih cocok disandingkan dengan Nalendra.

"Maaf. Saya hanya ingin kamu mengetahui kebenarannya," katanya sesal.

Aku tak bisa membencinya. "Iya. Nggak papa Mbak Najwa. Saya paham maksud Mbak apa."

"Sekali lagi, saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya dengar. Bukan melabrak anda-"

"Saya mengerti. Terima kasih telah menyuarakan isi hati anda. Seharusnya saya yang sadar bahwa Kak Nalendra biasa saja, ehm, tidak senang dengan cara pendekatan saya."

Jeda antara kami. Kuteguk kopi yang telah dingin.

"Jadi, apa yang harus saya lakukan?"

Dia menimbang lama. "Jika kamu berhenti bertemu dengannya, bisa?"

Aku tersenyum sambil membuka ponsel. Kuhapus nomor Nalendra dan history chat kami yang di mana dia selalu membalas singkat ketika kutanya. "Bisa, Mbak. Saya juga sudah menghapus dan memblokir nomornya."

Dia masih ragu. "Perasaanmu ke dia?"

"Saya akan berhenti menyukainya. Lagipula perasaan saya hanya sepihak."

Dia terlihat puas. "Jadi perasaanmu ke dia tidak sedalam perasaan saya ke Nalendra?"

"Hari ini, saya sadar Mbak Najwa yang lebih berhak bersamanya."

Aku memandang wanita cantik itu berjalan bangga keluar dari restoran ini. Kemudian aku membuka chat grup alumni SMA. Mataku menatap lama foto undangan pernikahan.

Bagaimana bisa rasanya tak pernah berubah? Aku menopang daguku dengan tangan kanan. Aku ingin move on tapi setiap mau move on selalu gagal. Seperti sekarang ini.

Yah, salahku juga mencoba macam pendekatan ala anak zaman sekarang demi mengusir kebosanan.

Tapi, Nalendra lebih baik dengan Najwa. Semua orang pasti setuju.

"Dey Raiskandar."

Aku membeku. Hanya satu orang yang selalu memanggil nama lengkapku.

Dia duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Najwa. Tatapannya tajam dan aku tak bisa membaca raut wajahnya.

"Kak Nalendra, wah! Kok bisa kita ketemu di sini. Baru datang?" sapaku gugup.

"Bukan sepihak."

"Apa?" tanyaku tak ngeh.

"Aku juga menyukaimu. Ehm, lebih ke cinta."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Hari Ini, Aku Sadar
Ralali Sinaw
Novel
BRAD
KH_Marpa
Flash
Tak Usah Belanja
Biru Tosca
Flash
Bronze
Ruang yang Menjelma Madu menjadi Racun
Jalvanica
Flash
Pertengkaran Kecil Menuju Puncak Besar (Sintas Universe)
Keita Puspa
Novel
Sebuah Rasa dan Asa
Aylani Firdaus
Novel
Luka yang Masih Tertinggal
Naily Infiroha
Novel
Mission Complete
Sanifidya
Novel
Bronze
Anak Kolong Bendungan
Ahmad Muzaki
Flash
Kupikir itu cinta
winda nurdiana
Flash
Dua Gantungan Kunci
Emur Paembonan S
Flash
Tentang Jalan di Malioboro, Yogyakarta
Amanda Alodyasari
Novel
MENTARI
Vanillarose
Novel
Gold
Bride Wannabe
Bentang Pustaka
Flash
Donat Dalam Gigi
Shinta Larasati Hardjono
Rekomendasi
Flash
Bubar dari Resepsi Nikahan
Ralali Sinaw
Flash
Hari Ini, Aku Sadar
Ralali Sinaw
Novel
Badal Haji
Ralali Sinaw
Flash
Spidol Biru
Ralali Sinaw
Flash
Selamat Ultah, Bocil!
Ralali Sinaw
Flash
Kisah Masa Lalu
Ralali Sinaw
Novel
BYSTANDER
Ralali Sinaw
Flash
Andai Aku Bisa
Ralali Sinaw
Flash
Angan Selintas
Ralali Sinaw
Novel
Bronze
Spill the Tea?
Ralali Sinaw
Cerpen
Nada dan Canda
Ralali Sinaw
Flash
1 Pesan Baru
Ralali Sinaw
Skrip Film
One of The Finest Memories
Ralali Sinaw
Skrip Film
Sejak Juni Menjadi Dingin
Ralali Sinaw
Skrip Film
Blok E
Ralali Sinaw