Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ayah meninggalkan sebuah buku catatan tipis berwarna cokelat. Sampulnya keras, sudutnya tumpul, dan baunya seperti kayu yang lama tersimpan. Di halaman pertama tertulis rapi: ”Rumus membangun rumah”
Isinya presisi.
Ukuran pondasi.
Perbandingan semen dan pasir.
Sudut atap agar air hujan jatuh ke arah yang benar.
Jarak antar tiang supaya rumah tidak condong ketika angin datang.
Aku membaca semuanya setelah pemakaman ibu. Duduk sendirian di lantai rumah yang masih berdiri, tapi terasa kosong. Ayah tak pernah menulis apa pun tentang suara piring di pagi hari, atau cara menghadapi malam yang terlalu panjang.
Di halaman ke-23, ayah menjelaskan cara memperkuat dinding agar tak retak oleh gempa kecil. Aku menutup buku itu lama-lama, menyadari sesuatu yang ganjil: rumah ini tak runtuh saat ibu pergi, tapi aku yang hampir roboh.
Tak ada rumus untuk itu.
Aku membalik halaman demi halaman, berharap menemukan catatan kecil coretan tentang kehilangan, atau setidaknya satu kalimat yang mengatakan bahwa retak juga manusiawi. Tapi ayah selalu berhenti pada hal-hal yang bisa diukur.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mengambil pulpen dan menulis di halaman terakhir yang kosong:
”Jika suatu hari rumah terasa terlalu sunyi, duduklah di lantainya. Dengarkan napasmu sendiri. Jika masih bernapas, berarti rumah itu belum benar-benar runtuh.”
Aku menutup buku itu dan meletakkannya kembali di rak.
Rumah ini mungkin dibangun oleh ayah.
Tapi untuk tinggal di dalamnya setelah kehilangan, aku harus menemukan rumusku sendiri.