Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
7
Suka
18,447
Dibaca

Aku berdiri dengan kaki telanjang, merasakan udara kering menyapu wajahku, membiarkan pasir menggigit luka-luka kecil yang tak pernah sempat kusebutkan namanya. Laut terbentang di hadapanku seperti usia yang panjang: indah dari jauh, kejam ketika didekati. Ombak datang silih berganti bagaikan hari-hari yang tak pernah bertanya apakah aku siap menerimanya.

Hidup, rupanya, adalah pasang yang tak bisa ditawar. Ia mengangkat harapan setinggi cakrawala, lalu surut tanpa pamit, meninggalkan bangkai-bangkai mimpi terdampar di garis pantai.

Aku memunguti sisa-sisa itu satu per satu, kerang pecah bernama kenangan, rumput laut kusut bernama penyesalan. Semua asin. Semua perih.

Angin berbisik tentang keberanian, tetapi juga membawa aroma kegagalan dari kapal-kapal yang karam. Doa-doa yang tenggelam, terikat pada jangkar tua, tak pernah kembali ke permukaan. Kadang, aku bingung dalam menerka perbandingan antara dosa dan pahala. Apakah keduanya ditimbang? Ataukah dibiarkan bercampur dengan air garam?

Pantai, saksi bisu dari perpisahan yang berulang. Ia menerima pelukan ombak tanpa pernah benar-benar memilikinya. Ya, seperti aku. Aku yang belajar mencintai hidup, meski tahu segalanya akan pergi, bahkan menyakiti.

“Sampai kapan berdiri terus di situ, Nak?” tanya ibuku dengan suara yang meneduhkan.

Aku menyeka kedua sudut mataku. “Apakah Ibu bangga kepadaku?”

“Tentu,” jawab Ibu, cepat. Suaranya berkejaran dengan debur yang menyapa karang. Ia seolah menahan laju pertanyaanku yang lain. “Tidak ada orang tua yang tidak bangga terhadap anaknya sendiri.”

Hening. Tiba-tiba semuanya terasa diam. Ingatan kembali ke masa dua puluh enam tahun yang lalu. Kala itu, aku menunjukkan raporku dengan tulisan peringkat satu di kelas. Ibu tersenyum bangga, mengusap lembut kepalaku, dan menggendongku pulang.

Kini, aku terlunta, tertatih menapaki dunia. Cita-cita terburai, masa depan terlerai. Mereka menuntutku untuk sempurna dalam semalam, sementara lukaku tak menunggu untuk diobati.

“Tapi aku gagal, Bu.” Aku menurunkan kepala. Basah semakin naik hingga nyaris menyentuh lutut. “Aku tidak jadi siapa-siapa,” ucapku pelan, bergetar.

Ibu menyeret langkah, menghampiriku. Tangannya menyentuh lenganku. “Tidak jadi siapa-siapa bukan berarti kamu tidak ada. Kamu masih bisa berdiri di sini, itu cukup.”

Aku berbalik badan. Menarik resah yang bersemayam, mendekap harapan yang datang bersama Ibu. Namun, Ibu menghilang di balik siluet senja. Ia tak pernah kembali setelah menerima raporku hari itu. Hanya suaranya yang menetap di benakku.

Malam turun, laut menghitam, dan aku tetap di sini—sendiri, rapuh, tetapi masih bisa bernapas. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
EGOIS
Yutanis
Flash
BUJANGAN BAJINGAN
Katangga
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Tangan Kanan
Alifia Sastia
Novel
My OCD husband
Dina Nur Octaviana
Novel
Bronze
Dawuh
Sena N. A.
Skrip Film
Luka Tanda Tanya (Script)
Martha Z. ElKutuby
Flash
Bronze
Kalau Aku Anak Panti, Memang Kenapa?
Nuel Lubis
Flash
Wartawan dan Mimpi Bodohnya
Athena Atlantia Muara
Flash
Bronze
Kelas Menjadi Orang Tua
Liza Aprilia Y
Flash
Bronze
Teguran Peristiwa
Nuel Lubis
Flash
Bronze
Ulang Tahun
SIONE
Flash
Bronze
Bola itu Bulat
Silvarani
Flash
Semut dan Gerombolannya
Binaarr
Novel
Gold
PCPK I Will Always Love You
Noura Publishing
Rekomendasi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Flash
Datang
Jasma Ryadi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Flash
Rumah Tanpa Isinya
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Laut yang Tak Menjawab
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Dua Kunci
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Flash
Jejak
Jasma Ryadi
Flash
Sisa Rindu
Jasma Ryadi
Flash
Sosok yang Lain
Jasma Ryadi