Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
7
Suka
17,117
Dibaca

Aku berdiri dengan kaki telanjang, merasakan udara kering menyapu wajahku, membiarkan pasir menggigit luka-luka kecil yang tak pernah sempat kusebutkan namanya. Laut terbentang di hadapanku seperti usia yang panjang: indah dari jauh, kejam ketika didekati. Ombak datang silih berganti bagaikan hari-hari yang tak pernah bertanya apakah aku siap menerimanya.

Hidup, rupanya, adalah pasang yang tak bisa ditawar. Ia mengangkat harapan setinggi cakrawala, lalu surut tanpa pamit, meninggalkan bangkai-bangkai mimpi terdampar di garis pantai.

Aku memunguti sisa-sisa itu satu per satu, kerang pecah bernama kenangan, rumput laut kusut bernama penyesalan. Semua asin. Semua perih.

Angin berbisik tentang keberanian, tetapi juga membawa aroma kegagalan dari kapal-kapal yang karam. Doa-doa yang tenggelam, terikat pada jangkar tua, tak pernah kembali ke permukaan. Kadang, aku bingung dalam menerka perbandingan antara dosa dan pahala. Apakah keduanya ditimbang? Ataukah dibiarkan bercampur dengan air garam?

Pantai, saksi bisu dari perpisahan yang berulang. Ia menerima pelukan ombak tanpa pernah benar-benar memilikinya. Ya, seperti aku. Aku yang belajar mencintai hidup, meski tahu segalanya akan pergi, bahkan menyakiti.

“Sampai kapan berdiri terus di situ, Nak?” tanya ibuku dengan suara yang meneduhkan.

Aku menyeka kedua sudut mataku. “Apakah Ibu bangga kepadaku?”

“Tentu,” jawab Ibu, cepat. Suaranya berkejaran dengan debur yang menyapa karang. Ia seolah menahan laju pertanyaanku yang lain. “Tidak ada orang tua yang tidak bangga terhadap anaknya sendiri.”

Hening. Tiba-tiba semuanya terasa diam. Ingatan kembali ke masa dua puluh enam tahun yang lalu. Kala itu, aku menunjukkan raporku dengan tulisan peringkat satu di kelas. Ibu tersenyum bangga, mengusap lembut kepalaku, dan menggendongku pulang.

Kini, aku terlunta, tertatih menapaki dunia. Cita-cita terburai, masa depan terlerai. Mereka menuntutku untuk sempurna dalam semalam, sementara lukaku tak menunggu untuk diobati.

“Tapi aku gagal, Bu.” Aku menurunkan kepala. Basah semakin naik hingga nyaris menyentuh lutut. “Aku tidak jadi siapa-siapa,” ucapku pelan, bergetar.

Ibu menyeret langkah, menghampiriku. Tangannya menyentuh lenganku. “Tidak jadi siapa-siapa bukan berarti kamu tidak ada. Kamu masih bisa berdiri di sini, itu cukup.”

Aku berbalik badan. Menarik resah yang bersemayam, mendekap harapan yang datang bersama Ibu. Namun, Ibu menghilang di balik siluet senja. Ia tak pernah kembali setelah menerima raporku hari itu. Hanya suaranya yang menetap di benakku.

Malam turun, laut menghitam, dan aku tetap di sini—sendiri, rapuh, tetapi masih bisa bernapas. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Sandaran Hati
Dine Safitry
Novel
Dari Naya Untuk Naya
Zsa Zsa Eki Liztyasari
Komik
Seperti yang Aku Mau
Cikie
Flash
Guru Marah
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Arganta
Donny Setiawan
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Novel
LOVE IS 5000
GAZALI
Komik
IKEMEN.PROJECT
ikemen_project
Flash
Bronze
Saklar
Alifia Sastia
Flash
Sekali Saja Aku Mencintaimu
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Bola itu Bulat
Silvarani
Novel
Resonance
Misaka Takashi
Novel
DENDAM LUKA & CINTA
Donny Sixx
Flash
Bronze
Blok M, Bakal Lokasi Mejeng
Silvarani
Novel
Dari Cakrawala Kepada Samudra
Mesach Kartika
Rekomendasi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Terminal
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Jadikan Hariku Senin Selalu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Firasat Mimpi
Jasma Ryadi
Flash
Arisa
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Adam
Jasma Ryadi
Flash
Tiga Ketukan Sunyi
Jasma Ryadi
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tanganku di Timur, Hatimu di Barat
Jasma Ryadi
Flash
Senja yang Dilepas
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Berbagi Rumah
Jasma Ryadi
Flash
Di Barisan Belakang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Telinga Kelima
Jasma Ryadi