Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
7
Suka
10,912
Dibaca

Aku berdiri dengan kaki telanjang, merasakan udara kering menyapu wajahku, membiarkan pasir menggigit luka-luka kecil yang tak pernah sempat kusebutkan namanya. Laut terbentang di hadapanku seperti usia yang panjang: indah dari jauh, kejam ketika didekati. Ombak datang silih berganti bagaikan hari-hari yang tak pernah bertanya apakah aku siap menerimanya.

Hidup, rupanya, adalah pasang yang tak bisa ditawar. Ia mengangkat harapan setinggi cakrawala, lalu surut tanpa pamit, meninggalkan bangkai-bangkai mimpi terdampar di garis pantai.

Aku memunguti sisa-sisa itu satu per satu, kerang pecah bernama kenangan, rumput laut kusut bernama penyesalan. Semua asin. Semua perih.

Angin berbisik tentang keberanian, tetapi juga membawa aroma kegagalan dari kapal-kapal yang karam. Doa-doa yang tenggelam, terikat pada jangkar tua, tak pernah kembali ke permukaan. Kadang, aku bingung dalam menerka perbandingan antara dosa dan pahala. Apakah keduanya ditimbang? Ataukah dibiarkan bercampur dengan air garam?

Pantai, saksi bisu dari perpisahan yang berulang. Ia menerima pelukan ombak tanpa pernah benar-benar memilikinya. Ya, seperti aku. Aku yang belajar mencintai hidup, meski tahu segalanya akan pergi, bahkan menyakiti.

“Sampai kapan berdiri terus di situ, Nak?” tanya ibuku dengan suara yang meneduhkan.

Aku menyeka kedua sudut mataku. “Apakah Ibu bangga kepadaku?”

“Tentu,” jawab Ibu, cepat. Suaranya berkejaran dengan debur yang menyapa karang. Ia seolah menahan laju pertanyaanku yang lain. “Tidak ada orang tua yang tidak bangga terhadap anaknya sendiri.”

Hening. Tiba-tiba semuanya terasa diam. Ingatan kembali ke masa dua puluh enam tahun yang lalu. Kala itu, aku menunjukkan raporku dengan tulisan peringkat satu di kelas. Ibu tersenyum bangga, mengusap lembut kepalaku, dan menggendongku pulang.

Kini, aku terlunta, tertatih menapaki dunia. Cita-cita terburai, masa depan terlerai. Mereka menuntutku untuk sempurna dalam semalam, sementara lukaku tak menunggu untuk diobati.

“Tapi aku gagal, Bu.” Aku menurunkan kepala. Basah semakin naik hingga nyaris menyentuh lutut. “Aku tidak jadi siapa-siapa,” ucapku pelan, bergetar.

Ibu menyeret langkah, menghampiriku. Tangannya menyentuh lenganku. “Tidak jadi siapa-siapa bukan berarti kamu tidak ada. Kamu masih bisa berdiri di sini, itu cukup.”

Aku berbalik badan. Menarik resah yang bersemayam, mendekap harapan yang datang bersama Ibu. Namun, Ibu menghilang di balik siluet senja. Ia tak pernah kembali setelah menerima raporku hari itu. Hanya suaranya yang menetap di benakku.

Malam turun, laut menghitam, dan aku tetap di sini—sendiri, rapuh, tetapi masih bisa bernapas. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Skrip Film
Ratih
Ainun
Skrip Film
Lamar Hati (Script)
Anisah Ani06
Flash
Seperempat Abad
Rahma Pangestuti
Flash
Ketika Para Binatang Tertular Virus Aneh dari Manusia
Eko Triono
Flash
Dora dan emon
Mahmud
Flash
Bronze
Skull on Your Porch
Silvarani
Novel
Tiga Bintang Paling Terang
Aiden
Novel
Bronze
Mengejar Mimpi, Menemukan Cinta
Suryaning Bawono
Skrip Film
Nada Citaku
Hesti Yuliantika
Flash
Sakit
Dwi Kurnialis
Flash
A DAUGHTER'S LOVE
Reiga Sanskara
Flash
Matahari Tak Pernah Lelah
Sulistiyo Suparno
Skrip Film
PERTARUNGAN CINTA
Christina Septi
Skrip Film
Between two options
Rahmawati
Rekomendasi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Bukan Babi Ngepet
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Simetris
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Flash
Tatapan dari Jendela
Jasma Ryadi
Flash
Mengasuh Sabar
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Di Radio Sekolah
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Harus Ada Cinta dalam Pernikahan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Rasa yang Tak Bisa Kembali
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi
Flash
Maaf, Aku Lelah
Jasma Ryadi
Flash
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi