Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
7
Suka
15,182
Dibaca

Aku berdiri dengan kaki telanjang, merasakan udara kering menyapu wajahku, membiarkan pasir menggigit luka-luka kecil yang tak pernah sempat kusebutkan namanya. Laut terbentang di hadapanku seperti usia yang panjang: indah dari jauh, kejam ketika didekati. Ombak datang silih berganti bagaikan hari-hari yang tak pernah bertanya apakah aku siap menerimanya.

Hidup, rupanya, adalah pasang yang tak bisa ditawar. Ia mengangkat harapan setinggi cakrawala, lalu surut tanpa pamit, meninggalkan bangkai-bangkai mimpi terdampar di garis pantai.

Aku memunguti sisa-sisa itu satu per satu, kerang pecah bernama kenangan, rumput laut kusut bernama penyesalan. Semua asin. Semua perih.

Angin berbisik tentang keberanian, tetapi juga membawa aroma kegagalan dari kapal-kapal yang karam. Doa-doa yang tenggelam, terikat pada jangkar tua, tak pernah kembali ke permukaan. Kadang, aku bingung dalam menerka perbandingan antara dosa dan pahala. Apakah keduanya ditimbang? Ataukah dibiarkan bercampur dengan air garam?

Pantai, saksi bisu dari perpisahan yang berulang. Ia menerima pelukan ombak tanpa pernah benar-benar memilikinya. Ya, seperti aku. Aku yang belajar mencintai hidup, meski tahu segalanya akan pergi, bahkan menyakiti.

“Sampai kapan berdiri terus di situ, Nak?” tanya ibuku dengan suara yang meneduhkan.

Aku menyeka kedua sudut mataku. “Apakah Ibu bangga kepadaku?”

“Tentu,” jawab Ibu, cepat. Suaranya berkejaran dengan debur yang menyapa karang. Ia seolah menahan laju pertanyaanku yang lain. “Tidak ada orang tua yang tidak bangga terhadap anaknya sendiri.”

Hening. Tiba-tiba semuanya terasa diam. Ingatan kembali ke masa dua puluh enam tahun yang lalu. Kala itu, aku menunjukkan raporku dengan tulisan peringkat satu di kelas. Ibu tersenyum bangga, mengusap lembut kepalaku, dan menggendongku pulang.

Kini, aku terlunta, tertatih menapaki dunia. Cita-cita terburai, masa depan terlerai. Mereka menuntutku untuk sempurna dalam semalam, sementara lukaku tak menunggu untuk diobati.

“Tapi aku gagal, Bu.” Aku menurunkan kepala. Basah semakin naik hingga nyaris menyentuh lutut. “Aku tidak jadi siapa-siapa,” ucapku pelan, bergetar.

Ibu menyeret langkah, menghampiriku. Tangannya menyentuh lenganku. “Tidak jadi siapa-siapa bukan berarti kamu tidak ada. Kamu masih bisa berdiri di sini, itu cukup.”

Aku berbalik badan. Menarik resah yang bersemayam, mendekap harapan yang datang bersama Ibu. Namun, Ibu menghilang di balik siluet senja. Ia tak pernah kembali setelah menerima raporku hari itu. Hanya suaranya yang menetap di benakku.

Malam turun, laut menghitam, dan aku tetap di sini—sendiri, rapuh, tetapi masih bisa bernapas. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
Salwa
Herman Siem
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Bronze
Pengantin Bayangan
Herman Siem
Flash
Gagal Nonton
Anisah Ani06
Flash
Aku Lihat Surga di Mata Ibu
Putri Rafi
Flash
Kenyataannya masa mudaku tak seindah impian
Ika nurpitasari
Flash
Bronze
Bubur Ayam Cikini in 90s Midnight
Silvarani
Cerpen
Bronze
Demi Ibu yang Sakit
Sulton Rizman
Novel
Kamu
MS Wijaya
Cerpen
Bronze
Cerita Tukang Sulap dan Ibu yang Mencari
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Gandark
Ilestavan
Novel
SUNRISE
Kala Hujan
Novel
Ceritakan Semuanya pada Kucing
Kartini F. Astuti
Skrip Film
Satu Hari untuk Ayah
HANIFAH IKWAN PUTRI
Novel
Berkelana Jati Diri
Andi Irwan Muluk
Rekomendasi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Kamar 304
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Jadikan Hariku Senin Selalu
Jasma Ryadi
Flash
Senja yang Dilepas
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Jangan Ambil Uang Itu!
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Flash
Sosok yang Lain
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Anita dan Penghuni Lain
Jasma Ryadi
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Novel
Karantina
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Berbagi Rumah
Jasma Ryadi
Novel
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Di Radio Sekolah
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Mereka di Sini
Jasma Ryadi