Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
7
Suka
16,627
Dibaca

Aku berdiri dengan kaki telanjang, merasakan udara kering menyapu wajahku, membiarkan pasir menggigit luka-luka kecil yang tak pernah sempat kusebutkan namanya. Laut terbentang di hadapanku seperti usia yang panjang: indah dari jauh, kejam ketika didekati. Ombak datang silih berganti bagaikan hari-hari yang tak pernah bertanya apakah aku siap menerimanya.

Hidup, rupanya, adalah pasang yang tak bisa ditawar. Ia mengangkat harapan setinggi cakrawala, lalu surut tanpa pamit, meninggalkan bangkai-bangkai mimpi terdampar di garis pantai.

Aku memunguti sisa-sisa itu satu per satu, kerang pecah bernama kenangan, rumput laut kusut bernama penyesalan. Semua asin. Semua perih.

Angin berbisik tentang keberanian, tetapi juga membawa aroma kegagalan dari kapal-kapal yang karam. Doa-doa yang tenggelam, terikat pada jangkar tua, tak pernah kembali ke permukaan. Kadang, aku bingung dalam menerka perbandingan antara dosa dan pahala. Apakah keduanya ditimbang? Ataukah dibiarkan bercampur dengan air garam?

Pantai, saksi bisu dari perpisahan yang berulang. Ia menerima pelukan ombak tanpa pernah benar-benar memilikinya. Ya, seperti aku. Aku yang belajar mencintai hidup, meski tahu segalanya akan pergi, bahkan menyakiti.

“Sampai kapan berdiri terus di situ, Nak?” tanya ibuku dengan suara yang meneduhkan.

Aku menyeka kedua sudut mataku. “Apakah Ibu bangga kepadaku?”

“Tentu,” jawab Ibu, cepat. Suaranya berkejaran dengan debur yang menyapa karang. Ia seolah menahan laju pertanyaanku yang lain. “Tidak ada orang tua yang tidak bangga terhadap anaknya sendiri.”

Hening. Tiba-tiba semuanya terasa diam. Ingatan kembali ke masa dua puluh enam tahun yang lalu. Kala itu, aku menunjukkan raporku dengan tulisan peringkat satu di kelas. Ibu tersenyum bangga, mengusap lembut kepalaku, dan menggendongku pulang.

Kini, aku terlunta, tertatih menapaki dunia. Cita-cita terburai, masa depan terlerai. Mereka menuntutku untuk sempurna dalam semalam, sementara lukaku tak menunggu untuk diobati.

“Tapi aku gagal, Bu.” Aku menurunkan kepala. Basah semakin naik hingga nyaris menyentuh lutut. “Aku tidak jadi siapa-siapa,” ucapku pelan, bergetar.

Ibu menyeret langkah, menghampiriku. Tangannya menyentuh lenganku. “Tidak jadi siapa-siapa bukan berarti kamu tidak ada. Kamu masih bisa berdiri di sini, itu cukup.”

Aku berbalik badan. Menarik resah yang bersemayam, mendekap harapan yang datang bersama Ibu. Namun, Ibu menghilang di balik siluet senja. Ia tak pernah kembali setelah menerima raporku hari itu. Hanya suaranya yang menetap di benakku.

Malam turun, laut menghitam, dan aku tetap di sini—sendiri, rapuh, tetapi masih bisa bernapas. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
AKU DAN KEHIDUPAN
Zulfikar achmad
Flash
Bronze
Bola itu Bulat
Silvarani
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Satu Butir Telur dari Ibu
Desto Prastowo
Flash
SHIKI -Anak Anjing yang Baik- part 1
Kosong/Satu
Cerpen
Bronze
KUBURAN DAN SEBUAH TAS BRANDED
Sevi R fardani
Novel
Biduk Retak
Sriasih (Asih Rehey)
Novel
Immortal Soul
drnadiaz
Flash
Warna Pelangi
Rafael Yanuar
Flash
Upacara pagi pancasila
Rizky aditya
Flash
Percakapan di Atas Gedung
Cheri Nanas
Flash
Bronze
Kala Sains Sebatas Pratikum Politik Jilid 2
Silvarani
Flash
SEMANIS COKLAT
M Fadly Hasibuan
Flash
Bronze
Janji Palsu
Nabil Bakri
Flash
Bronze
Berkhayal
B12
Rekomendasi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Jangan Menimpali!
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Andai Ayah Tak Begitu
Jasma Ryadi
Cerpen
Silsilah Para Penambal
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Anto dan Sebatang Rokok
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Engkau di Langit yang Mana?
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Aku Belum Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Ikan adalah Luka
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Giant's Heart
Jasma Ryadi
Flash
Sisa Siang
Jasma Ryadi
Flash
Kamar 304
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Laut yang Tak Menjawab
Jasma Ryadi