Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Tuhan, aku ingin bertanya pada-Mu. Mengapa aku tidak sadar ketika hendak dilahirkan ke dunia? Katanya Engkau telah bertanya pada roh kami. Tapi mengapa kami tidak mengingatnya sama sekali? Aku tahu Engkau tidak pernah membuat hambamu merasa kecewa, tapi mengapa kini aku merasakannya? Aku tahu Engkau tak berniat menipu kami. Mungkin lebih tepatnya, kini kami menyesal hidup. Tapi kata-kata-Mu yang indah telah meminta kami semua untuk bersyukur. Apakah ... apakah akan ada kenikmatan setelahnya? Tapi mengapa di bumi ini aku tidak menemukannya? Aku merasa ... merasa seperti sedang memanjat pohon yang sangat tinggi, hingga aku tidak dapat melihat cabang dan bentuk daunnya sekali pun."
"Jangan bicara begitu, Hana," sergah Halil, menoleh cepat ke arah Hana.
"Kenapa? Apa yang salah pada kata-kataku? Kau pun mebenarkannya kan, kak?" Timpal Hana, dengan wajah kehitam-hitaman— terkena tanah basah.
Halil mengguncang lengan adiknya itu. Pakaiannya lusuh, aromanya pun tak sedap, sudah tiga hari tak diganti. "Lebih baik jangan kau ucapkan."Â
"Aku sedang tidak menghina Tuhan, aku sadar sekali pada hidupku. Aku hanya sedang merasa lelah saja."
"Minum dulu, supaya tenang." Halil lantas menyodorkan air yang sedikit keruh di dalam gelas plastik, yang sedari tadi di gengangamnya.
"Tidak mau! Airnya kotor. Ada hasil jerih payah saudara kita di air itu. Kau lihatlah ke depan. Tidak ada ibu, tidak ada ayah, semuanya rata. Dan aku berdiri menjulang pendek di dekatmu seperti ini. Apakah aku hanya hiasan muka bumi? Kalau begitu aku ingin membunuh perasaan ini saja, supaya tidak bisa merasakan kecewa dan sedih."