Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ayah. Satu kata yang meliputi semua cerita ini. Ayah yang sudah pergi sangat jauh, entah kemana. Kepergiannya menimbulkan duka yang sangat dalam di hati anak perempuan kesayangannya. Sebelum pergi, dia menderita sakit fisik luar biasa. Berbagai pengobatan ditempuh, tetapi pada akhirnya semua usaha gagal. Ayah harus pergi dari dunia ini.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Menangis air mata darah pun, tidak akan mampu mengembalikan dia lagi.
"Hidup harus terus berjalan, sedih secukupnya saja." Kata orang-orang.
Nyatanya tidak semudah itu, untuk seseorang yang pernah mengalami dicintai sebegitu banyak. Seorang anak perempuan berusia tigapuluhan tahun. Bukan termasuk anak-anak lagi tentunya, tetapi dia akan selalu jadi anak di hadapan ayahnya.
Hari demi hari dijalani, tahun berganti tahun. Si anak perempuan masih bertahan dengan luka di dalam dadanya. Dia makan dan bekerja seperti orang-orang di luar sana, tetapi segalanya terasa hampa. Tidak ada lagi cinta yang bisa direguk, tak ada kasih sayang yang memeluk di saat lelah.
Si anak perempuan masih berusaha hingga detik ini, untuk merelakan dengan sungguh-sungguh atas kepergian ayah tercinta. Menerima takdir hidup dengan ikhlas dan rela, seperti orang-orang pada umumnya. Entah kapan hal itu bisa benar-benar berhasil untuknya.
Dia tidak punya suami dan anak. Tidak ada cinta dari satupun lelaki yang bisa meraih seluruh hatinya seperti cinta yang pernah diberikan ayahnya. Ya, mau tidak mau, suka tidak suka dia punya standar tinggi untuk sebuah cinta. Karena dia pernah mengalami yang paling banyak dan melimpah-limpah.
Dia juga tidak punya anak, karena dia tidak mau punya tanggung jawab untuk siapapun itu. Hingga nanti ketika saatnya dia juga akan pergi, dia akan pergi dengan senang hati untuk bertemu kembali dengan ayahnya. Tanpa memikirkan siapapun yang ditinggalkannya.
Bertemu kembali dengan ayahnya. Hal itu yang masih dia nanti-nantikan.
Dia cuma menjalani hidup apa adanya hari ini, hingga saatnya nanti dia juga akan pergi kemana ayahnya dulu pergi.
Orang bilang 'Surga atau Neraka'. Dia tidak peduli, dia hanya ingin ada bersama ayahnya ketika saat itu tiba.
Kenapa dia tidak bunuh diri saja supaya cepat?
Dia takut akan masuk neraka dan ayahnya berada di Surga.
Bagaimana jika ayahnya ternyata ada di neraka?
Jika ayahnya berada di neraka, maka Tuhan itu orang jahat. Jika ayahnya yang sebaik itu masuk neraka bagaimana dengan dirinya dan orang-orang lain. Betul, hak Tuhan yang menentukan. Tetapi jika benar ayahnya berada di neraka, maka dia akan menceburkan dirinya ke dalam sana nanti.
Dia akan bertemu kembali dengan ayahnya.
Untuk sekarang, dia akan menjalani hidup sebisanya semampunya. Impiannya hanya satu. Impian tersebut mau tidak mau harus membuat dia untuk terus maju, walaupun dia pernah merasa patah.
Impiannya agar nanti bisa berada di tempat ayahnya kini berada. Impian itu membuat dia harus kuat seperti dulu ayahnya kuat dalam menjalani tantangan hidup, sabar dan tak kenal putus asa.
Agar dia bisa berada dimana ayahnya berada, maka dia juga harus berjuang seperti dahulu ayahnya berjuang. Bersikap dan bertutur kata seperti dulu ayahnya bersikap dan bertutur kata.
Secara tidak langsung ayahnya hingga kini masih mengajarinya untuk terus hidup.
Ya. Hidup dengan sebaik-baiknya.