Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Papan absensi itu tergantung miring di dinding kelas.
Aisyah baru sadar ada yang aneh ketika ia menghitung ulang jumlah muridnya untuk ketiga kali.
Tiga puluh satu.
Padahal seharusnya tiga puluh.
Ia mengerutkan kening. Mungkin ada murid pindahan yang belum dicatat, pikirnya. Namun daftar nama di tangannya tetap sama. Tidak ada tambahan. Tidak ada coretan baru.
“Ada yang merasa jumlah kita hari ini beda?” tanyanya ringan.
Kelas hening. Beberapa murid saling pandang, lalu menggeleng.
Aisyah mulai memanggil nama satu per satu.
Semua menjawab. Semua mengangkat tangan.
Hingga ia sampai di nama terakhir yang bahkan ia sendiri tak ingat pernah menuliskannya.
Rizal.
Tidak ada yang menjawab.
“Rizal?” ulangnya.
Kursi di pojok dekat jendela kosong. Buku tulis tertata rapi. Pulpen tergeletak seolah baru saja dilepas.
“Bu, memang ada murid namanya Rizal?” tanya seorang siswi.
Aisyah terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi dadanya mendadak terasa sempit.
Ia yakin tadi pagi ada seseorang duduk di sana. Ia ingat bayangan bahu. Ingat seragam yang sedikit kusut. Bahkan ingat suara kursi yang bergeser saat ia masuk kelas.
“Ada,” jawabnya pelan. “Seharusnya ada.”
Jam pelajaran berlanjut dengan canggung. Beberapa murid mulai sering menoleh ke kursi kosong itu. Seolah menunggu sesuatu kembali.
Saat bel berbunyi, Aisyah menghampiri meja pojok itu.
Buku tulisnya terbuka.
Tulisan di halaman terakhir membuat jari Aisyah bergetar.
Bu, kalau nanti saya tidak ada, tolong jangan cari saya. Saya sudah cukup lama duduk di sini tanpa pernah benar-benar terlihat.
Nama di bawahnya: Rizal.
Aisyah menutup buku itu cepat-cepat.
Di ruang guru, ia membuka data akademik. Tidak ada nama Rizal. Tidak pernah terdaftar. Tidak pernah tercatat.
Namun di lemari arsip lama, ia menemukan satu map usang.
Tahun ajaran: sepuluh tahun lalu.
Nama yang sama.
Keterangan di sampingnya singkat: Mengundurkan diri. Alasan: tidak pernah hadir.
Aisyah duduk lama.
Keesokan harinya, kursi pojok itu tetap kosong. Buku tulisnya hilang. Papan absensi kembali menunjukkan angka tiga puluh.
Tak ada yang menanyakan Rizal.
Tak ada yang mengingatnya.
Saat Aisyah hendak keluar kelas, ia mendengar suara kursi bergeser pelan.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya udara sore yang bergerak, dan satu kalimat terlintas di benaknya:
Mungkin, misteri terbesar bukan tentang siapa yang menghilang…
tapi tentang siapa yang selama ini tak pernah dianggap ada.