Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Eca tak lagi memejamkan mata ketika gadis itu mendengar ada suara dari luar sana. Dia melirik jam dinding, pukul 04:30, see? Pagi buta begini ayah dan ibunya sudah bangun? Samar-samar, bacaan yang pernah ia dengar sewaktu ayahnya mengaji mengusik tidurnya. Hatinya tergerak mendekat saat suara itu terdengar semakin jelas.
Dari balik bilik kecil berukuran 4 x 5 m itu, Eca tertegun melihat pemandangan di dalam sana. Jantungnya berdegup hebat kala netranya menangkap keduanya sama-sama bersujud. Tingkat tertinggi dalam sholat dimana seorang makhluk bisa merasa amat dekat dengan Tuhannya. Padahal di setiap harinya, Eca terbiasa melihat orang tuanya melakukan ibadah sholat.
Perasaannya semakin tak bisa didefinisikan ketika selesai salam, ibunya mengambil tangan ayahnya untuk dicium sementara ayahnya menahan sebelah kepala ibunya lantas mencium kening ibunya lama. Hatinya tertegun beribu-ribu kali lipat. Ajaran agama mana yang lebih romantis dari agama orang tuanya?
Hidup selama Sembilan belas tahun sebagai protestan membuat Eca tahu betul tentang ajaran agamanya sendiri. Tak pernah Eca melihat ibunya sebahagia ini ketika bersama suaminya yang dulu. Tak pernah sekalipun ia melihat ayah kandungnya memperlakukan ibunya dengan sedemikian romantis seperti yang sekarang ayahnya lakukan. Islam telah mengubah cara pandang ibunya tentang dunia lewat seorang lelaki yang menawarkan islam dengan indah, namun tak jua mengekang Eca untuk mengikuti jejak ibunya dengan menolak secara halus untuk masuk islam. Baginya, ia tak punya alasan untuk meninggalkan protestan walaupun ibunya berkali-kali mengajaknya bersyahadat. Ibunya punya ayahnya untuk dijadikan alasan masuk islam, pikirnya. Dirinya?
“Ini mendatar dan ini menurun. Ayah dan ibu harus pergi ke masjid dan kamu harus pergi ke gereja. Kita berpisah di tengah jalan, meskipun ujungnya sama, sama-sama mengharapkan Tuhan. Tapi Eca sudah besar. Sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ibu dan ayah hanya bisa mendoakan yang terbaik buat Eca. Apapun keputusan kamu, ibu akan berusaha menerima.” Kata ibunya pada akhirnya. Eca menatap lama wajah ibunya malam itu, mengamati bola mata yang bercahaya itu dalam diam. Dia tak berkomentar banyak, tak pula menyanggah kalimat ibunya. Dia hanya diam. Menatap banyak perubahan signifikan pada ibunya enam bulan setelah menikah lagi. Eca tak bisa mendeskripsikan perubahan apa saja, tapi ia yakin ibunya yang sekarang jauh lebih bahagia dan itu membuatnya lega.
Subuh kali ini, Eca terdiam untuk ke sekian kalinya, dari balik bilik musholla, dengan piyama beruang dan sandal jepitnya, dia merasa ada yang salah dengan dirinya. Jemarinya terasa bergetar, entah kenapa. Seperti ada malaikat yang membisiki ruh-nya untuk berhijrah, indra tubuhnya bergerak mendekati pintu namun ia tahan lagi. Sebuah keraguan menyusup dihatinya. Ragu memilih bagaimana jalan yang harus ia tempuh. Untuknya, ini tidak seperti permainan TTS seperti yang sering ibunya ceritakan tentang mendatar dan menurun.
La haula wa la quwwata illa billah…
Pelan dan perlahan, hidayah itu datang menyapanya, seakan ada energi kuat yang mendorongnya masuk ke dalam musholla kecil itu. Hidayah itu menyapanya lewat hal sederhana yang dilakukan ayah ibunya. Ia yakin, tak ada agama yang lebih indah dari islam.
“Eca gak bisa tidur lagi ya?”
Eca mengangguk. Lantas mendekat dan duduk bersimpuh di hadapan orang tuanya. “Ayah, ajaran agama mana yang lebih romantis dari islam?”
Ayah dan ibunya sama-sama tertegun.
“Apa masih belum terlambat buat Eca mencintai islam seperti ibu?”
Ayahnya tersenyum. Ibunya sudah terisak di sebelahnya, terharu.
Lalu tanpa mereka ketahui, subuh kali itu ada banyak malaikat terbang mengelilingi rumah itu sambil mengucap takbir bersama para penghuni langit.
Allahu Akbar…
end