Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Sepatuku
0
Suka
810
Dibaca

Awal jauh dari rumah, kurang lebih sudah seminggu aku kos, ponselku tidak pernah berdering mendapat panggilan masuk dari rumah. Aku tenang dan damai menjalani hari-hari.

Sampai temanku bertanya, "Bapak Ibumu gak ada telepon?"

Deg.

"Enggak ada," jawabku pelan sambil menggeleng kikuk.

"Kamu gak telepon?"

"Enggak juga."

"Udah seminggu ngekos gak saling telepon?!" tanyanya kaget, seolah baru mendengar hal paling aneh sepanjang hidupnya.

"Emang harus telepon?" tanyaku balik, seolah juga aku baru mendengar hal aneh sepanjang hidupku.

"Haruslah! Aneh banget. Nanya kabar, gimana di sini, udah makan apa belum, nanya-nanya kehidupan baru kamu di sini gimana. Yang paling penting, nanya betah enggak di sininya?" jelasnya panjang.

Penjelasannya itu jadi membuatku bertanya-tanya, apa benar sepenting itukah sebuah telepon?

"Aku aja hampir tiap hari telepon rumah loh. Ibuku rempong banget, nanya-nanya mulu, padahal cuma sejam ini nyampe rumah."

Tiba-tiba aku merasa sedih yang sulit dijelaskan.

Aku tidak pernah mendapat perhatian seperti itu dari orang tuaku. Mereka tidak pernah memperlakukanku seperti itu.

Seketika aku jadi merasa tidak dicintai.

"Oh ya?" timpalku seadanya.

"Mending kamu telepon deh," sarannya.

"Hah?"

"Iya, sekarang!" katanya semangat.

Aku mengangguk ragu, kembali ke kamar, menutup pintu rapat, dan mengambil ponsel yang tadi tergeletak asal di meja.

Awalnya sempat ragu, tapi kuberanikan untuk menekan nomor Bapak, dan memanggilnya.

Deringan pertama, lewat.

Deringan kedua, masih lewat begitu saja.

Deringan ketiga, tak ada tanda akan terjawab.

Deringan keempat, aku hampir menyerah.

Tapi deringan kelima, suara parau mulai terdengar menyahut dari seberang sana.

"Halo. Ada apa?" Itu suara Bapakku, langsung to the point.

Semua berlalu terlalu cepat. Sontak membuatku jadi bingung mau ngomong apa.

"Iya, halo, Bapak."

"Kenapa? Ada apa?" tanyanya lagi. "Uang saku cukup, kan?"

"Cukup. Masih kok."

"Terus kenapa?" tanyanya lagi, "gimana di sana betah?"

Aku mengangguk, ini pertanyaan yang kucari. "Betah."

"Oh yaudah."

"Iya."

Tut tut tut ....

Panggilan langsung berakhir, Bapakku yang mengakhirinya.

Setelah itu aku tidak merasa lega, tidak juga merasa bahagia, yang ada hanya perasaan aneh.

Kenapa aku gak merasa puas, bahkan setelah melakukan hal yang dilakukan banyak orang lainnya?

Keesokan harinya, temanku itu mengetuk pintu kamarku. Kubuka pelan, mendapati dia sudah berpakaian rapi sekali.

"Boleh pinjam sepatu gak? Aku mau pergi, tapi kemarin lupa bawa sepatu buat pergi. Sepatu yang warna putih, yang kamu pakai pas hari pertama ke sini."

Aku langsung mengambilnya, dan menyerahkan padanya.

"Mau kemana rapi amat?"

"Nugas kelompok, sih. Tapi ini beneran boleh kupinjam?"

"Pakai aja. Aman," kataku.

Dia tersenyum lalu memakainya dan berangkat.

Malam harinya dia pulang, mukanya sedikit gak nyaman waktu mendekatiku.

"Aku balikin sepatunya, makasih banyak ya," katanya.

"Sama-sama. Tapi kenapa kayak gak happy gitu mood-nya? Ada masalah pas nugas?"

"Sepatumu kekecilan di aku, sakit banget di kaki. Padahal ukuran kita cuma selisih 0,5 cm loh, tapi gak tau berasa sakit banget kakiku."

Aku terhenyak.

Ini bukan cuma sekadar sepatu.

Aku tersadar akan sesuatu, selisih 0,5 itu sudah jelas berbeda.

Sepatuku itu ukuranku, sepatunya itu ukurannya.

Kenapa aku harus menyesuaikan sepatunya untuk taraf kebahagiaanku?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Sepatuku
SIONE
Novel
Resonansi Luka
Luminaminalu
Cerpen
Bronze
Langit
Hekto Kopter
Flash
Bronze
A Rose Bouquet in the Trash
Silvarani
Cerpen
Bronze
FOCUS GROUP DISCUSSION
Ardian Agil Waskito
Flash
Bronze
Sepi Ditengah Ramainya Trending Topik
Wawan Setiawan
Novel
Adi Karsa
E. Karto
Flash
Biru Merah
lidia afrianti
Novel
NIRLEKA
Fianaaa
Novel
Bronze
Takdir Menemukan Kita
Ezra Jo
Flash
After Nine
Hans Wysiwyg
Flash
Langkah Pertama
Penulis N
Cerpen
Jendela Tanpa Balkon
Tya Fitria
Novel
Berdiri Di Ambang Dunia
Asep Saepuloh
Cerpen
Asap dan Kopi
Penulis N
Rekomendasi
Flash
Sepatuku
SIONE
Cerpen
Bronze
Jejal Nestapa
SIONE
Cerpen
Ricuh
SIONE
Flash
Marah
SIONE
Flash
Bronze
Dialog Kematian
SIONE
Cerpen
Bronze
Pengakuan
SIONE
Novel
Rumahku?
SIONE
Flash
Bumbu Masak Ibu
SIONE
Flash
Bronze
Biru dan Tamunya
SIONE
Flash
Bronze
Nostalgia
SIONE
Flash
Bronze
Foto Keluarga
SIONE
Cerpen
Bronze
NURAGA
SIONE
Flash
Bronze
Mendung dan Bayangan
SIONE
Flash
Jiwa Kecil
SIONE
Flash
Ambil porsimu
SIONE