Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan merayap di atas genting, mengalunkan bunyi getir. Kamar lembap, bau tanah basah menyelinap dari celah-celah ventilasi. Marni duduk di tepi ranjang, memeluk kedua lututnya sambil menatap jendela yang buram.
Suara anak-anak terdengar berlarian di luar rumah. Tawa mereka pecah, lalu mereda tanpa sisa. Malam menitik, senyap mengusik.
Marni merapatkan selimut ke dada. Matanya tidak lepas dari bayangan yang sesekali melintas di balik kaca. Bergerak pelan, tetapi wujudnya tak mampu tertangkap jelas.
Marni bangkit, melangkah dengan waspada, dan membuka jendela. Hawa dingin menampar wajahnya. Bau lumpur samar menusuk hidungnya. Ia menelisik semua sisi, menerawang setiap bentuk.
Tak ada siapa pun di halaman. Hanya ayunan tua yang berderit, bergoyang sendiri.
Marni menutup jendela, menarik pengait kunci. Namun, ada suara yang memanggilnya. Lembut, lirih, merintih.
"Ibu…"
Tangan Marni gemetar. Ia menoleh ke ranjang kecil di sudut kamar. Boneka kain tergeletak miring. Mata kancingnya terlepas satu. Satunya lagi seolah menatap ke arah pintu.
Ada yang berjalan di lorong. Langkahnya kecil, sambil bersenandung sendu, melantunkan kidung pengantar tidur.
Marni berlari, membuka pintu dengan cepat. Suara itu menghilang, menyisakan sunyi yang panjang.
Hujan kian deras. Marni menahan napas, menunggu suara itu kembali.
“Nak, kamu di mana?” serunya, tersedu. Jemarinya meraba ruang kosong, seakan ada tangan mungil yang bisa digenggam.
Akan tetapi, yang datang justru gemuruh. Suara air yang menggulung, menyapu apa pun yang dilaluinya. Teriakan dan tangisan menggema. Doa-doa melambung ke langit.
“Tolong aku, Bu.”
Marni menutup telinga, merunduk. Ingatan berkelebat: tubuh mungil yang terseret air, terhimpit di antara kayu-kayu, dan tangannya yang tak mampu meraih.
Sesak menempel di dadanya. Air mata mengalir tanpa isak. Petir menggelegar, menyambar sukma.
Ketika ia membuka mata, ada yang berdiri di tengah lorong. Tinggi, rambut menjuntai, wajah tertutup. Air menetes dari ujung pakaiannya, membentuk jejak menyerupai pusaran. Di pelukannya, seorang anak tampak ketakutan.
Anak itu mengulurkan tangan. "Ibu… aku mau sama Ibu.”
Marni mendekat. Kakinya berat. Ia mengambil anaknya, membawa dalam dekapan hangat.
Sosok itu, yang semula hanya diam, berusaha merampas si anak kembali. Marni bergegas masuk ke dalam kamar. Ia terpleset oleh lantai yang licin. Tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya berhasil menutup pintu.
Dari balik pintu, gedoran dan raungan terus menyalak. Marni panik. Sang anak menangis keras.
Marni tidak mau kehilangan anaknya untuk kedua kalinya. Ia merapatkan tubuh mungil itu ke pelukannya, menutupi kepala si kecil dengan lengannya.
Lampu padam. Dinding-dinding bergetar. Gelap menelan segalanya.
Marni mengusap kening anaknya, menciumnya penuh haru. Namun, tatkala cahaya kembali, yang ada dalam dekapannya adalah sebuah boneka.
Marni menggerung, mencabik-cabik boneka itu. “Kembalikan anakku!” laungnya, pilu.