Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dukacita, rupanya ia adalah entitas abadi, sebentuk tamu tak diundang yang memilih untuk menetap selamanya di sudut-sudut hati. Ia tak mengenal garis waktu, tak tunduk pada kalender yang terus berganti. Bertahun-tahun telah berlalu sejak kepergianmu, Mama, sejak hari itu langit terasa runtuh dan bumi kehilangan pijakannya.
Waktu, yang katanya adalah penyembuh segala luka, nyatanya hanya menorehkan lapisan tipis di atasnya, menyisakan denyut nyeri yang selalu siap untuk kembali terbuka.
Dan di tengah hiruk pikuk dunia yang terus berputar, di antara tawa dan tangis kehidupan yang silih berganti, air mata itu masih seringkali datang tanpa permisi. Ia bisa hadir di pagi yang cerah, saat aroma masakan seseorang samar-samar mengingatkanku pada kehangatan dapurmu. Ia bisa menyelinap di tengah malam yang sunyi, saat kesendirian terasa begitu pekat dan bayanganmu hadir begitu nyata. Ia bahkan bisa muncul di saat-saat bahagia, sebagai pengingat yang menyakitkan bahwa ada satu kursi kosong di meja perayaan, satu pelukan hangat yang takkan pernah lagi kurasakan.
Awalnya, tangisan itu adalah luapan histeris, raungan jiwa yang tercabik-cabik oleh kehilangan yang begitu mendalam. Setiap tetesnya adalah serpihan hati yang hancur, ungkapan ketidakpercayaan bahwa engkau telah benar-benar pergi. Aku meraba-raba kehampaan yang kau tinggalkan, mencari jejakmu di setiap sudut rumah, berharap ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir.
Namun, seiring berjalannya waktu, tangisan itu bermetamorfosis. Ia menjadi lebih tenang, lebih introspektif. Ia bukan lagi sekadar luapan kesedihan, tetapi juga ungkapan kerinduan yang tak terperi. Setiap tetes air mata kini membawa serta kenangan-kenangan indah bersamamu: senyum teduhmu, suara lembutmu, aroma parfum khasmu yang selalu menenangkan. Tangisan itu adalah caraku berkomunikasi denganmu di alam yang berbeda, sebuah bisikan rindu yang kuharap dapat mencapai dirimu di sana.
Ada kalanya aku merasa bersalah karena masih sering menangis. Bukankah aku seharusnya sudah ikhlas? Bukankah aku seharusnya sudah merelakan kepergianmu? Namun, hati ini tak pernah bisa sepenuhnya berbohong. Kehilanganmu adalah luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan oleh waktu semata. Engkau bukan hanya seorang ibu. Engkau adalah sahabat terbaikku, tempat aku mencurahkan segala suka dan duka. Engkau adalah pelindungku, tempat aku berlindung dari kerasnya dunia. Engkau adalah rumahku, tempat hatiku selalu ingin kembali.
Mungkin benar kata orang, dukacita adalah harga yang harus dibayar untuk cinta yang begitu besar. Dan cintaku padamu mah, adalah lautan tak bertepi. Maka, biarlah air mata ini terus mengalir, bukan sebagai tanda ketidakberdayaan, tetapi sebagai wujud cinta yang abadi. Biarlah ia menjadi saksi bisu betapa berharganya dirimu dalam hidupku, betapa besar kehilangan yang kurasakan.
Aku mencoba mengingat semua pelajaran yang telah kau ajarkan, semua nilai-nilai yang telah kau tanamkan dalam jiwaku. Aku berusaha untuk menjadi kuat seperti yang selalu kau harapkan. Namun, ada kalanya aku merasa rapuh, merasa kehilangan arah tanpa bimbinganmu. Di saat-saat seperti itu, air mata kembali menjadi pelampiasan, sebuah cara untuk melepaskan beban kerinduan yang terlalu berat untuk dipikul sendiri.
Mungkin suatu hari nanti, air mata ini akan mengering sepenuhnya. Mungkin suatu hari nanti, kenangan tentangmu akan terasa lebih manis daripada pahit. Namun, hingga hari itu tiba, aku akan terus membiarkan air mata ini mengalir, sebagai ungkapan cinta yang tak pernah pudar, sebagai pengakuan bahwa dukacita memang tak mengenal kadaluarsa, terutama ketika kehilangan seorang ibu yang begitu berarti dalam hidupku. Engkau akan selalu hidup dalam hatiku, dalam setiap helaan napasku, dalam setiap tetes air mata rinduku.