Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Teman Teduh
6
Suka
11,196
Dibaca

Tidak ada yang lebih konsisten di hidup Dirga selain dua hal, rambut kriwilnya yang wujudnya seperti hasil eksperimen gagal, dan keberadaan Nayla, sahabatnya sejak zaman SMA yang sampai sekarang belum bosan mengganggu rambut itu.

Pagi itu, di depan rumah Nayla, yang ironisnya hanya terpisah pagar rendah dari rumah kos Dirga, Nayla berdiri sambil memegang segelas kopi susu.

“Ga,” katanya sambil menyipitkan mata, “gue mau nanya serius.”

Dirga yang sedang mengikat sepatu menoleh. “Kalau nada lo gitu, biasanya nggak serius.”

Nayla mendekat, meneliti rambut Dirga dari jarak sangat dekat, sampai Dirga refleks mundur setengah langkah.

“Menurut lo,” Nayla berkata pelan, “kalau rambut lo diseduh air panas tiga menit, terus dikasih bumbu, bisa jadi mie keriting nggak?”

Dirga menatapnya datar. “Pagi-pagi udah pengen mati ya, Nay?”

Nayla tertawa keras. “Gue serius! Soalnya teksturnya mirip banget.”

“Ini rambut alami, bukan produk instan.”

“Ya justru itu,” Nayla nyengir. “Mie instan aja kalah alami sama rambut lo.”

"Ga, serius nih, gue laper!"

"Makan tu, Lee Kuan Yew!" ujar Dirga sambil menunjuk tanaman yang menjulur di sebelah Nayla. Tanaman Curtain Creeper yang entah kenapa dijuluki seperti nama mantan PM Singapura.

"Tega ya."

Seperti ribuan hari lainnya, Dirga memilih ngelus dada kalau harus menghadapi Nayla tetangga lima langkahnya itu. Sudah bertahun-tahun, percakapan mereka selalu dimulai seperti ini. Dan entah kenapa, dia tidak pernah benar-benar keberatan.

***

Di kampus, semua orang tahu dua hal, Dirga dan Nayla hampir selalu barengan, kayak tali dan sepatu tak bisa dipisah, dan Nayla hampir selalu mengganggu Dirga.

Mereka duduk di bangku panjang dekat kantin fakultas, tempat favorit mereka sejak semester awal. Dirga membuka laptop, Nayla merebahkan kepala di meja.

“Ga,” kata Nayla tanpa membuka mata, “lo sadar nggak sih kita ini kayak paket combo?”

“Combo apa?”

“Lo rambut kriwil, pendiem. Gue mulut cerewet, gangguan mental.”

“Gangguan mental apaan?”

“Gangguan pengen ngeganggu lo.”

Dirga terkekeh kecil. “Pantesan nggak sembuh-sembuh.”

Nayla membuka mata, menatap Dirga. “Eh, kemarin anak teknik nanya ke gue.”

Dirga mengangguk. “Nanya apa?”

“Katanya, ‘itu cowok lo ya?’”

Dirga berhenti mengetik. “Terus?”

“Gue jawab, ‘bukan’. Terus dia bilang, ‘oh, kirain soalnya lengket banget.’”

Dirga pura-pura kembali fokus ke layar. “Emang lengket.”

“Kayak lem fox.”

“Lo yang nempel.”

Nayla tersenyum, senyum kecil yang biasanya muncul kalau ia sedang merasa nyaman.

Ada jeda hening di antara mereka. Bukan hening yang canggung, tapi hening yang sudah terbiasa, seperti mereka tidak perlu bicara untuk saling tahu bahwa yang satu ada di sana.

***

Sore harinya, mereka duduk di kafe langganan dekat kampus. Kafe kecil dengan alunan playlist lagu lama.

Nayla mengaduk minumannya. “Ga.”

“Hmm?”

“Lo pernah mikir nggak, kita ini aneh.”

Dirga mengangkat alis. “Dari dulu juga aneh.”

“Maksud gue,” Nayla menatap lurus ke arahnya, “aneh karena kita nggak pernah pacaran tapi juga nggak kayak temen biasa.”

Dirga terdiam.

“Kayak,” lanjut Nayla cepat-cepat, “kalau gue ilang sehari, lo pasti nyari. Kalau lo nggak bales chat, gue kesel. Tapi kalau ada yang nanya status, kita kompak jawab, temen.”

Dirga menyandarkan punggung. “Lo pengen apa, Nay?”

Nayla mengangkat bahu. “Gue cuma pengen lo jujur.”

“Jujur soal apa?”

“Lo pernah nggak sih, kepikiran gue lebih dari temen?”

Dirga menatap rambut Nayla yang diikat asal, wajahnya yang terlalu familiar, terlalu dekat dengan hidupnya.

“Pernah,” katanya pelan.

Nayla membeku.

“Tapi,” Dirga melanjutkan, “gue takut kalau gue ngomong, terus semuanya berubah.”

Nayla tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Kita udah berubah, Ga, dari lama.”

***

Malam itu, listrik di lingkungan mereka padam. Dirga duduk di teras rumah Nayla, membawa dua lilin. Nayla keluar sambil membawa cemilan.

“Kayak acara survival ya,” kata Nayla.

“Kurang api unggun.”

Mereka duduk berdampingan, jaraknya dekat, terlalu dekat untuk dua orang yang mengaku hanya sahabat.

“Ga,” Nayla berkata pelan, “kalau nanti kita pacaran sama orang lain lo masih mau duduk kayak gini nggak?”

Dirga menoleh. “Lo mau?”

Nayla menggigit bibir. “Gue nggak tahu, tapi gue nggak bisa bayangin lo jauh.”

Dirga menatap langit gelap. “Gue juga.”

Nayla menyenggol bahunya. “Rambut lo kelihatan makin mie kalau kena cahaya lilin.”

Dirga tertawa. “Lo konsisten banget.”

“Karena gue suka.”

“Hah?”

Nayla terdiam, “Suka gangguin.”

Dirga menatapnya lama. “Nay.”

“Iya?”

“Kalau rambut gue beneran mie instan.”

“Kenapa?”

“Lo yang gue pilih buat nyeduh.”

Nayla terdiam satu detik, lalu tertawa sambil memukul lengan Dirga. “Gombal lo jelek.”

“Tapi lo senyum.”

Nayla berhenti tertawa, matanya bertemu dengan mata Dirga, tidak ada yang bergerak.

***

Mereka tidak langsung jadian, tidak ada deklarasi besar, dan tidak ada status.

Hanya perubahan kecil, Dirga lebih sering menunggu Nayla pulang, Nayla tidak lagi menggoda rambut Dirga setiap hari, kadang hanya memandangi.

Sampai suatu sore di kampus, Nayla berkata, “Ga.”

“Hmm?”

“Kalau gue ngajak lo pacaran, lo nolak nggak?”

Dirga tersenyum. “Gue kira kita udah lama pacaran, cuma pura-pura temenan.”

Nayla tertawa. “Dasar.”

Dirga berdiri, mengacak rambutnya sendiri. “Nih, mie instan lo.”

Nayla berdiri di depannya. “Gue nggak mau nyeduh.”

“Kenapa?”

“Takut habis.”

Dirga tersenyum lembut. “Tenang. Gue stoknya banyak. Seumur hidup.”

Nayla memukul dada Dirga pelan. “Ih, berisik.”

Tapi tangannya tidak ditarik.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Teman Teduh
Hans Wysiwyg
Novel
Bronze
Pengantin 500 Juta
Widiawan Bagaskara
Novel
Bronze
QUINNSHA
Gina Hartina
Flash
Bronze
Apa Kabar CInta?
sri asrinti
Novel
Bronze
Bias Rasa
Selvi Nofitasari
Flash
Janji Di Semangkuk Bakso
Rahmi Azzura
Novel
Destined
ratatouille
Flash
Hai, terima kasih, sampai jumpa lagi, pamit
pelantunkata
Cerpen
Seandainya Aku Tidak Membalas Ciumanmu
dari Lalu
Cerpen
Cinta Sisyphus
awod
Novel
Sebuah Rasa dan Asa
Aylani Firdaus
Skrip Film
SCRIPTED
Reiga Sanskara
Novel
Aktivis Kampus
Zihfa Anzani Saras Isnenda
Flash
Maaf aku tidak menjadi apa yang kamu mau
lidia afrianti
Cerpen
Good Parts
SAKHA ZENN
Rekomendasi
Flash
Teman Teduh
Hans Wysiwyg
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Flash
CAFE LATTE MERAH
Hans Wysiwyg
Flash
CINTA MATI
Hans Wysiwyg
Flash
PARMIN DAN BURUNG MAJIKAN
Hans Wysiwyg
Flash
Jatuh Cinta, Ternyata....
Hans Wysiwyg
Cerpen
Maybe Someday
Hans Wysiwyg
Novel
GARIS TAKDIR TANPA AKHIR
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg
Flash
Cerita Baper
Hans Wysiwyg
Flash
Titik Nol
Hans Wysiwyg
Flash
ORANG DALAM
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pacar Figuran
Hans Wysiwyg
Flash
Bos Kubikel
Hans Wysiwyg
Flash
Jangan Bangunkan Mimpi Ini
Hans Wysiwyg