Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Aruna dan Robin
1
Suka
34
Dibaca

Aruna duduk di bawah pohon flamboyan ketika Robin, si burung itu hinggap di pagar. Bulunya abu-abu, matanya tajam, seolah menyimpan banyak cerita.

“Kamu selalu sendirian,” tanya Robin.

Aruna tidak kaget. Ia hanya mengangguk. “Apa yang kamu lihat hari ini?” tanyanya.

Robin menoleh ke jalan.

“Aku melihat manusia berjalan tanpa tujuan,” katanya.

“Mereka bergerak cepat, tapi jiwanya tertinggal di belakang.”

Aruna menggambar lingkaran di tanah.

“Lalu kami terlihat seperti apa dari atas?”

“Rapuh,” jawab Robin singkat.

“Kalian menciptakan begitu banyak suara agar tidak mendengar diri sendiri.”

Angin sepoi menggerakkan daun di pinggiran pagar. Robin melanjutkan, “Kalian membangun gedung tinggi, tapi takut memandang langit terlalu lama. Seolah di sana ada pertanyaan yang tak ingin dijawab.”

Aruna menatap Robin, mencoba mencerna artinya.

“Apakah kami buruk?”

Robin menggeleng.

“Mungkin kalian hanya lupa. Kalian lupa bagaimana rasanya diam tanpa harus merasa bersalah.”

"Maksudmu.?" Tanya Aruna keheranan dengan jawaban yang penuh teka-teki itu.

Ia mengepakkan sayapnya sebentar, lalu melanjutkan pelan,

“Manusia tidak kekurangan waktu. Mereka hanya kekurangan keberanian untuk berhenti.”

Robin terbang. Aruna tetap duduk, menatap langit mencoba sekali lagi menyelami maknanya.

***

“Kamu selalu kembali ke tempat ini,” kata Robin lagi saat keesokan harinya singgah di tempat Aruna. “Seolah berharap dalam diam akan ada yang berubah.”

Aruna mengulum senyum, masih diliputi rasa penasaran sisa obrolan kemarin.

“Apa yang kamu lihat hari ini?”

Robin menoleh ke jalan.

“Aku masih melihat manusia berjalan tanpa tujuan,” katanya, seperti mengulang kalimat yang sama. “Mereka bergegas mengejar hari esok, sambil membiarkan hari ini seolah tidak berarti sama sekali seperti kemarin.”

Aruna menunduk.

“Lalu aku?” tanyanya.

Robin menatapnya lama.

“Kamu tetap menunggu,” katanya akhirnya. “Bukan untuk sesuatu yang datang—tapi untuk alasan agar tidak pergi.”

Angin semilir menggerakkan daun. Robin melanjutkan, “Kalian menyebutnya bertahan. Tapi menurutku, itu terlihat seperti sesuatu yang tak bergerak, seperti menahan diri agar tidak berubah.”

Aruna menatapnya, mencoba menyelami ucapan Robin.

“Apakah semua manusia seperti itu?”

“Tidak,” jawab Robin.

“Tapi kebanyakan memilih aman daripada bersikap jujur untuk dirinya semdiri.”

Aruna menatap langit.

“Apakah itu salah?”

Robin mengangkat sayapnya sedikit.

“Burung tidak menilai,” katanya.

“Kami hanya terbang ketika angin cukup jujur. Kami tahu kapan akan ada badai, karena kami selalu bergerak bersama angin. ”

Robin mengepakkan sayapnya lembut.

“Manusia tahu apa yang menyakitinya,” katanya pelan, “mereka hanya terlalu lelah untuk menyembuhkannya.”

Robin terbang, kali ini tanpa menoleh. Melesat mengejar angin meninggalkan pagar yang kembali kosong.

Aruna tetap duduk. Matahari bergerak, bayangan bergeser, dan dunia melanjutkan hidupnya tanpa menunggunya.

Ia sadar: bukan burung itu yang pergi lebih dulu—tapi keberaniannya sendiri yang tak kunjung datang.

***

Hari ini Aruna duduk lagi di bawah flamboyan yang lupa kapan terakhir berbunga. Bayangannya terbelah di tanah, seperti dua pilihan yang tak pernah saling menyentuh.

Robin, burung itu, hinggap lagi di pagar, membawa temaram langit di matanya.

“Kau datang lagi,” katanya.

“Seperti seseorang yang ingin pergi, tapi masih mencintai alas kakinya.”

Aruna tertawa lirih tanpa suara.

“Apa yang kau lihat dari atas sana?”

“Manusia,” jawab Robin, “Selalu menukar langit dengan atap. Lalu lupa bagaimana caranya menengadah.”

Angin lewat, meninggalkan sisa dingin di kulit Aruna.

“Kami terbang,” lanjut Robin, “bukan karena tahu ke mana, tapi karena diam terasa seperti kekangan.”

Aruna menunduk, memungut daun kering.

“Dan aku?”

Robin memiringkan kepala.

“Kau adalah jeda,” katanya. “Di antara keberanian dan ketakutan yang sama-sama letih.”

“Kalian menyebutnya menunggu,” kata Robin lagi, “padahal waktu tidak pernah benar-benar singgah.”

Burung itu membuka sayap, menunggu angin bergerak.

“Tak semua yang tinggal sedang bertahan,” bisiknya. “Sebagian hanya lupa cara bergerak.”

Lalu ia pergi—terbang menghilang menjadi garis tipis di langit.

"Ini saatnya bergerak dan berubah," pikir Aruna, lalu ia putuskan melangkah membiarkan bayangannya bergerak lebih dulu.

Note: Robin (Leiothrix lutea) nama sejenis burung.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Aruna dan Robin
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Dari 50 ribu ke 1 miliyar Budidaya Belalang
Putut Dwiffalupi Sukmadewa
Flash
Bronze
Pengecut yang disukai Tuhan
K. Istiana
Flash
Bronze
Sang Penulis
AndikaP
Flash
Sebuah Jalan
Titin Widyawati
Cerpen
Berkah
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Reynald's Longing
Langitttmallam
Cerpen
Hari Ini Aku Datang Lebih Awal
Aulia umi halafah
Cerpen
Bronze
Bukan Pencuri
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Bawa Aku, Kemana Kau Pergi
angin lembah
Flash
Mengeja Angka
Chie Kudo
Flash
Hidup yang Katanya Normal
El falach
Cerpen
Aku untuk Diriku Part 1
Dyah
Novel
Berdiri Di Ambang Dunia
Asep Saepuloh
Cerpen
Bronze
Dika & Sang Pengubah Takdir
Shinta Larasati Hardjono
Rekomendasi
Flash
Aruna dan Robin
Hans Wysiwyg
Flash
Mimpi Teduh
Hans Wysiwyg
Cerpen
Mencari Cinta Di Kelab Malam
Hans Wysiwyg
Flash
DIA BUKAN MAVERICK
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Di Bawah Langit Jogja
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Kedua (the end)
Hans Wysiwyg
Flash
CAFE LATTE MERAH
Hans Wysiwyg
Cerpen
Harmonika Déjà vu
Hans Wysiwyg
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Flash
DUNIA JUNGKIR BALIK
Hans Wysiwyg
Flash
CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg
Cerpen
Itaewon AFTER 29 Oktober 2022
Hans Wysiwyg
Flash
Cheese Lovers
Hans Wysiwyg