Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Aruna dan Robin
1
Suka
3,055
Dibaca

Aruna lebih suka diam daripada bicara. Orang yang tak pernah mendengarnya bicara mengganggapnya bisu.

Sebagian orang malah menganggapmya kurang waras.

"Gadis itu sudah hilang ingatannya," ujar seorang ibu saat ada orang yang bertanya tentangnya.

Sejak kecil Aruna lebih sering merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.

Ia tumbuh di rumah yang selalu berisik. Kata-kata yang keluar dari mulut orang-orang dekatnya selalu seperti vonis.

Keras kepala, tukang bantah, egois, hanya karena ia merasa punya pikiran sendiri, dan juga punya mulut untuk bersuara.

Tapi justru dianggap pemberontak.

Anak-anak belajar tentang dunia dari rumahnya. Dari rumah itu Aruna belajar bahwa menangis sebaiknya dilakukan diam-diam karena air mata sering dianggap kelemahan.

Barangkali itulah sebabnya ia tumbuh menjadi perempuan yang pandai menyimpan segala sesuatu. Kekecewaan, ketakutan, amarah, bahkan menyimpan bahagia karena ia tidak tahu kepada siapa seharusnya kebahagiaan itu dibagikan.

Semua orang mengira Aruna pendiam. Padahal ia hanya tidak pernah menemukan tempat yang cukup aman untuk menjadi dirinya sendiri.

***

Robin itu datang pada awal musim hujan.

Tubuhnya kecil, dada merah, dan matanya bulat seperti selalu menyimpan rasa ingin tahu. Ia hinggap di dahan jambu yang tumbuh miring ke arah jendela kamar Aruna.

Esoknya ia datang lagi, lusa pun demikian. Lama-kelamaan kehadirannya berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi mengejutkan, seperti matahari yang terbit atau hujan yang turun tanpa diminta.

Aruna tidak pernah memberinya nama lain. Baginya, semua burung sejenis itu cukup dipanggil Robin.

Mula-mula ia hanya meletakkan beberapa remah roti di ambang jendela. Setelah itu ia mulai bercerita seperti memuntahkan curhatan.

Cuma cerita biasa, tentang hari yang melelahkan. Perempuan lain yang tidak lebih cantik darinya tapi lebih percaya diri, lebih mudah dicintai. Tentang rasa takut yang selalu muncul setiap kali seseorang mulai masuk ke dalam hidupnya.

Burung itu hanya diam, mematuk remah roti, mengangkat kepala sesekali, seperti mendengarkan, dan Aruna terus bercerita.

Aneh, setiap kali, Aruna justru merasa didengar, bukan dihakimi.

Lalu ia mulai membuka pintu-pintu yang selama ini dikuncinya rapat.

Ia bercerita tentang ayah yang pergi tanpa pamit, ibunya yang masih hidup tetapi sibuk memikul luka sendirian hingga lupa bahwa seorang anak juga bisa retak karena diacuhkan.

Tentang masa kecil yang dipenuhi pertengkaran, lalu membuatnya berkeyakinan bahwa perempuan yang berasal dari keluarga berantakan akan selalu membawa retakan itu ke mana pun ia pergi.

Tapi yang paling tidak pernah ia akui kepada siapa pun adalah ketakutannya sendiri.

Ia takut dicintai.

Karena setiap kali membayangkan seseorang mengenalnya lebih dekat, yang muncul bukan harapan, melainkan kecemasan.

Ia takut jika orang yang mencintainya itu tahu semua masa lalunya. Apalagi jika luka-luka keluarganya ikut dianggap sebagai aib. Lantas cintanya itu meminta syarat-syarat yang tak pernah bisa ia sanggupi.

Robin tetap diam mendengarkan, sesekali mengepakkan sayapnya. Seolah berkata, "Tidak semua jawaban harus diucapkan."

Kehadiran Robin memberi Aruna keyakinan. Semakin sering ia jujur, luka-luka hatinya semakin sembuh.

Aruna merasa ada sesuatu yang kini tahu semua rahasia dirinya tanpa harus menjadi orang lain.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Aruna dan Robin
Hans Wysiwyg
Flash
Bronze
Las Vegas Sin
Silvarani
Flash
THE UNSUNG MELODY
Flora Darma Xu
Cerpen
Bronze
Karma Tidak Pernah Tersesat
Moh. Sudah
Flash
Seri Suara Dan Opini : Mulut Yang Diam, Hati Yang berteriak
M. Fagih Alhafizh
Cerpen
Catatan dari hal-hal yang sederhana.
Aris Setiawan
Novel
Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup
Novenita Marpaung
Flash
Bronze
Sepi Ditengah Ramainya Trending Topik
Wawan Setiawan
Flash
Yellow #3
Adel Romanza
Flash
Bronze
Gagak dan Guci Air
Ahmad Muhaimin
Flash
Bronze
Solitaire Beauty
Silvarani
Novel
Bronze
Yang Terpilih
Kemala88
Flash
Breakfast at Kempinski's
Ardhi Widjaya
Flash
Senyap dalam Kepala
Ika nurpitasari
Novel
Kebun Warisan Kakek
Allindri S Dion
Rekomendasi
Flash
Aruna dan Robin
Hans Wysiwyg
Flash
Jarak dan Rindu
Hans Wysiwyg
Flash
Pengawal Pribadi
Hans Wysiwyg
Flash
Selebgram Roti Gabin
Hans Wysiwyg
Flash
Pemenang Kedua
Hans Wysiwyg
Cerpen
SUNYI SEKALI
Hans Wysiwyg
Flash
Cerita Semalam
Hans Wysiwyg
Flash
CAFE LATTE MERAH
Hans Wysiwyg
Flash
Orang Asing di Ujung Jembatan
Hans Wysiwyg
Cerpen
Terjebak Rasa
Hans Wysiwyg
Cerpen
Kenapa Harus Dia?
Hans Wysiwyg
Flash
Satu Jam Saja
Hans Wysiwyg
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Flash
KAMU ITU CANTIK CLARISA
Hans Wysiwyg
Flash
Suami Terba(l)ik
Hans Wysiwyg