Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Komik Shinchan, Rokok Lintingan dan Kacamata Bertangkai Satu
0
Suka
3,086
Dibaca

Bapak dalam ingatan kepalaku adalah sosok gemoy yang tengah malam duduk membaca komik Shinchan di meja makan, ditemani rokok lintingan karena tidak bisa beli Sampoerna Kretek kesukaannya dan segelas kopi hitam yang disesapnya sedikit demi sedikit, agar tidak lesap buru-buru.

“Hoi,” sapanya dari balik kacamata yang tangkainya sudah dilem berkali-kali, setiap kali aku bangun tengah malam, terburu-buru ingin ke kamar mandi.

Tak jarang, aku terbangun oleh cekikik gelinya karena tingkah polah Si Shinchan. Di sampingnya sudah menumpuk jilid-jilid lain yang rencana dibacanya. Itu semua koleksi kakakku yang putus sekolah karena tiada biaya.

Komik-komik itu dibelinya bekas, di Pasar Senen, dengan menumpangi KRL dari Stasiun Bekasi yang gerbongnya belum sebagus sekarang. Masih banyak pengamen, pedagang cang-ci-men dan orang-orang tak punya kaki yang mengesot sambil bawa-bawa sapu, sementara mulutnya bersalawat berharap rezeki turun dari langit—atau dari atap gerbong kereta?

Komik-komik itu seharga Rp10.000 dapat 3, dibeli kakakku dari jeri payahnya menjadi tukang antar galon. Tidak apa-apa, kan? Menghibur diri dengan hasil keringat sendiri.

Jika pagi tiba, ketika aku bersiap sekolah, seringnya, Bapak masih mendengkur. Ibu bernada tinggi—bukan sedang menyanyi seriosa—menyuruhku membangunkan Bapak, bagaimana pun caranya, untuk minta uang jajan. Aku lebih suka menggelitik perut gemoy Bapak, bahkan menggigit dan meniup telinganya.

Berhasil, Bapak bangun, tapi, bukan untuk memberiku uang jajan, melainkan balas dendam. Ditariknya aku ke dalam pelukannya, dicium pipiku kiri-kanan, bahkan dijilat-jilat. HOEK! Bisa bayangkan aroma liur orang baru bangun tidur?

“Sangu, loh, Pak! Malah jilat-jilat kayak si meong.”

“Nggak ada,” jawab Bapak, sambil kembali memeluk guling. “Minta ibumu sana.”

“Ih, kata Ibu, Ibu nggak punya uang.” Tak menyerah, kutarik bahunya agar telentang. Lagi dan lagi, aku dipeluk kuat-kuat, seperti John Cenna mengunci lawannya.

Huh! Lepek wajahku oleh air liurnya. Seragamku pun berantakan lagi. Dengan bernesu-nesu, aku berangkat sekolah. Ketika bel istirahat berbunyi dan anak-anak lain jajan di kantin, air mata menggenang di pelupuk mataku.

*

Aku tidak pernah bertanya, kenapa Bapak tidak kerja?

Namun, jika kalian penasaran, aku akan jawab: dia bekerja, kok, meski serabutan. Kadang menyopiri sepupunya yang tinggal di Tebet, mengantar parsel saat musim natal dan lebaran, kadang mengecat rumah Pakde—kakaknya dan seringnya, Bapak mondar-mandir rumah Pakde mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan, pulangnya tidak selalu diberikan uang, kadang Indomie, telur atau beras.

Pada saat-saat seperti itu, di usiaku yang remaja, aku sering kesal dan tak mau mengerti, jika keinginanku tidak terpenuhi. Jika ingin sesuatu, seperti HP Nokia 5300 Express Music, aku tahu diri, mengutarakannya pun tidak sampai hati.

Bapak terimbas badai PHK 1998, tepat pada usianya yang tidak produktif lagi. Setelah itu, sulit baginya menafkahi kami.

Jika saja, aku yang telah dewasa bisa kembali dengan mesin waktu, aku ingin bilang padanya: aku tak apa hidup miskin, asal bersama Bapak. Karena, Pak, hidup setelah kepergianmu justru lebih berat. Tak ada yang kumintai restu saat menikah, tak sosok Eyang Kung yang menggendong anak-anakku dan tak ada lagi sosok gemoy yang bisa kupeluk sepuasnya. Terakhir kali, tubuhmu bahkan kurus kering karena kanker paru-paru yang menggerogotimu, Pak.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Komik Shinchan, Rokok Lintingan dan Kacamata Bertangkai Satu
Autami Anita
Novel
Bronze
Tanya Hati
jingria_jk
Skrip Film
Suamimu itu bullshit, mbak!
agita vanesa m
Flash
CINTA SMP (Sakitnya Patah Hati)
Yattis Ai
Novel
Mendahului Sebelum Karma
Elsa Setyawati Sumule
Novel
Bronze
Maruishi
Maruishi
Skrip Film
Selingkuh
M Fadly Hasibuan
Skrip Film
PENCURI REALITA
Ahmad Daniel Ardhy
Cerpen
Bronze
Sekolah di Tahun 1973
Ron Nee Soo
Novel
Papercut
tane
Novel
Misleading Game
Alisya Zahra
Skrip Film
lover
Satrio Purnomo
Novel
SIGRAH
metanoia
Novel
Bronze
REMINISCENCE ELEGY
mahes.varaa
Novel
Bronze
Boundaries
ayurinp
Rekomendasi
Flash
Komik Shinchan, Rokok Lintingan dan Kacamata Bertangkai Satu
Autami Anita
Cerpen
Bronze
Pok Ame-Ame Julia Orang Gila
Autami Anita
Cerpen
Bronze
Perempuan Lain dalam Selarut Teh
Autami Anita
Flash
Bronze
Tempe Orek
Autami Anita
Flash
Bronze
Sia dan Sel Kulit Mati
Autami Anita
Cerpen
Jika Mencintaimu Dilarang, Aku Masih Bisa Menciummu di Bawah Payung
Autami Anita
Novel
Bronze
Rosmariam
Autami Anita
Novel
No Summertime Sadness Here
Autami Anita
Cerpen
Perempuan yang Lehernya Terjerat Rantai Setan
Autami Anita
Cerpen
Bronze
Seharusnya, Ku Beranikan Diri Menatap Matamu
Autami Anita