Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Selamanya 24 di 24 November
4
Suka
14,873
Dibaca

Pagi tanggal 24 November itu, aku bertemu dengan teman-temanku yang sudah lama tidak kujumpai. Kami duduk di sebuah kafe yang ramai menikmati tawa dan kopi, seolah waktu tak pernah bergerak. Kami menikmati waktu sampai ponselku berbunyi.

Banyak telepon dan pesan masuk secara beruntun. Semuanya dari ayahku, yang isinya sama: ia memintaku segera pulang. Aku tidak langsung mengiyakannya. Tapi setelah chat yang berulang kali menyatakan hal yang sama, dengan nada yang semakin mendesak, akhirnya aku memutuskan untuk pergi.

Di jalan, kepalaku dipenuhi tanya. Mengapa aku disuruh pulang? Apa ada hal yang begitu urgent hingga aku harus pulang? Hal apa itu? Apakah ibuku kenapa-napa? Atau mungkin ada saudara jauh yang berpulang? Pikiranku berputar kencang, mencoba mencari logika di balik desakan ini.

Saat akan tiba di rumah, pandanganku terhenti pada sesuatu yang membuat hatiku mencelos: bendera putih. Bendera yang khas dengan kedukaan.

Saat sampai di rumah, aku melihat kakak perempuanku dan ayahku. Ayahku hanya berpesan dengan suara yang berat, "Masuk dan temui ibumu." Aku melangkah masuk, dan melihat ibuku yang sudah menangis tersedu-sedu. Aku hanya disuruh duduk. Ayahku menarik napas, lalu berucap, "Kakakmu sudah berpulang."

Aku hanya diam, tidak ada tangis. Aku hanya mampu bertanya, "Kenapa bisa?" Kata ayahku, dengan mata kosong, "Ia ditemukan di kamar mandi."

Padahal, aku dan kakakku terakhir berkomunikasi tadi pagi. Dia masih menjawab chatku jam 02.40 pagi. Pesan itu masih tertera jelas di layar: "Besok kalau pulang malam jangan lupa share live location." Janji "besok" itu ternyata tidak pernah datang untuknya.

Setelah diskusi yang panjang, akhirnya ayahku pergi menjemput jenazahnya. Kata ayahku, itu menjadi perjalanan terpanjang dalam hidupnya. Hatinya hancur ketika melihat jenazah anaknya sendiri di dalam mobil ambulans. Tubuh kakakku sudah separuh membeku dingin, namun wajahnya terlihat tenang.

Perjalanan yang terasa abadi itu berakhir. Jenazah kakakku tiba di rumah sekitar pukul 19.30, dalam iringan mobil ambulans yang sunyi. Adikku, ibuku, dan kakak perempuanku, semua menangis. Suara isak tangis mereka merobek keheningan duka.

Namun, aku hanya merasa kosong. Aku tidak bisa menangis. Aku hanya diam, berlutut, sambil menyentuh tubuh kakakku yang sangat dingin. Tubuh yang aku tahu, tidak akan kulihat lagi setelah proses pemakaman. Setelah penyucian, kakakku dirias. Wajahnya sangat tenang, seperti tertidur lelap tanpa mimpi buruk.

Malam itu menjadi malam penghormatan terakhir kami. Pemakaman di hari kedua berjalan lancar. Aku masih berada dalam mode "fungsi" atau mungkin masih terperangkap dalam syok. Lagi, aku tidak menangis. Aku hanya memandang wajahnya dan menyentuh tangannya, mencoba mengukir setiap detail itu dalam ingatan.

Namun, ketika semua selesai dan aku sampai di rumah, barulah rasa hampa itu memukulku. Kebiasaan kami makan bersama setelah acara penting hanya bisa aku jalani sendiri. Ada yang kosong, ada yang hilang dari diriku, dari rutinitas kami.

Malamnya, ketika doa bersama berlangsung. Di tengah ketenangan yang spiritual, air mata yang selama ini tertahan tiba-tiba pecah. Aku menangis. Setelah doa itu selesai, kami semua pulang. Rasanya seperti ada yang ketinggalan—sebuah kehadiran, sebuah bagian dari diriku—tapi tidak bisa kubawa pulang.

Aku kini harus hidup berdampingan dengan duka. Aku harus belajar hidup dengan segala kenangan yang ada. Aku masuk ke kamarnya, mencium sisa aroma parfum di udara. Setiap sudut rumah terisi kenangan kami, setiap tempat yang pernah kami kunjungi mengingatkanku akan kehadirannya.

Kini, aku menyadari besarnya kehilangan ini.

Aku kehilangan payung yang melindungiku dari hujan. Kakakku adalah perisaiku dari kesulitan, dan kini aku harus menghadapi badai kehidupan seorang diri. Aku harus belajar mencari kekuatan di dalam diriku sendiri, di ruang yang selama ini selalu diisi oleh perlindungannya.

Kami kehilangan satu kaki kursi kecil kami. Kursi keluarga kami tidak bisa lagi berdiri tegak. Ia pincang, miring, dan tidak aman. Meskipun Ayah dan Ibu berusaha keras untuk menopangnya, aku tahu, celah itu tidak bisa ditambal. Segalanya tidak lagi sama.

Aku harus belajar berdiri kokoh di atas tiga kaki yang tersisa, bahkan jika itu terasa tidak seimbang dan menyakitkan. Aku tahu, hari-hari ke depan akan menjadi perjuangan panjang untuk menerima bahwa kakakku, yang selamanya berusia 24 tahun, tidak akan pernah kembali.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
PEREMPUAN YANG MELINTASI WAKTU DENGAN LUKA
Aldi A.
Flash
Rocko
Fitri F. Layla
Flash
Selamanya 24 di 24 November
Sekar Kinanthi
Novel
Bronze
Pintu Tauhid 2
Imajinasiku
Novel
Setelah Suamiku Menikah Lagi
Rita Cisan
Novel
Bronze
The Shadow In Your Love
Kamalsyah Indra
Flash
Bronze
Kisah Kelam Kehidupan: Kebenaran di Balik Mimpi
mahes.varaa
Flash
Bronze
Sepotong Roti Bakar Untuk Alisha
Moycha Zia
Cerpen
Bronze
Senandu biola disudut kota tua
Samuel Siahaan
Cerpen
Bronze
Jenny
Ahmad Muhaimin
Novel
Gold
Rafilus
Noura Publishing
Novel
Me- Tanpa Di-
Indahdee__
Novel
Bronze
Batu Selomita
YOHS SUWONDO
Novel
Rumah Sang Bidadari
DMRamdhan
Novel
MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI
Herman Sim
Rekomendasi
Flash
Selamanya 24 di 24 November
Sekar Kinanthi
Flash
Hadiah dari Bumi
Sekar Kinanthi
Flash
Ternyata, Aku Cuma Punya Tuhan
Sekar Kinanthi
Cerpen
Luna: Jiwa yang Hilang
Sekar Kinanthi
Flash
7 Menit yang Tersisa
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Retak
Sekar Kinanthi
Cerpen
Luna: Bayangan yang Kembali (Prequel Luna: Jiwa yang Hilang)
Sekar Kinanthi
Cerpen
The Unseen Hand: Prolog
Sekar Kinanthi
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Flash
Teduh yang Tak Pernah Kupilih
Sekar Kinanthi
Flash
Jika Hidup adalah Cerita, Siapa Pembacanya?
Sekar Kinanthi
Flash
Kasus Terakhir Rissa
Sekar Kinanthi
Cerpen
Ketika Langit Salah Dengar
Sekar Kinanthi
Flash
If I Saw You In Heaven
Sekar Kinanthi
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi