Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
7 Menit yang Tersisa
2
Suka
15,935
Dibaca

Garis lurus muncul. Dingin. Final. Di monitor, detak jantung Erna berhenti.

Konon, otak akan menyala sebentar. Tujuh menit untuk memutar memori paling murni.

Menit pertama. Bisikan rahasia di bawah selimut tebal, napas hangat kakaknya di telinga. Mereka tertawa, berbisik lebih pelan. Jari-jari kecil saling bertaut. Tak pernah terpisah.

Menit kedua. Air terjun. Kakinya tergelincir di batu lumut. Tangan kakaknya mencengkeram pergelangan tangannya, keras, sampai meninggalkan bekas merah. Jantungnya berdebar. Tawa mereka tertelan gemuruh air, tapi genggaman itu tidak pernah lepas.

Menit ketiga. Wajah-wajah sahabatnya. Sinta yang memberinya tisu saat menangis. Ratna yang membelanya di kelas. Tapi Erna ingat: ia belajar persahabatan dari meja makan, dari kakaknya yang selalu menyisakan bagian terbaik untuknya. Dari pelukan yang tidak perlu diminta.

Menit keempat. Laki-laki itu—suaminya—mendengarkan tanpa memotong saat ia bercerita tentang kakaknya sampai larut. Ia mengerti. Cinta yang ia terima darinya terasa familiar, seperti pulang.

Menit kelima. Anak-anaknya memeluknya sebelum tidur. Ciuman di kening. Dagu mereka bertumpu di pundaknya. Erna tahu pelukan ini. Tubuhnya mengingatnya sebelum otaknya sempat mengingat.

Menit keenam. Cucunya tertawa. Di sudut matanya, Erna melihat bayangan samar: lengkungan alis, bentuk senyum. Kakaknya, hidup lagi dalam wajah-wajah baru ini. Memori tidak mati. Ia hanya berpindah kulit.

Menit ketujuh. Layar hampir datar. Erna tidak lagi melihat perjalanan hidupnya. Ia melihat cincin utuh: dirinya dan kakaknya, memori yang menyatu, tak terpisahkan.

Ia menyadari: mereka tidak pernah berada dalam memori satu sama lain.

Mereka adalah memori yang sama.

Garis lurus itu tidak membekukan apa pun. Ia hanya menandai di mana satu bentuk berakhir, dan bentuk lain—abadi, tanpa nama—dimulai.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Sepatu lusuh sang sarjana
Indah Budiarti
Novel
Selumbari
Alfian N. Budiarto
Flash
7 Menit yang Tersisa
Sekar Kinanthi
Cerpen
Bronze
Punggung yang Patah
Jasma Ryadi
Novel
Diandra
D
Flash
Sebuah Keraguan
Anisah Ani06
Flash
Sandikala
Trippleju
Flash
Bronze
Heaven
Rama Sudeta A
Cerpen
Peluru di Kepala Pacarku
Mahalawan
Cerpen
Don
Zaki S. Piere
Cerpen
Bronze
CLBK : Cek Nomor Lama Bawa Keruwetan
Haris Fadilah Hryadi
Novel
TANPA TAPI
Rahma Pangestuti
Novel
Bronze
Impian Dalam Tragedi
W
Flash
CATATAN JURNALIS DARI KAMBOJA
DENI WIJAYA
Flash
Tanpa Restu
Reynha
Rekomendasi
Flash
7 Menit yang Tersisa
Sekar Kinanthi
Flash
Jika Hidup adalah Cerita, Siapa Pembacanya?
Sekar Kinanthi
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Tidak Boleh Kutinggali
Sekar Kinanthi
Flash
If I Saw You In Heaven
Sekar Kinanthi
Cerpen
The Unseen Hand: Prolog
Sekar Kinanthi
Flash
Raga Milik Bumi
Sekar Kinanthi
Flash
Selamanya 24 di 24 November
Sekar Kinanthi
Cerpen
Heaven is Troubled 2
Sekar Kinanthi
Flash
Selamat Ulang Tahun, Rara
Sekar Kinanthi
Flash
Teduh yang Tak Pernah Kupilih
Sekar Kinanthi
Novel
Jebakan Cinta Sang Pewaris
Sekar Kinanthi
Flash
Jiwa yang Dikucilkan
Sekar Kinanthi
Flash
77 Questions Before I Was Born
Sekar Kinanthi
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi