Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
If I Saw You In Heaven
2
Suka
7,584
Dibaca

No. 0415-24112082

“Selamat datang kembali, Erna,” sapa petugas di depanku.

Aku hanya tersenyum. Setelah lima puluh tujuh tahun menanti, akhirnya aku meninggalkan bumi. Tempat ini mungkin surga, atau hanya ruang tunggu tak bernama.

Tugasku sudah tercapai. Hidupku sudah berakhir. Kisahku telah menjadi kitab yang selesai. Sekarang, aku berada di tempat yang kunanti-nantikan.

“Erna, kamu akan menunggu di rumah yang telah kami siapkan: rumah impianmu. Rumah kecil berhalaman luas penuh rumput di tepi danau,” jelas petugas.

Aku mengangguk. Ternyata benar, Tuhan menciptakan rumah terindah kita di sini.

Sejak datang, aku merasakan damai yang tidak pernah kurasakan di bumi. Namun, kedamaian ini terasa hampa. Sendiri. Tanpa orang-orang terkasihku.

“Apa aku bisa bertemu dengan keluarga lamaku?” tanyaku.

“Bisa, Erna. Kamu bisa mencarinya sendiri dengan bantuan petugas kami. Namun, kamu hanya bisa menemuinya jika mereka belum bereinkarnasi.”

Tempat yang kudamba-dambakan untuk berkumpul lagi, ternyata sedikit mengecewakanku. Reuni yang kudamba, ternyata berbatas syarat.

Aku menghabiskan waktu yang terasa abadi di ruang-ruang administrasi, mengisi formulir demi formulir, mengikuti arahan petugas yang suaranya datar. Setelah proses itu, aku keluar mencari rumahku. Rumah putih beraksen kayu di tepi danau. Rumah itu memiliki dua kamar. Entah siapa yang akan menempati satu kamar yang masih kosong itu.

Aku menunggu 57 tahun hanya untuk satu orang: kakak laki-lakiku.

Dia berumur 24 tahun ketika meninggalkan dunia. Rasa sakitnya tak terperikan. Dari tahun ke tahun, aku bertambah tua. Kulitku semakin keriput, tubuhku semakin membungkuk. Sementara kakakku, ia abadi di umurnya yang ke-24.

Berbekal informasi, aku mencari kakakku. Rumahnya tidak jauh, hanya perlu naik bus yang melewati rumahku.

Aku sampai di depan rumahnya yang berdesain sangat modern, kontras dengan rumahku yang sederhana.

Aku memandangi rumah itu. Tak lama, seorang laki-laki yang sudah sangat lama kurindukan keluar. Tubuhnya tidak berubah, masih sama seperti terakhir meninggalkan bumi. Dia masih muda, berbeda dengan tubuhku yang sudah renta ini.

Kakakku keluar membawa kopi. Minuman kesukaannya, yang bahkan menemaninya ketika ia meninggalkan bumi.

Dia duduk di taman rumahnya, menyesap secangkir kopi. Dia membawa serta buku sketsanya. Aku yakin ia menggambar desain rumah. Apakah ia bekerja menjadi arsitek di sini? Apakah ia juga yang mendesain rumahku?

Setelah lama menatapnya, dia menyadari kehadiranku.

Namun, dia hanya melihatku dari kejauhan. Dia tidak mengenaliku, mungkin karena fisikku yang sudah berubah menjadi tua dan rapuh. Melebihi umurnya saat ia meninggalkan bumi.

Aku hanya terdiam. Air mataku bahkan tak bisa keluar.

Dia menaruh buku sketsanya, lalu berjalan mendekatiku.

Tubuhnya masih sama. Senyumnya tidak pernah berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.

“Adek,” sapanya.

Ternyata dia mengenaliku. Dia memelukku.

Tubuh yang terakhir kali kusentuh 57 tahun yang lalu. Tubuhnya yang dulu sedingin es. Sekarang sudah kembali hangat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
EVOIA
Sasa
Novel
PERNIKAHAN DINI KLARA
Yattis Ai
Skrip Film
MONA
Arienal Aji Prasetyo
Flash
SEMBUH
Rolly Roudell
Flash
Isi Bekal Amel
Kiara Hanifa Anindya
Flash
If I Saw You In Heaven
Sekar Kinanthi
Novel
I'm not an ordinary Oiran
mikaji Al daufan
Novel
Catatan 20 Tahun
Chin Pradigta
Flash
Seperempat Abad
Rahma Pangestuti
Flash
Aku Pernah Hidup
Sofiza
Flash
Suasana Pedesaan
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Bronze
Ngarai Sianok dan Sepiring Nasi Padang Elok
Silvarani
Flash
Hantu Anti-Ghosting
Desto Prastowo
Novel
Angel's Story
anggie sannia
Novel
Morning Coffee
Ang.Rose
Rekomendasi
Flash
If I Saw You In Heaven
Sekar Kinanthi
Flash
Kasus Terakhir Rissa
Sekar Kinanthi
Cerpen
Heaven is Troubled
Sekar Kinanthi
Flash
Selamanya 24 di 24 November
Sekar Kinanthi
Cerpen
Heaven is Troubled 2
Sekar Kinanthi
Flash
77 Questions Before I Was Born
Sekar Kinanthi
Flash
Ternyata, Aku Cuma Punya Tuhan
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Retak
Sekar Kinanthi
Flash
Jiwa yang Dikucilkan
Sekar Kinanthi
Cerpen
Luna: Jiwa yang Hilang
Sekar Kinanthi
Flash
7 Menit yang Tersisa
Sekar Kinanthi
Cerpen
Reuni Dua Jiwa
Sekar Kinanthi
Cerpen
Kereta Terakhir Menuju Rumah
Sekar Kinanthi
Cerpen
Halaman Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi