Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Di Barisan Belakang
0
Suka
668
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Hari sudah beranjak malam. Ruang-ruang kelas sudah benar-benar kosong. Sekolah sepi. Hanya ada aku yang masih bertahan di ruang guru, menyelesaikan berkas-berkas persiapan akreditasi bulan depan.

Untuk mengusir pengap dan lelah, aku melangkah keluar sejenak, menikmati langit malam. Angin berhembus sepoi-sepoi. Sunyi, tetapi menenangkan. Genap sebulan aku berada di tempat yang baru.

Saat kembali menuju ruanganku, entah mengapa, ayunan kakiku berhenti di depan kelas 6. Papan tulisnya penuh coretan berisi nama-nama siswa. Pecahan kapur berserakan di lantai, seolah pelajaran baru saja selesai.

Aku tersentak ketika menoleh ke barisan bangku paling belakang. Seorang murid duduk, diam tak bergerak, dengan kepala menempel ke meja. Aku segera masuk dan menghampirinya.

“Kenapa kamu belum pulang? Menunggu orang tuamu menjemput?” tanyaku.

Ia menggeleng. Wajahnya tampak lesu, seragamnya kusut dan tidak tertata.

“Bapak antar kamu pulang, ya.” Aku meraih tangannya. Dingin. Berat.

Namun, ia tetap duduk, lalu menunjuk ke arah papan tulis. “Tapi nama saya belum disebut. Kata Bu Guru, yang namanya belum disebut, belum boleh pulang.”

Tidak mungkin. Tidak ada guru di sekolah ini yang akan membiarkan muridnya menunggu sampai larut malam.

“Baiklah. Siapa namamu?”

“Banyu,” jawabnya seraya menegakkan posisi duduk.

Aku mencari namanya di daftar itu. Tiga kali kuperiksa. Tidak kutemukan.

Aneh. Mungkin ada yang salah. “Benar kamu kelas 6? Kenapa namamu tidak ada di sini?”

“Jadi saya tidak bisa pulang, Pak? Saya harus tetap di sini?” suaranya lirih, penuh kesedihan.

Aku lekas menulis namanya, lalu menyebutnya dengan lantang. Banyu berdiri, dan bersedia kuantar pulang.

Sepanjang perjalanan, tubuhnya limbung. Aku sempat menawarkan berhenti untuk membeli makanan, tetapi ia menolak. Ia hanya ingin cepat sampai di rumah.

“Masih jauh dari sini?”

“Sudah dekat, Pak. Itu yang warna biru.”

Aku memarkirkan motor di depan rumahnya sambil melihat sekeliling. Semua orang sepertinya sudah tidur.

“Benar yang ini?”

Banyu mengangguk. Ia memilih bertahan di atas jok motor, seakan ragu untuk turun. Takut, mungkin.

Aku mengetuk pintu berkali-kali. Tidak ada yang menjawab.

Seorang tetangga keluar dari rumahnya. Aku menjelaskan sedang mengantar Banyu pulang. Tatapannya berubah, semacam terkejut—tetapi kurasa bukan.

Tanpa berkata apa-apa, ia masuk ke dalam rumah itu. Beberapa saat kemudian, ia keluar bersama seorang ibu.

Banyu tidak ada di sini,” kata si Ibu.

“Iya, Bu. Justru maksud saya… Banyu…”

Saat aku melihat ke belakang, Banyu tidak ada. Menghilang begitu saja.

Ibu Banyu langsung menangis tersedu-sedu. Aku hanya bisa berdiri terpaku, tidak memahami yang membuatnya bereaksi seperti itu.

Tetangga di sampingnya akhirnya angkat bicara. Suaranya pelan, memilih kata dengan hati-hati. Ia menceritakan Banyu sudah meninggal setahun lalu. Anak itu terjatuh ketika kursi yang hendak ia duduki ditarik teman-temannya saat bercanda.

Sejak kejadian itu, banyak sekali orang yang mengetuk pintu di malam hari, membawa cerita yang sama.

***

Setiap selesai mengajar, setelah kelas-kelas sepi, aku selalu menyisihkan waktu ke ruang kelas 6. Menulis nama Banyu di papan tulis, dan menyebutnya, agar ia bisa pulang sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Novel
Bronze
The Evil of The Black Rose
Trinaya
Flash
Di Barisan Belakang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Lonceng Berdentang
Christian Shonda Benyamin
Novel
Kereta Terakhir
Novita Ledo
Cerpen
Bronze
Aroma Kopi Di Bangunan Tua
Christian Shonda Benyamin
Novel
RUMAH SEBELAH
Dezzi Echi
Novel
Lentera Tengah Malam
PUTRI AYU ARNINGTYAS
Flash
Malam Jum'at
Arlindya Sari
Cerpen
Bronze
Pena Tanpa Akhir
Nyaa ko
Cerpen
Bronze
Sahabat Ku Maafkan Aku
Christian Shonda Benyamin
Novel
Gold
Fantasteen Double R
Mizan Publishing
Novel
Desa Misterius di Pedalaman Kalimantan
Achmad Benbela
Cerpen
Bronze
Bunker Jepang
Christian Shonda Benyamin
Novel
KELANA
Lovaerina
Novel
Gold
Fantasteen Ghost Dormitory in Den Haag
Mizan Publishing
Rekomendasi
Flash
Di Barisan Belakang
Jasma Ryadi
Flash
Jangan Menimpali!
Jasma Ryadi
Flash
Rumah Tanpa Isinya
Jasma Ryadi
Flash
Ikan adalah Luka
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Andai Ayah Tak Begitu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Setan-Setan dalam Rumah
Jasma Ryadi
Flash
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Giant's Heart
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Simetris
Jasma Ryadi
Flash
Mereka Bilang Aku Setan
Jasma Ryadi
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Novel
Mereka di Sini
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mana Paket Saya?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kembalinya Sang Penari
Jasma Ryadi