Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Teman Kamar Baru
3
Suka
9,098
Dibaca

Alya pulang larut malam lagi. Semua penghuni kos sudah tidur seperti biasa, apalagi hujan mengguyur sejak siang belum berhenti.

Ia membuka pintu kulkas untuk mengambil coke dingin. Seperti kebiasaannya, ia menempelkan sticky note kecil berwarna kuning.

“Untuk siapa pun yang makan pudingku lagi, semoga hidupmu tetap manis walau mencuri.”

Ia tersenyum sendiri. Candaan kecil itu menjadi caranya bertahan dari hari-hari yang terasa kosong.

Tak pernah ada yang membalas. Penghuni kos terlalu sibuk dengan dunia masing-masing.

Namun keesokan paginya, Alya membeku.

Tepat di bawah pesan itu, menempel sticky note biru.

“Pudingmu enak. Maaf. Aku butuh manisannya malam itu.” —Kamar Baru

Jantung Alya berdebar.

Ada penghuni baru? Sejak kapan?

Kos itu memang kedatangan satu penyewa baru minggu ini. Tapi kamar itu selalu tertutup. Tak pernah terdengar suara. Tak pernah terlihat bayangan.

Malam itu, Alya membalas:

“Kalau mau, minta saja. Tapi kalau mencuri lagi, aku pukul pakai sendok puding.”

Esok paginya:

“Deal. Tapi sendok pudingmu kelihatan sadis.”

Alya tertawa kecil.

Entah sejak kapan, dapur kos terasa menjadi ruang paling hangat.

***

Hari-hari berikutnya, mereka mulai saling bercakap lewat sticky note. Tentang kopi pahit, tentang hujan yang tak pernah adil, tentang tetangga kos yang bernyanyi sumbang saat mandi.

Suatu malam Alya menulis:

“Hari ini aku capek jadi manusia.”

Balasannya sudah ada saat pagi:

“Kalau kau mau, aku bisa membuatkan teh hangat. Aku tak bisa menyelamatkan hidupmu, tapi setidaknya teh buatanku bisa menghangatkan hatimu.”

Sticky note itu terasa menyentuh, dan ia simpan di buku hariannya.

***

Sejak itu, Alya selalu menunggu. Tapi juga diliputi penasaran, makanya hari ini ia mencoba menanyakan sesuatu yang lebih pribadi.

“Apa pekerjaanmu?”

“Sementara ini, bertahan agar pikiranku tetap waras.”

“Yang serius.”

“Animator freelance. Aku menggambar agar tak tenggelam.”

Keduanya saling berbalas.

Suatu malam Alya menantang:

“Kalau kau animator, gambar aku.”

Balasannya muncul mengejutkan:

“Sudah.”

Tak ada gambar.

Hanya satu kata itu.

"Maksudmu?"

Tak ada balasan, tapi sejak saat itu, sticky note itu makin jarang tertempel di kulkas kosan. Alya gelisah untuk pertama kalinya.

***

Suatu malam ia memergoki sosok laki-laki di dapur. Cahaya kulkas membelah siluet wajah setengahnya. Ia terkejut. Sosok itu menutup pintu kulkas cepat-cepat dan menghilang ke lorong.

Esoknya, di kulkas tertempel sticky note:

“Maaf, semalam. Bukan waktu yang tepat.”

Empat hari kemudian:

“Ketika aku yakin kau tak akan membenciku.”

"Aku tak mencintai wajahmu. Aku mencintai caramu bertahan.”

Balasan datang cepat:

“Jangan buat aku berharap.”

***

Hujan turun deras malam itu. Listrik padam. Satu-satunya cahaya berasal dari kamar penghuni baru. Alya mengetuk pintu pelan.

Tak ada jawaban.

Ketika pintu terbuka sedikit, ia melihat laki-laki itu menunduk di meja gambar.

“Aku Alya,” katanya.

“Aku tahu.”

“Namamu?”

“Revan.”

Ia memperlihatkan luka memanjang dari pipi ke rahang. Namun bukan luka itu yang mengejutkan Alya melainkan ketakutan di matanya.

“Orang bilang wajahku menakutkan.”

Alya menggeleng.

“Aku justru takut jika kau berhenti menulis untukku.”

Revan tertawa lirih.

***

Esok paginya, satu sticky note menunggu:

“Terima kasih sudah menemani bagian diriku yang ingin hidup.”

Alya menggigil.

Pintu kamar Revan terbuka. Kosong. Hanya tersisa satu gambar dirinya, dan di belakangnya, bayangan laki-laki yang berdiri jauh.

Revan menghilang.

***

Setahun kemudian, Alya melihat pameran bertajuk Wajah yang Tak Terlihat.

Di salah satu sudut, tergantung satu lukisan.

Dirinya.

Di bawahnya tertulis:

Revan Pratama (1999–2024)

Keterangan kecil di bawahnya membuat lutut Alya lemas:

“Revan meninggal tiga hari sebelum pameran ini dibuka. Seluruh karyanya dibuat dari kamar kos yang tak pernah ia tinggalkan.”

Alya menatap tanggal di bawahnya. Tanggalnya sama persis dengan hari ketika Revan pertama kali membalas sticky note-nya.

Tenggorokannya tercekat.

Ia akhirnya mengerti. Sejak awal, ia berbincang dengan seseorang yang mencoba bertahan agar tetap hidup.

Seseorang yang "penasaran", karena sedang berpamitan pada dunia.

***

Malam itu, Alya menempelkan satu sticky note di cermin kamarnya:

“Terima kasih sudah memilih hidup, walau hanya sebentar.”

Tak ada balasan.

Memang!

Dan untuk pertama kalinya, Alya tahu, bukan karena Revan tak mau membalas, melainkan karena ia sudah benar-benar pergi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Dialah Kamu
An-nisa Putri Errohman
Novel
Jika Mentari Tak Kembali
Ananda Galih Katresna
Skrip Film
Kecil Kecil Cabe Rawit
Herman Siem
Flash
50 RIYAL
DENI WIJAYA
Flash
Teman Kamar Baru
Hans Wysiwyg
Novel
Gold
Arah Musim
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Kutitipkan Wajahmu Pada Bulan
Imajinasiku
Flash
Bronze
Asisten Paling Paten
Afri Meldam
Cerpen
Bronze
Ibu
Eko Hartono
Novel
EVERY SECOND
Nisa Jihad
Flash
Bronze
Laki-laki juga boleh menangis, Nara. . . .
AlifatulM
Flash
Jurus Pemikat Pedagang Sepatu
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Meminta sepuluh menit berharga dalam hidup Anda
Rifatia
Cerpen
Bronze
Wine Wine Solution
Risman Senjaya
Novel
The Wounded Soul
Risa Chamdiah
Rekomendasi
Flash
Teman Kamar Baru
Hans Wysiwyg
Flash
Mimpi Teduh
Hans Wysiwyg
Flash
Laut Itu Luka
Hans Wysiwyg
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Flash
Laras
Hans Wysiwyg
Cerpen
Harmonika Déjà vu
Hans Wysiwyg
Flash
Cheese Lovers
Hans Wysiwyg
Flash
Remember Us This Way
Hans Wysiwyg
Cerpen
MESIN WAKTU
Hans Wysiwyg
Flash
Cerita Baper
Hans Wysiwyg
Flash
PARMIN DAN BURUNG MAJIKAN
Hans Wysiwyg
Novel
TEDUH DALAM BARA
Hans Wysiwyg
Flash
Rumah yang Berbicara
Hans Wysiwyg
Cerpen
SYURGA YANG DILELANG
Hans Wysiwyg
Cerpen
Mencari Cinta Di Kelab Malam
Hans Wysiwyg