Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Mulas
6
Suka
1,929
Dibaca

"Arham! Temani yuk," pintaku sambil memegangi perut. Rasanya mules sampai ke ubun-ubun.

"Kemana?" tanya Arham, polos.

"Toilet! Ayo cepat!" Aku langsung menarik lengannya.

Kami berlari keluar kelas. Guru sedang pergi, jadi kelas sedang bebas. Kami menuju WC belakang sekolah yang… yah, kondisinya bahkan setan saja pasti mikir dua kali buat nongol di situ.

Bak WC cuma terbuat dari belahan drum oli yang sudah karatan. Pembatasnya kayu tipis yang kalau ditiup angin kencang mungkin ikut roboh. Gelap pula. Anak-anak di sekolah bilang WC itu angker: dari cerita tangan buntung sampai kepala buntung, pokoknya yang buntung-buntung ada di sini. Aku sih nggak takut—yang kutakuti cuma satu: mulesku tumpah sebelum waktunya.

Masalahnya, saat kami sampai, bak WC kosong melompong. Kering. Sial! Cobaan macam apa ini oh Tuhan??

Akhirnya kami harus menimba air dari sumur depan WC. Sumur yang katanya pernah memakan korban. Dan melihat kondisinya… iya sih, masuk akal. Licin, tanpa pembatas, dan sepertinya kedalamannya bisa mencapai dunia lain.

Arham mengambil ember yang diikat tambang. Aku berdiri sambil menahan mules yang sudah berada di fase "final boss".

Arham melemparkan ember ke dalam sumur. Gagal.

Dicoba lagi. Gagal.

Dicoba lagi. Tetap gagal.

"Arham, kamu ini… pernah menimba air nggak sih?" wajahku sudah pucat, bukan karena hantu, tapi karena isi perutku ingin segera kumerdekakan.

"Kita cari sungai aja!" Aku langsung lari seperti atlet, Arham mengekor di belakang.

"Di mana sungainya?" tanyaku sambil berjinjit-jinjit.

"Kayaknya… di sana," jawab Arham ragu.

"Kenapa nggak dari tadi sih!"

"Kupikir kamu lebih tau—"

"Udah, jalan!"

Kami berjalan cepat. Aku masih sempat mengambil batu kecil buat kusembunyikan di saku—kata orang tua, buat nahan mules. Entah ilmu dari mana itu, tapi aku pasrah, siapa tahu cara ini ampuh.

"Masih jauh nggak?!" bentakku. Suaraku setengah marah, setengah sekarat.

"Dikit lagi!"

Tapi tubuhku sudah menyerah. Keringat dingin mengalir. Kakiku gemetar. Dunia terasa berputar-putar seperti kipas angin rusak.

Dan akhirnya…

BROOOTTT!

Arham langsung berhenti. Matanya membesar seperti ikan gurame.

"Suara apa itu?"

Aku menunduk. Rasanya aku ingin hijrah ke planet lain.

"E… anu," jawabku lirih.

"Kamu… berak di celana?"

Aku menutup wajah. "Arham… biarkan aku jelaskan di sungai nanti."

Arham cuma menatapku lama, tertegun dan terheran-heran.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Mulas
Rifin Raditya
Flash
Truth or Dare
Noer Eka
Cerpen
Pak Tua Penunjuk Jalan
zain zuha
Cerpen
Steak Medium Rare Rasa Ban Dalam
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Dravoryans: Kota Goblin, Monumen Es, dan Ranjau yang Dilupakan
Darian Reve
Flash
Penghuni Baru
Afri Meldam
Flash
Sebelum Dipanggil
hyu
Komik
KAOS HITAM
moris avisena
Flash
Bronze
Sang Penulis
Rere Valencia
Flash
Bronze
Si Penulis Kwikku
Rere Valencia
Flash
Suara Hati Pohon Kampus
Vivinanavina
Flash
Bronze
Sosok Menyeramkan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Nazilla Core: Logika Anak vs Emosi Emak
Desy Cichika
Flash
Bronze
Midnight Market Kolong Jembatan
Silvarani
Flash
Bronze
Generasi Keempat Tukang Sapu Rumah Sakit Jiwa
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Mulas
Rifin Raditya
Novel
Mengejar Dosa
Rifin Raditya
Flash
Goodbye Goodbye
Rifin Raditya
Flash
25 12
Rifin Raditya
Cerpen
Tak Sampai ke Long Jenew
Rifin Raditya
Cerpen
Gua Aspas dan Tiga Bersaudara
Rifin Raditya
Novel
Gadis Menangis Mewariskan Luka
Rifin Raditya