Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Mulas
6
Suka
896
Dibaca

"Arham! Temani yuk," pintaku sambil memegangi perut. Rasanya mules sampai ke ubun-ubun.

"Kemana?" tanya Arham, polos.

"Toilet! Ayo cepat!" Aku langsung menarik lengannya.

Kami berlari keluar kelas. Guru sedang pergi, jadi kelas sedang bebas. Kami menuju WC belakang sekolah yang… yah, kondisinya bahkan setan saja pasti mikir dua kali buat nongol di situ.

Bak WC cuma terbuat dari belahan drum oli yang sudah karatan. Pembatasnya kayu tipis yang kalau ditiup angin kencang mungkin ikut roboh. Gelap pula. Anak-anak di sekolah bilang WC itu angker: dari cerita tangan buntung sampai kepala buntung, pokoknya yang buntung-buntung ada di sini. Aku sih nggak takut—yang kutakuti cuma satu: mulesku tumpah sebelum waktunya.

Masalahnya, saat kami sampai, bak WC kosong melompong. Kering. Sial! Cobaan macam apa ini oh Tuhan??

Akhirnya kami harus menimba air dari sumur depan WC. Sumur yang katanya pernah memakan korban. Dan melihat kondisinya… iya sih, masuk akal. Licin, tanpa pembatas, dan sepertinya kedalamannya bisa mencapai dunia lain.

Arham mengambil ember yang diikat tambang. Aku berdiri sambil menahan mules yang sudah berada di fase "final boss".

Arham melemparkan ember ke dalam sumur. Gagal.

Dicoba lagi. Gagal.

Dicoba lagi. Tetap gagal.

"Arham, kamu ini… pernah menimba air nggak sih?" wajahku sudah pucat, bukan karena hantu, tapi karena isi perutku ingin segera kumerdekakan.

"Kita cari sungai aja!" Aku langsung lari seperti atlet, Arham mengekor di belakang.

"Di mana sungainya?" tanyaku sambil berjinjit-jinjit.

"Kayaknya… di sana," jawab Arham ragu.

"Kenapa nggak dari tadi sih!"

"Kupikir kamu lebih tau—"

"Udah, jalan!"

Kami berjalan cepat. Aku masih sempat mengambil batu kecil buat kusembunyikan di saku—kata orang tua, buat nahan mules. Entah ilmu dari mana itu, tapi aku pasrah, siapa tahu cara ini ampuh.

"Masih jauh nggak?!" bentakku. Suaraku setengah marah, setengah sekarat.

"Dikit lagi!"

Tapi tubuhku sudah menyerah. Keringat dingin mengalir. Kakiku gemetar. Dunia terasa berputar-putar seperti kipas angin rusak.

Dan akhirnya…

BROOOTTT!

Arham langsung berhenti. Matanya membesar seperti ikan gurame.

"Suara apa itu?"

Aku menunduk. Rasanya aku ingin hijrah ke planet lain.

"E… anu," jawabku lirih.

"Kamu… berak di celana?"

Aku menutup wajah. "Arham… biarkan aku jelaskan di sungai nanti."

Arham cuma menatapku lama, tertegun dan terheran-heran.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Mulas
Rifin Raditya
Flash
Rafa Pergi ke Surga
Rafael Yanuar
Cerpen
Peringkat Palsu
Rie Yanti
Flash
Bronze
An-Je-Lo (Antar Jemput Lontong Sate)
Sunarti
Komik
Duta Keadilan Nasib
Nafi'ardhani Firmansyah
Flash
Karena Aku Bosan
Noer Eka
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Flash
Ilfeel
Delia Angela
Flash
Bronze
Serial Jono Depp
Onet Adithia Rizlan
Cerpen
Kasih Sayang Sang Ibu
WildanYS
Cerpen
Manifesto Seorang Pemancing Sungai Kecil
KusumaBagus Suseno
Flash
Ngidam
Innuri Sulamono
Flash
Bronze
Brandal yang tersakiti
penulis kacangan
Komik
Gold
KOMIK RETJEH
Kwikku Creator
Cerpen
Bronze
Tiga Hari Saja
Saifoel Hakim
Rekomendasi
Flash
Mulas
Rifin Raditya
Flash
25 12
Rifin Raditya
Cerpen
Tak Sampai ke Long Jenew
Rifin Raditya
Novel
Mengejar Dosa
Rifin Raditya
Flash
Goodbye Goodbye
Rifin Raditya
Cerpen
Gua Aspas dan Tiga Bersaudara
Rifin Raditya