Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Kepingan Malam
0
Suka
3,504
Dibaca

“Orang Kota.”

“Apa mengasuh anak dengan cara seperti itu biasa mereka lakukan?” Surayem–perempuan hampir satu abad memperhatikan.

Rahangnya naik turun mengunyah kapur sirih,  Chika dan Rima dua meter darinya terus bernyanyi, mengikuti gerakan dari layar sebesar buku. 

Surayem tidak mengerti benda itu. Mirip televisi setipis asbes. Surayem melirik lemari jati di sisi kiri, tempat televisi usang miliknya diletakkan.

Saat menonton televisi, Surayem ditemani gagang sapu. Selain untuk menopang tubuhnya saat berjalan, gagang sapu itu biasa ia gunakan untuk memukul-mukul televisi agar menyala. 

Hujan-hujan pergilah, datanglah lain hari.”

“Chika ingin bermain, hujan..hujan…pergilah!”

Surayem naik pitam. Benda itu bukan hanya membuat cucu dan cicitnya terasa jauh, mereka bahkan berani mengumpat hujan. Sungguh lagu yang mengaburkan aqidah. 

“Hujan adalah rahmat, apa orang-orang kota itu tidak belajar?” Surayem mendengus kesal. Beranjak dari amben bambu.

Titenono!” Surayem pergi dengan gagang sapu.

Gerak lincah, dan suara melengking Chika padam bersama tegangan listrik yang tidak lagi bekerja. 

“Bunda, Chika takut!” Chika menghambur tubuh Rima–ibunya. Malam di desa kaki gunung itu semakin pekat.

Surayem tersenyum, layar tipis itu tergeletak seperti televisi usangnya. Chika tidak lagi asyik dengan lagu dan tarian aneh. Gadis kecil berponi itu mulai bercerita tentang hari-harinya di kota. 

Hal paling menyenangkan bagi seorang nenek buyut adalah menyaksikan anak–cucu–cicitnya tumbuh. Seperti benih-benih padi gogo rancah yang dulu sering Surayem semai.

Temaram lampu sentir menyatukan generasi lintas usia. Gelagak tawa seakan memenuhi sungai-sungai rindu yang mengering di hati Surayem. Sebelum dirinya genap menjadi kepingan malam yang abadi, esok, atau lusa.

Diantara jeda-jeda tawa, terbesit penyesalan dalam hati Surayem, harusnya sejak tiga hari lalu dia memukul tuas kecil di sekring listrik dengan gagang sapu miliknya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Novel
The Elder: Perang Lima Tahun
Manu de Hart
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
Blasfemi
Dinda Kusuma Ati
Novel
The miracle in Anfield
Raphael Juan Arga Butarbutar
Novel
LEGION : UNKNOWN KNIGHT
Delta
Novel
Hilang: dalam Mega Mendung
Ikhsannu Hakim
Cerpen
BADRI BERHANTU Pabrik Padi Syereem!
Hans Wysiwyg
Novel
Suara Dari Tribun
Setia S Putra
Skrip Film
The Strength Of Life
Dian Febriyanti
Novel
The Silent Librarian
Muhammad Amin Hambali
Novel
Tasna Srikandi Betawi
Siti Mulia Al-Mufarrid
Skrip Film
Cinta yang Keparat
Yudhi Herwibowo
Flash
Pengakuan
Dinda Kusuma Ati
Novel
Gantari Purnama
Mutiara Dinanti Pratiwi
Rekomendasi
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Legasi Emak
Binar Bestari
Flash
Bronze
10 Years : 10 Minutes
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Bronze
Sketsa Wajah Halwa
Binar Bestari
Flash
Kembalinya Theresia
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Cinta dan Pelepah Kurma
Binar Bestari
Flash
Cahaya Di Atas Perahu
Binar Bestari