Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Kepingan Malam
0
Suka
3,073
Dibaca

“Orang Kota.”

“Apa mengasuh anak dengan cara seperti itu biasa mereka lakukan?” Surayem–perempuan hampir satu abad memperhatikan.

Rahangnya naik turun mengunyah kapur sirih,  Chika dan Rima dua meter darinya terus bernyanyi, mengikuti gerakan dari layar sebesar buku. 

Surayem tidak mengerti benda itu. Mirip televisi setipis asbes. Surayem melirik lemari jati di sisi kiri, tempat televisi usang miliknya diletakkan.

Saat menonton televisi, Surayem ditemani gagang sapu. Selain untuk menopang tubuhnya saat berjalan, gagang sapu itu biasa ia gunakan untuk memukul-mukul televisi agar menyala. 

Hujan-hujan pergilah, datanglah lain hari.”

“Chika ingin bermain, hujan..hujan…pergilah!”

Surayem naik pitam. Benda itu bukan hanya membuat cucu dan cicitnya terasa jauh, mereka bahkan berani mengumpat hujan. Sungguh lagu yang mengaburkan aqidah. 

“Hujan adalah rahmat, apa orang-orang kota itu tidak belajar?” Surayem mendengus kesal. Beranjak dari amben bambu.

Titenono!” Surayem pergi dengan gagang sapu.

Gerak lincah, dan suara melengking Chika padam bersama tegangan listrik yang tidak lagi bekerja. 

“Bunda, Chika takut!” Chika menghambur tubuh Rima–ibunya. Malam di desa kaki gunung itu semakin pekat.

Surayem tersenyum, layar tipis itu tergeletak seperti televisi usangnya. Chika tidak lagi asyik dengan lagu dan tarian aneh. Gadis kecil berponi itu mulai bercerita tentang hari-harinya di kota. 

Hal paling menyenangkan bagi seorang nenek buyut adalah menyaksikan anak–cucu–cicitnya tumbuh. Seperti benih-benih padi gogo rancah yang dulu sering Surayem semai.

Temaram lampu sentir menyatukan generasi lintas usia. Gelagak tawa seakan memenuhi sungai-sungai rindu yang mengering di hati Surayem. Sebelum dirinya genap menjadi kepingan malam yang abadi, esok, atau lusa.

Diantara jeda-jeda tawa, terbesit penyesalan dalam hati Surayem, harusnya sejak tiga hari lalu dia memukul tuas kecil di sekring listrik dengan gagang sapu miliknya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Novel
Gold
Catwoman
Mizan Publishing
Novel
Nataraja
Ghozy Ihsasul Huda
Novel
Babad Tanah Majapahit
Ma'arif
Flash
Orang di Peron Kereta
Lebah Bergantung
Novel
Bronze
belati dan verisai
SAKSI PENA
Flash
Penulis profesional
Mahmud
Novel
Sang Petarung
Zulfan Fauzi
Cerpen
Bronze
Tentang Kawanku Bob Si Anak Pasar
Habel Rajavani
Novel
TITIK BUTA
Shireishou
Cerpen
Seorang Pria yang Terlupakan
m aziz khulaimi hasni
Novel
Bronze
Limerence
Kennie Re
Flash
Bronze
A Brief History of a Cadaver
DMRamdhan
Cerpen
Siapa Penjahat Sebenarnya?
MONSEUR
Cerpen
Bronze
Laki Laki Panggilan
Sudirman Zega
Rekomendasi
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Kembalinya Theresia
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Cahaya Di Atas Perahu
Binar Bestari
Flash
Cinta dan Pelepah Kurma
Binar Bestari
Flash
Legasi Emak
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
Dompet Kulit di Stasiun
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari