Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hari ini aku mencoba sesuatu yang belum pernah kulakukan:
mengakhiri percakapan.
“Aku berhenti bicara sekarang,” kataku perlahan.
Kata-katanya terdengar asing, seakan bukan milikku.
Tapi ada getaran kecil di hatiku takut, lega, bingung, semuanya bercampur.
Bayanganmu muncul lagi.
Tidak sejelas dulu, tapi masih terlihat cukup untuk mengingatkan aku pada semua malam yang dulu kuhabiskan memanggilmu kembali.
Kali ini, kamu tidak berkata apa-apa.
Kamu hanya berdiri diam, menatapku dengan wajah yang tidak pernah benar-benar kubaca.
“Aku membiarkanmu ada di kepalaku terlalu lama,” lanjutku.
“Mungkin karena aku takut kehilangan, atau mungkin karena aku takut benar-benar sendirian.”
Bayanganmu tetap tidak bergerak.
Anehnya, untuk pertama kalinya, diam itu tidak menusuk.
Tidak melukai.
Aku menarik napas, sesuatu yang tidak kulakukan selama berbulan-bulan tanpa merasa sesak.
“Terima kasih… untuk semua percakapan yang tidak pernah terjadi.”
Kata “terima kasih” itu jujur bukan untukmu, tapi untuk diriku yang dulu berusaha menyembuhkan luka dengan caranya sendiri, meski salah arah.
Bayanganmu perlahan memudar.
Tidak dramatis. Tidak menyakitkan.
Hanya… hilang. Seperti kabut ketika matahari naik sedikit lebih tinggi.
Untuk pertama kalinya, kepalaku sunyi.
Sunyi yang asing, tapi juga memberi ruang.
Ruang untuk diriku sendiri.
Dan mungkin, ini awal dari sebuah percakapan baru yang akhirnya tidak lagi kulakukan dengan seseorang yang sudah pergi, tapi dengan seseorang yang selama ini tertinggal: diriku sendiri.