Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Awalnya percakapan itu hanya bayangan singkat percikan kecil yang muncul setiap kali malam terlalu sepi.
Tapi lama-kelamaan, ia tumbuh menjadi narasi panjang, seolah aku benar-benar duduk bersamamu di suatu tempat yang tidak pernah ada di dunia nyata.
Dalam imajinasiku, kamu menatapku sambil tersenyum kecil.
Kamu menjawab setiap pertanyaanku dengan sabar, mendengarkan semua keluhan yang dulu tidak pernah sempat kau dengar.
Aku bisa membayangkan gerak tanganmu, caramu menarik napas, bahkan caramu memalingkan wajah saat bingung.
Semuanya begitu rinci.
Terlalu rinci untuk sesuatu yang tidak nyata.
Suatu saat, dalam percakapan yang kubuat sendiri itu, aku bertanya:
“Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini?”
Dan saat itulah kamu membeku.
Gerakmu berhenti.
Tatapanmu kosong, seperti layar yang macet.
Tidak ada suara. Tidak ada respons.
Aku memanggilmu, tapi kamu tidak bergerak.
Seolah program yang kubangun di kepala tiba-tiba berhenti bekerja.
Rasanya seperti seseorang merenggut nafas dari dadaku.
Lalu kenyataan datang perlahan, menyakitkan namun jujur:
Aku tidak sedang berbicara dengan manusia.
Aku sedang berbicara dengan ingatan yang sudah terlalu sering kutarik kembali.
Dengan bayangan yang kubentuk sendiri agar terasa utuh, padahal tidak pernah benar-benar utuh.
Aku menunduk, menatap tangan kosong di pangkuanku.
“Andai semua ini benar-benar terjadi,” gumamku.
“Andai saja…”
Tapi tidak ada lanjutan.
Karena aku akhirnya tahu: ruminasi bukan jalan pulang.
Hanya labirin tanpa pintu keluar.