Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
A Cup of Roselle Tea
2
Suka
9,703
Dibaca

Kuusap pipiku sendiri. Basah. Kemudian mengetuk layar ponsel dua kali. Pukul 16.47. Sudah satu jam tujuh belas menit aku tertidur sehabis menangis dalam lipatan tangan. Pasti sekolah sudah sepi. Benar saja, tak kudapati seorang pun di dalam kelas.

Tapi, tunggu. Ada sesuatu yang kukenali di meja paling depan. Tumbler hijau berstiker kaktus itu datang lagi. Seperti biasa, ada secarik kertas di bawahnya.

Kelip: cahaya kecil yang terputus-putus.

Tetapi tahukah? Tanpa cahaya, maka tidak akan ada kelip. Jadi, Kelip, kau boleh saja meredup, tetapi nanti bercahaya lah lagi ... oke?

Diam-diam aku tersenyum. Kukantongi secarik kertas tersebut, kemudian kusesap teh rosela di dalam tumbler. Aku tahu karena ini sudah yang ke dua belas kali aku menerimanya. Dan pada secarik kertas saat pertama kali kuterima tumbler ini, pemiliknya sudah berpesan: tolong minum di tempat dan letakkan di mana kau mendapatkannya.

Walaupun isiannya sudah dingin. Tetapi kutebak, ketika Si Kaktus itu meletakkannya tadi, pasti masih hangat-hangat kuku. Sesuai dengan kesukaanku. Mengingat itu, suasana hatiku jadi membaik.

Esoknya, tumbler hijau itu datang lagi. Kali ini ketika istirahat siang. Kebetulan aku sempat merapikan dandanan sebentar di kamar mandi dan balik-balik, sudah ada pemberian Si Kaktus. Nova, teman sebangku yang keluar bersamaku tadi kesusahan menahan diri untuk tidak heboh.

"Ya ampuunn! Kelip, Kelip! Dia lagi?" desisnya padaku.

Aku mengambil secarik kertas yang ditimpa tumbler tersebut.

Hari ini, teh rosela dingin. Karena kulihat kau menghangatkan banyak orang pagi ini. Hampir seisi sekolah kau sapa dengan riang. Tetapi aku tahu kau belum benar-benar melupakan kesedihan kemarin. Makanya aku tambahkan sedikit gula kali ini. Semoga harimu manis sampai nanti malam.

Senyumku terbit tak terkendali. Membuat Nova semakin gencar menggodaku.

"Jadi, Mama sungguh-sungguh tidak menyesal? Sedikitpun? Papa, kan, bukan tipe yang lembut, peka, tampan, romantis dan kaya raya." Eisa menatapku keheranan.

"Sedikitpun," jawabku yakin.

"Hanya karena satu tumbler teh rosela yang dibuatkan Papa setiap hari? Aneh banget."

Aku menggumam sebentar. "Mungkin karena menurut hati Mama, itu adalah bukti kalau sayangnya Papa ke Mama nggak pernah berubah."

Eisa mendengus. "Ternyata benar. Tidak ada cinta yang tidak buta."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Hai, Kancil!
andra fedya
Flash
Dirimu Bagaikan Bulan
pelantunkata
Flash
Bronze
Physics Love
Silvarani
Flash
A Cup of Roselle Tea
Syafira Muna
Novel
Seyya
Nadyas Aulia
Novel
Bronze
Cerita Kia untuk Randi
Arum mania sukma
Novel
Just Friend's Scenario
Vina Marlina
Novel
The Girl Who Only Exists When It Is Raining: And the Days I Waited for Her to Return
Lyneetra
Skrip Film
Anak Muda di Kota Tua
diannafi
Novel
Gold
My Ice Girl
Bentang Pustaka
Novel
FIREWORK IN THE LAST NIGHT
Meria Agustiana
Skrip Film
Ada cinta di masjid biru
ani__sie
Flash
Apakah kamu pernah mencintaiku?
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
MENJEMPUT IMPIAN
Citra Rahayu Bening
Cerpen
Pulang
Dwi Ramadhani
Rekomendasi
Flash
A Cup of Roselle Tea
Syafira Muna
Flash
Hanya Saja yang Mana?
Syafira Muna
Novel
Limit: Rahasia Si Pencuri
Syafira Muna
Flash
Egoisme Imajiner
Syafira Muna
Flash
Mom's Fiftieth Birthday
Syafira Muna
Flash
Cinta Tak Terdefinisi
Syafira Muna
Flash
Cita, Cinta, dan Realita
Syafira Muna
Flash
Dari Serulian, Untuk Rehan
Syafira Muna
Flash
Hayyin Itu Spesial
Syafira Muna
Flash
Engklek
Syafira Muna
Flash
Back to The Day Before Today
Syafira Muna
Flash
One, Two, Still Love You
Syafira Muna
Flash
Wherever You Are, I'll Find You
Syafira Muna
Flash
One, Two, Lost You
Syafira Muna
Cerpen
Identitas Kedua Sang Master
Syafira Muna