Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Aroma pagi dan kopi
1
Suka
5,090
Dibaca

Mentari pagi menyelinap malu-malu di antara celah tirai kamarku, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di dinding. Aku menggeliat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa mimpi yang masih berputar di kepala. Aroma kopi yang menggoda perlahan menyeruak, memaksaku untuk bangkit dari peraduan.

Di dapur, mesin kopi kesayanganku berdengung pelan, mengeluarkan cairan hitam pekat yang begitu memikat. Aku menuangkannya ke dalam mug favoritku, mug keramik bergambar bunga matahari yang selalu mengingatkanku pada senyummu. Ya, senyummu yang selalu berhasil membuat hariku terasa lebih cerah.

Sambil menyesap kopi hangat, aku berjalan menuju jendela. Pemandangan kota yang mulai menggeliat di pagi hari tersaji di hadapanku. Orang-orang bergegas menuju aktivitas masing-masing, kendaraan lalu lalang membelah jalanan. Aku terdiam, menikmati kesunyian sebelum hiruk pikuk hari dimulai.

Kopi ini mengingatkanku pada banyak hal. Pada malam-malam panjang saat aku begadang mengerjakan tugas kuliah, pada obrolan hangat bersama teman-teman di kafe, dan tentu saja, padamu. Kamu yang selalu hadir dalam setiap momen penting dalam hidupku.

Aku ingat pertama kali kita bertemu. Di sebuah kedai kopi kecil yang terletak di sudut kota. Aku sedang sibuk membaca buku, sementara kamu sedang asyik menggambar di buku sketsamu. Mata kita bertemu secara tidak sengaja, dan entah mengapa, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

Sejak saat itu, kita menjadi dekat. Kita sering menghabiskan waktu bersama di kedai kopi itu, berbagi cerita, tawa, dan mimpi. Aku selalu terpesona dengan caramu memandang dunia, dengan semangatmu yang tak pernah padam, dan dengan hatimu yang begitu tulus.

Kamu adalah orang yang selalu ada untukku, dalam suka maupun duka. Kamu mendengarkan keluh kesahku tanpa menghakimi, memberikan dukungan tanpa pamrih, dan membuatku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia.

Namun, ada satu hal yang belum pernah aku ungkapkan padamu. Sebuah rahasia yang telah lama kupendam di dalam hati. Aku mencintaimu. Ya, aku mencintaimu lebih dari sekadar teman.

Aku tahu, mungkin ini terdengar klise. Tapi, aku tidak bisa memungkiri perasaanku lagi. Setiap kali aku melihatmu, jantungku berdebar kencang. Setiap kali aku mendengar suaramu, aku merasa tenang. Dan setiap kali aku berada di dekatmu, aku merasa bahagia.

Aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi, aku takut. Takut jika kamu tidak merasakan hal yang sama. Takut jika pengakuan ini akan merusak persahabatan kita. Aku tidak ingin kehilanganmu.

Sambil terus menyesap kopi, aku merenung. Apakah aku harus mengungkapkan perasaanku? Atau haruskah aku terus memendamnya? Aku bimbang.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Sebuah pesan masuk dari kamu.

"Selamat pagi! Hari ini aku ada pameran lukisan di galeri kota. Datang ya? Aku ingin kamu menjadi orang pertama yang melihat karya-karyaku."

Hatiku berdebar. Ini adalah kesempatan yang bagus. Aku bisa bertemu denganmu, dan mungkin, aku bisa memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku.

Aku membalas pesanmu dengan senyuman. "Tentu saja! Aku akan datang. Sampai jumpa di sana!"

Setelah menghabiskan kopiku, aku bergegas bersiap-siap. Aku memilih pakaian terbaikku, menyisir rambutku dengan rapi, dan menyemprotkan parfum favoritku. Aku ingin terlihat sempurna di hadapanmu.

Sesampainya di galeri, aku langsung mencari sosokmu. Dan di sana, di antara lukisan-lukisan indahmu, aku melihatmu. Kamu terlihat begitu cantik dengan gaun putihmu, rambutmu yang tergerai indah, dan senyummu yang mempesona.

Aku menghampirimu dengan gugup. "Hai," sapaku.

"Hai! Aku senang kamu datang," balasmu dengan senyum lebar.

Kita berbincang-bincang tentang pameranmu, tentang lukisan-lukisanmu, dan tentang banyak hal lainnya. Aku mencoba mencari celah untuk mengungkapkan perasaanku, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.

Hingga akhirnya, saat pameran akan segera berakhir, aku memberanikan diri.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ucapku dengan gugup.

Kamu menatapku dengan tatapan penuh tanya. "Ada apa?"

Aku menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku mencintaimu."

Kamu terdiam. Ekspresi wajahmu sulit ditebak. Aku merasa jantungku berhenti berdetak.

"Aku tahu ini mungkin mengejutkanmu. Tapi, aku sudah lama memendam perasaan ini. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri lagi," lanjutku.

Kamu masih terdiam. Aku mulai merasa putus asa. Apakah aku telah melakukan kesalahan?

Tiba-tiba, kamu tersenyum. Senyum yang begitu indah, hingga membuatku terpana.

"Aku juga mencintaimu," ucapmu pelan.

Aku terkejut. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

"Benarkah?" tanyaku dengan nada tak percaya.

Kamu mengangguk. "Aku juga sudah lama memendam perasaan ini. Aku takut untuk mengungkapkannya, karena aku tidak ingin merusak persahabatan kita."

Aku merasa lega. Akhirnya, perasaanku terbalas. Aku tidak bisa menahan kebahagiaanku. Aku langsung memelukmu erat.

"Aku senang kamu merasakan hal yang sama," bisikku di telingamu.

Kamu membalas pelukanku dengan erat. "Aku juga senang."

Sejak saat itu, kita menjadi sepasang kekasih. Kita menghabiskan waktu bersama lebih sering dari sebelumnya. Kita saling mencintai, saling mendukung, dan saling membahagiakan.

Kopi tetap menjadi bagian dari hidup kita. Setiap pagi, kita selalu minum kopi bersama sambil menikmati mentari pagi. Kopi menjadi saksi bisu cinta kita.

Dan aku, si pengagum rahasiamu, akhirnya bisa mengungkapkan perasaanku. Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia.

Terima kasih kopi, karena telah menjadi penghubung antara aku dan kamu. Terima kasih kamu, karena telah hadir dalam hidupku. Aku mencintaimu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Aroma pagi dan kopi
Lukitokarya
Flash
Introvert, ekstrovert, dan ambivert
Nimilsy Butterfly
Skrip Film
Titik Gelap
Amir Kusuma Wardhana
Flash
Kereta Terakhir Jalur Selatan
Penulis N
Flash
Bronze
Virus
Afri Meldam
Flash
Play Game
Fitri Handayani Siregar
Cerpen
PROJECT V
Permadi Adi Bakhtiar
Cerpen
Bronze
Hunian
Utia Nur Hafidza Rizkya Ramadhani
Skrip Film
Para Joki (Skrip)
Farida Zulkaidah Pane
Novel
Sang Petarung
Zulfan Fauzi
Novel
THE YOUTH CRIME
Dwi Budiase
Flash
"Hujan di Tengah Musim Panas"
TATAN RUSNANTO
Flash
Bronze
Yang Hilang Tak Kembali
Emma Kulzum
Flash
Perempuan Evolusi
Art Fadilah
Flash
Bronze
Pisau Dapur
Diba Tesi Zalziyati
Rekomendasi
Flash
Aroma pagi dan kopi
Lukitokarya
Flash
Gema Piano di Rumah Tua
Lukitokarya
Flash
Surat dari masa lalu
Lukitokarya
Flash
Secangkir coklat di musim dingin
Lukitokarya
Flash
Cubitan Manja Sang Primadona
Lukitokarya
Flash
senandung rindu di balik panggung
Lukitokarya
Flash
Rahasia Ombak Kenjeran
Lukitokarya
Flash
Jejak Pelangi di Langit Hati
Lukitokarya
Flash
Di Balik Jaket Hijau
Lukitokarya
Flash
Hati mu di layar
Lukitokarya
Flash
Kisah di Balik Kedai Kopi Usang
Lukitokarya
Flash
Peta Usang dan Harta Karun di Pulau Terlupakan
Lukitokarya
Cerpen
KACA BOLONG DI ATAS MEJA
Lukitokarya
Flash
Surat di Dalam Botol Biru
Lukitokarya
Flash
Melodi yang Hilang di Kota Tua
Lukitokarya