Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Labirin Luka
1
Suka
13,622
Dibaca

“Untuk apa?” Aku menghirup dingin.

Hujan deras, mendorongku menyelami sebuah labirin luka. Bertahun-tahun, aku belajar hidup tanpa nama pria bermata coklat. Di bawah garis takdir, hari ini kami bertemu. 

Aku memalingkan wajah, tidak ingin mengenang sesuatu yang berhasil terkubur. Bergegas menuju mobil, gedung penuh aksen etnik ini seketika tidak lagi menarik.

Aku bermanuver cepat, mengoper gigi, menginjak gas, melepas kopling, memutar stir. Hujan membuat jarak pandang memendek, terpaksa setengah kaca pintu mobil kubiarkan terbuka. Damaz masih menatap dari sana. Aku tahu.

“Yah, biar dia tahu. Lu udah sukses!” Anggun mengekori gedung tadi dengan matanya.

Aku menghirup dingin lagi. Aku yakin nama keramat itu telah benar-benar terhapus. Seperti lengas kemarau tersapu hujan. Bersih, tak bersisa.

“Memori gue isinya cuma nama Cakra.” Aku berkata lembut, memamerkan jari manis.

“Ah, lu mah. Tega.., gue kan masih single.” Anggun melirik cincin pernikahanku.

“Tapi, boleh kan. Kalau gue ngerasa puas?” Anggun merentangkan tangan, hampir mata kiriku menjadi korban kuku palsunya.

“Damaz yang cuma jadi… “tukang” pasang kanopi panggilan.” Anggun mengipas tangan ke wajah.

“Nggun, ...”

Aku malas menyebut namanya. “... sama kayak bapak-bapak di luar sana.” 

Aku menunjuk arah kanan. Beberapa petugas mengenakan rompi hijau stabilo, mengeksekusi sebuah pohon besar yang tumbang. Di bawah derasnya hujan, tanpa ragu.

“Selama halal, semua pekerjaan itu mulia. Mereka berjuang, demi keluarga kecilnya.” Aku tersenyum, mengusap stir.

Anggun mengangguk, “Ya sih, lu bener juga, Ken.” Anggun menggaruk pelipis.

“Daripada dia nyuri, ngebegal, atau jualan narkoba kan ya?”

“Betul.” Lesung pipi di wajahku terbentuk. 

Lima tahun lalu, laki-laki itu dengan jabatan sebagai HRD Plaza Biru memutuskan pertunangannya denganku. Dia Menikahi perempuan lain di kantornya. Anggun benar, aku juga puas melihat Damaz kini terpuruk.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
IDENTITAS
Gusty Ayu Puspagathy
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Novel
Paviliun Ibu Mertua
Salsabilla Kim
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Bronze
Sentrifugal dan Sentripetal Keimanan
Silvarani
Novel
Bronze
Keluarga Sederhana
Dwiky Meidian
Flash
SIPIR
Riska Irmayadi
Flash
Bronze
Pekerjaan Rumah Dua Puluh Tahun Lalu
verlit ivana
Novel
Omaku Sayang, Omaku Malang
Fii
Novel
Diary untuk Arland
Rika Kurnia
Flash
APPLY PURPLE LIPSTIK ON MY LIP
Riska Irmayadi
Flash
Bronze
Untuk Sendiri
B12
Flash
Malam Tanpa Tidur
Febby Arshani
Rekomendasi
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Dompet Kulit di Stasiun
Binar Bestari
Flash
Cinta dan Pelepah Kurma
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Bronze
Sketsa Wajah Halwa
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
Legasi Emak
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Elegi Sunyi
Binar Bestari
Flash
Kembalinya Theresia
Binar Bestari