Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Labirin Luka
1
Suka
13,623
Dibaca

“Untuk apa?” Aku menghirup dingin.

Hujan deras, mendorongku menyelami sebuah labirin luka. Bertahun-tahun, aku belajar hidup tanpa nama pria bermata coklat. Di bawah garis takdir, hari ini kami bertemu. 

Aku memalingkan wajah, tidak ingin mengenang sesuatu yang berhasil terkubur. Bergegas menuju mobil, gedung penuh aksen etnik ini seketika tidak lagi menarik.

Aku bermanuver cepat, mengoper gigi, menginjak gas, melepas kopling, memutar stir. Hujan membuat jarak pandang memendek, terpaksa setengah kaca pintu mobil kubiarkan terbuka. Damaz masih menatap dari sana. Aku tahu.

“Yah, biar dia tahu. Lu udah sukses!” Anggun mengekori gedung tadi dengan matanya.

Aku menghirup dingin lagi. Aku yakin nama keramat itu telah benar-benar terhapus. Seperti lengas kemarau tersapu hujan. Bersih, tak bersisa.

“Memori gue isinya cuma nama Cakra.” Aku berkata lembut, memamerkan jari manis.

“Ah, lu mah. Tega.., gue kan masih single.” Anggun melirik cincin pernikahanku.

“Tapi, boleh kan. Kalau gue ngerasa puas?” Anggun merentangkan tangan, hampir mata kiriku menjadi korban kuku palsunya.

“Damaz yang cuma jadi… “tukang” pasang kanopi panggilan.” Anggun mengipas tangan ke wajah.

“Nggun, ...”

Aku malas menyebut namanya. “... sama kayak bapak-bapak di luar sana.” 

Aku menunjuk arah kanan. Beberapa petugas mengenakan rompi hijau stabilo, mengeksekusi sebuah pohon besar yang tumbang. Di bawah derasnya hujan, tanpa ragu.

“Selama halal, semua pekerjaan itu mulia. Mereka berjuang, demi keluarga kecilnya.” Aku tersenyum, mengusap stir.

Anggun mengangguk, “Ya sih, lu bener juga, Ken.” Anggun menggaruk pelipis.

“Daripada dia nyuri, ngebegal, atau jualan narkoba kan ya?”

“Betul.” Lesung pipi di wajahku terbentuk. 

Lima tahun lalu, laki-laki itu dengan jabatan sebagai HRD Plaza Biru memutuskan pertunangannya denganku. Dia Menikahi perempuan lain di kantornya. Anggun benar, aku juga puas melihat Damaz kini terpuruk.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
Mustika Panoman
Efi supiyah
Flash
Bronze
tiga detik
susi purwaningsih
Flash
Bronze
TEKEK...
Anjrah Lelono Broto
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Bronze
Asisten Paling Paten
Afri Meldam
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Novel
Rebo Wekasan 25
Zul Fatul Aulia
Novel
Upacara Membakar Bayangan
Mi Gosong
Flash
Langit yang Tak Pernah Mendengar
Ika nurpitasari
Novel
The Scar
Arianti Pratiwi Mustar
Novel
Gold
KKPK Hidden, Gadis Tersembunyi
Mizan Publishing
Novel
Adam and His Frustration
Hendra Wiguna
Novel
Baiti Jannati Rumahku Surgaku
DENI WIJAYA
Flash
Bronze
Lemon Tea
lidia afrianti
Rekomendasi
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Dompet Kulit di Stasiun
Binar Bestari
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Legasi Emak
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
Cinta dan Pelepah Kurma
Binar Bestari
Flash
Bronze
Sketsa Wajah Halwa
Binar Bestari