Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Labirin Luka
1
Suka
12,689
Dibaca

“Untuk apa?” Aku menghirup dingin.

Hujan deras, mendorongku menyelami sebuah labirin luka. Bertahun-tahun, aku belajar hidup tanpa nama pria bermata coklat. Di bawah garis takdir, hari ini kami bertemu. 

Aku memalingkan wajah, tidak ingin mengenang sesuatu yang berhasil terkubur. Bergegas menuju mobil, gedung penuh aksen etnik ini seketika tidak lagi menarik.

Aku bermanuver cepat, mengoper gigi, menginjak gas, melepas kopling, memutar stir. Hujan membuat jarak pandang memendek, terpaksa setengah kaca pintu mobil kubiarkan terbuka. Damaz masih menatap dari sana. Aku tahu.

“Yah, biar dia tahu. Lu udah sukses!” Anggun mengekori gedung tadi dengan matanya.

Aku menghirup dingin lagi. Aku yakin nama keramat itu telah benar-benar terhapus. Seperti lengas kemarau tersapu hujan. Bersih, tak bersisa.

“Memori gue isinya cuma nama Cakra.” Aku berkata lembut, memamerkan jari manis.

“Ah, lu mah. Tega.., gue kan masih single.” Anggun melirik cincin pernikahanku.

“Tapi, boleh kan. Kalau gue ngerasa puas?” Anggun merentangkan tangan, hampir mata kiriku menjadi korban kuku palsunya.

“Damaz yang cuma jadi… “tukang” pasang kanopi panggilan.” Anggun mengipas tangan ke wajah.

“Nggun, ...”

Aku malas menyebut namanya. “... sama kayak bapak-bapak di luar sana.” 

Aku menunjuk arah kanan. Beberapa petugas mengenakan rompi hijau stabilo, mengeksekusi sebuah pohon besar yang tumbang. Di bawah derasnya hujan, tanpa ragu.

“Selama halal, semua pekerjaan itu mulia. Mereka berjuang, demi keluarga kecilnya.” Aku tersenyum, mengusap stir.

Anggun mengangguk, “Ya sih, lu bener juga, Ken.” Anggun menggaruk pelipis.

“Daripada dia nyuri, ngebegal, atau jualan narkoba kan ya?”

“Betul.” Lesung pipi di wajahku terbentuk. 

Lima tahun lalu, laki-laki itu dengan jabatan sebagai HRD Plaza Biru memutuskan pertunangannya denganku. Dia Menikahi perempuan lain di kantornya. Anggun benar, aku juga puas melihat Damaz kini terpuruk.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Duri
Windy Effendy
Novel
Luka yang Salah
Franciarie
Komik
Perempuanmu
Komik Perempuanmu
Flash
Yang Dibunuh Dunia
Atsuka D
Flash
Salah Siapa?
Sri Marflowers
Flash
KASIH SAYANG YANG TERBAGI
D. Rasidi
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Cerpen
Lukisan Terakhir
Hasan Faizal
Novel
1 Rumah 2 Cinta
Herman Siem
Novel
My Real Espresso
Kandil Sukma Ayu
Komik
Fix Yourself
Nova Amalina
Skrip Film
Semesta berbicara
Indra Putra Riyanto
Skrip Film
Orang-orang Bawah
Indah Zuhairani Siregar
Skrip Film
Arunika Ataraxia
Mutiara Cahyani
Flash
The Day We Die
MosaicRile
Rekomendasi
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
Legasi Emak
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Cinta dan Pelepah Kurma
Binar Bestari
Flash
Bronze
10 Years : 10 Minutes
Binar Bestari
Flash
Cahaya Di Atas Perahu
Binar Bestari