Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Labirin Luka
1
Suka
11,915
Dibaca

“Untuk apa?” Aku menghirup dingin.

Hujan deras, mendorongku menyelami sebuah labirin luka. Bertahun-tahun, aku belajar hidup tanpa nama pria bermata coklat. Di bawah garis takdir, hari ini kami bertemu. 

Aku memalingkan wajah, tidak ingin mengenang sesuatu yang berhasil terkubur. Bergegas menuju mobil, gedung penuh aksen etnik ini seketika tidak lagi menarik.

Aku bermanuver cepat, mengoper gigi, menginjak gas, melepas kopling, memutar stir. Hujan membuat jarak pandang memendek, terpaksa setengah kaca pintu mobil kubiarkan terbuka. Damaz masih menatap dari sana. Aku tahu.

“Yah, biar dia tahu. Lu udah sukses!” Anggun mengekori gedung tadi dengan matanya.

Aku menghirup dingin lagi. Aku yakin nama keramat itu telah benar-benar terhapus. Seperti lengas kemarau tersapu hujan. Bersih, tak bersisa.

“Memori gue isinya cuma nama Cakra.” Aku berkata lembut, memamerkan jari manis.

“Ah, lu mah. Tega.., gue kan masih single.” Anggun melirik cincin pernikahanku.

“Tapi, boleh kan. Kalau gue ngerasa puas?” Anggun merentangkan tangan, hampir mata kiriku menjadi korban kuku palsunya.

“Damaz yang cuma jadi… “tukang” pasang kanopi panggilan.” Anggun mengipas tangan ke wajah.

“Nggun, ...”

Aku malas menyebut namanya. “... sama kayak bapak-bapak di luar sana.” 

Aku menunjuk arah kanan. Beberapa petugas mengenakan rompi hijau stabilo, mengeksekusi sebuah pohon besar yang tumbang. Di bawah derasnya hujan, tanpa ragu.

“Selama halal, semua pekerjaan itu mulia. Mereka berjuang, demi keluarga kecilnya.” Aku tersenyum, mengusap stir.

Anggun mengangguk, “Ya sih, lu bener juga, Ken.” Anggun menggaruk pelipis.

“Daripada dia nyuri, ngebegal, atau jualan narkoba kan ya?”

“Betul.” Lesung pipi di wajahku terbentuk. 

Lima tahun lalu, laki-laki itu dengan jabatan sebagai HRD Plaza Biru memutuskan pertunangannya denganku. Dia Menikahi perempuan lain di kantornya. Anggun benar, aku juga puas melihat Damaz kini terpuruk.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Gadis Kecil Di Trotoar
Hans Wysiwyg
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Novel
Bukan Tulang Punggung
Anggie Amelia
Novel
Another Winda Story
Sylvia Yenny
Flash
Bronze
Maafkan aku ibu
Rahmayanti
Flash
Bronze
Sekejap Senja, Selamanya Rasa.
Putri Rafi
Novel
Kesempatan Kedua
Rafael Yanuar
Novel
Bronze
Si Anak Yatim
Azmi1410
Skrip Film
Surya Kembar
Tinta Emas
Skrip Film
6 Months
Melia
Flash
Bronze
Bola dan Horor
Nuel Lubis
Flash
Kenyataannya masa mudaku tak seindah impian
Ika nurpitasari
Novel
PESAN KISAHKU
Fitri Nurhasna Fauziah
Novel
Bronze
Aulia Diah Salim
M. Bagus Sulistiyanto
Skrip Film
Between two options
Rahmawati
Rekomendasi
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Elegi Sunyi
Binar Bestari
Flash
Doa Meminta Keburukan
Binar Bestari
Flash
Legasi Emak
Binar Bestari
Flash
Bronze
10 Years : 10 Minutes
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Dompet Kulit di Stasiun
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari