Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Cerita hujan
20
Suka
15,063
Dibaca

Entah sudah yang keberapa kalinya weekend seperti ini kami lewati bersama. Sebuah kegiatan yang tanpa sengaja telah menjelma menjadi ritual bagi kami bertiga aku, Wina, dan Tika. Kami adalah ibu rumah tangga dengan segudang aktivitas masing-masing, yang sengaja menyempatkan diri di akhir pekan untuk mengisi ulang tangki obrolan. Sejenak bernapas, sebelum kembali bergulat dengan rutinitas Senin yang telah menunggu.

Hari ini, rencananya kami akan berkumpul di rumahku. Semula, kami berjanji untuk bertemu pukul tiga sore. Namun, langit mendung dan gerimis yang tak henti-henti memaksa kami membatalkan acara sore itu. Aku pun mengirim pesan singkat kepada Wina dan Tika, mengabarkan bahwa pertemuan kami tertunda.

Namun, tak disangka, sekitar setengah jam kemudian, terdengar ketukan pintu. Di depan rumah, Wina sudah berdiri dengan anak bungsunya yang masih digendong. Rupanya, layar ponselnya rusak, sehingga ia tak melihat pesan pembatalan itu. Meski agak kaget, aku mempersilakannya masuk. Basah kuyup, tapi senyumnya masih tersungging lemah.

Sementara menunggu hujan reda, kami duduk di ruang keluarga. Wina mulai bercerita. Perlahan, tapi pasti, keluh kesahnya mengalir deras tentang rumah tangganya, tentang suaminya, tentang segala beban yang ia tanggung sendirian. Air matanya tak tertahankan lagi, dan ia pun menangis. Aku hanya bisa mendengarkan, merasa tak cukup ahli untuk menghibur.

Tak lama kemudian, hujan berhenti. Aku segera menelepon Tika, memintanya untuk datang. “Wina sudah di sini,” kataku. “Ayo, kita kumpul saja seperti rencana semula.”

Tika tak butuh waktu lama. Ia datang dengan membawa tiga bungkus ramen hangat, aromanya menggugah selera. Begitu melihat Wina yang masih terisak, Tika langsung memeluknya erat. Dengan caranya yang khas, ia mulai melontarkan canda dan cerita-cerita lucu, mencairkan kesedihan yang sempat menggumpal. Perlahan, suasana sendu itu pun berubah. Wina tersenyum kembali, meski matanya masihlah sembap.

Kami pun makan ramen bersama, diiringi gerimis sore yang kembali rintik-rintik. Di meja makan itu, ada tawa, ada air mata, ada kebisuan yang berarti, dan ada juga cerita-cerita yang hanya bisa dipahami oleh kami bertiga. Masalah Wina mungkin belum selesai, tapi setidaknya, bebannya tak lagi dipikul sendirian.

Dan sore itu, kami mengingat lagi betapa pentingnya memiliki tempat untuk berbagi, sekaligus mengingat bahwa di balik hari-hari yang melelahkan, ada persahabatan yang selalu siap menjadi pelabuhan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Cerita hujan
tita agnesti
Novel
Bronze
Sepotong Kisah tanpa Akhir
Ansar Siri
Novel
Tentang Siapa Cinta
Aura Putri Cantika
Novel
Gold
KKPK Hidden, Gadis Tersembunyi
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Aku Ingin Mudik, Tapi Tidak Bisa
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Bronze
The Pieces of Memories
Moon Satellite
Novel
RUMAH SINGGAH
Lilis Alfina Suryaningsih
Cerpen
Bronze
Teman online
Rain Dandelion
Novel
Aku (tak) Punya Ayah
Putri Widya
Novel
Gold
Princess Family
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Alyosha Si Belanga; Leo Tolstoy
Ahmad Muhaimin
Novel
Bronze
CERMIN RETAK
Astri Rahmah Aulia
Novel
PERTARUNGAN RINDU
Emur Paembonan S
Novel
Arunika: Rumah Cahaya
Suci Asdhan
Novel
Bronze
LUKA BARA
Muhamad Irfan
Rekomendasi
Flash
Cerita hujan
tita agnesti
Flash
Monolog sunyi untuk mama
tita agnesti
Flash
Catatan harian yang tidak pernah tertulis
tita agnesti
Flash
Ketika Doa Tak Mengubah Takdir
tita agnesti
Flash
Kisruh di grup wali murid
tita agnesti
Flash
Ibu Rumah Tangga, Superhero Tanpa Jubah
tita agnesti
Flash
Pahitnya lidah mertua, manis kasih sayangnya
tita agnesti