Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Senandung Kerinduan di Balik Jendela November
0
Suka
4,546
Dibaca

Jendela kamarku menghadap ke sebuah taman kecil yang kini dipenuhi dengan daun-daun berguguran. November selalu begini, melankolis dan penuh kenangan. Setiap kali angin bertiup, dedaunan itu menari-nari di udara, seolah sedang melambai-lambaikan tangan padaku.

Aku bernama Senja, seorang komposer musik klasik yang sedang mengalami writer's block. Setelah sukses dengan simfoni pertamaku, aku merasa kesulitan untuk menciptakan karya baru yang sepadan. Aku merasa tertekan dan tidak bersemangat.

Setiap hari, aku selalu duduk di depan piano, mencoba untuk memainkan melodi-melodi baru. Tapi, yang keluar hanyalah suara-suara yang sumbang dan tidak harmonis. Inspirasiku seolah hilang ditelan kabut November.

Aku merindukan masa-masa ketika aku masih kecil. Dulu, aku selalu bermain piano bersama kakekku di ruang musik rumahnya. Kakekku adalah seorang pemain piano yang hebat. Dia selalu mengajariku dengan sabar dan penuh kasih sayang.

Aku ingat, setiap bulan November, kakekku selalu membuat konser kecil di rumah. Dia mengundang teman-temannya, keluarga, dan tetangga untuk mendengarkan musik yang dimainkannya. Aku selalu duduk di barisan depan, terpukau dengan keindahan musik yang diciptakan kakekku.

Kakekku selalu berkata bahwa musik adalah bahasa universal yang bisa menyatukan semua orang. Musik bisa menyampaikan emosi, cerita, dan harapan. Musik bisa menghibur, menginspirasi, dan menyembuhkan.

Tapi, sekarang, kakekku sudah tidak ada. Dia meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Aku sangat merindukannya. Aku merindukan senyumnya, suaranya, dan musiknya.

Aku merasa bersalah karena telah melupakan kakekku. Aku terlalu sibuk dengan karierku sebagai komposer untuk mengingatnya. Aku bahkan tidak sempat untuk mengunjungi makamnya.

Aku memutuskan untuk mengunjungi makam kakekku. Aku ingin meminta maaf kepadanya dan berjanji untuk tidak melupakannya lagi.

Aku pergi ke pemakaman pada pagi hari. Udara terasa dingin dan kabut tebal menyelimuti seluruh area pemakaman. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong makam, mencari nama kakekku.

Akhirnya, aku menemukan makam kakekku. Makam itu tampak sederhana dan tidak terawat. Aku membersihkan makam itu dari daun-daun kering dan meletakkan seikat bunga di atasnya.

Aku duduk di depan makam kakekku dan mulai berbicara. Aku menceritakan tentang kehidupanku, tentang karierku, dan tentang kesulitan yang sedang kuhadapi. Aku juga meminta maaf kepadanya karena telah melupakannya.

Saat aku sedang berbicara, tiba-tiba, aku mendengar suara musik. Suara musik itu sangat familiar. Aku mengenalinya sebagai salah satu lagu favorit kakekku.

Aku mencari sumber suara musik itu. Aku melihat seorang pria tua yang sedang bermain biola di dekat makam kakekku. Pria tua itu tampak sangat khusyuk memainkan musiknya.

Aku mendekati pria tua itu dan bertanya, "Siapa Anda?"

Pria tua itu berhenti bermain biola dan menjawab, "Saya teman kakekmu. Saya sering bermain musik bersama dengannya."

Aku terkejut mendengar jawaban pria tua itu. Aku tidak tahu bahwa kakekku memiliki teman yang bermain biola.

"Nama saya Senja," kataku. "Saya cucu kakekmu."

Pria tua itu tersenyum dan berkata, "Saya tahu. Kakekmu sering bercerita tentangmu."

Pria tua itu kemudian menceritakan tentang masa lalunya bersama kakekku. Dia menceritakan tentang konser-konser kecil yang mereka adakan di rumah, tentang lagu-lagu yang mereka ciptakan, dan tentang persahabatan yang mereka jalin.

Aku mendengarkan cerita pria tua itu dengan penuh perhatian. Aku merasa seolah-olah aku sedang berbicara dengan kakekku sendiri.

Setelah selesai bercerita, pria tua itu berkata, "Kakekmu ingin kamu terus bermain musik. Dia ingin kamu berbagi musikmu dengan semua orang."

Aku terdiam, merenungkan kata-kata pria tua itu. Aku menyadari bahwa kakekku selalu mendukungku dan ingin aku meraih impianku.

Aku berterima kasih kepada pria tua itu dan berjanji untuk tidak mengecewakan kakekku. Aku akan terus bermain musik dan berbagi musikku dengan semua orang.

Aku kembali ke rumah dengan semangat baru. Aku duduk di depan piano dan mulai memainkan melodi-melodi baru. Kali ini, suara-suara yang keluar dari piano terasa lebih harmonis dan indah. Inspirasiku kembali datang.

Aku mulai menciptakan simfoni baru. Aku menuangkan semua emosi, kenangan, dan harapan ke dalam musikku. Aku mendedikasikan simfoni itu untuk kakekku.

Beberapa bulan kemudian, aku menyelesaikan simfoni keduaku. Aku mempresentasikan simfoni itu di sebuah konser besar. Konser itu sukses besar. Banyak orang yang tersentuh dengan musikku.

Aku merasa sangat bahagia dan bersyukur. Aku berhasil meraih impianku dan menghormati kakekku. Aku tahu, kakekku pasti bangga padaku.

November itu telah mengubah hidupku. Aku belajar untuk menghargai masa lalu, untuk mencintai keluarga, dan untuk mengikuti impianku. Senandung kerinduan di balik jendela November itu telah mengantarkanku pada kebahagiaan sejati.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Senandung Kerinduan di Balik Jendela November
Lukitokarya
Flash
Pohon sawo
Mahmud
Flash
Pergantian Siang dan Malam
Dinda Kusuma Ati
Cerpen
Bronze
31-X003: Nama yang Terhapus
Kavi Vayne
Novel
Bronze
Limerence
Kennie Re
Cerpen
Cawan Ajaib
zain zuha
Flash
Kuda Delman
Dinda Kusuma Ati
Flash
Musim Hujan Terakhir
lidia afrianti
Cerpen
Operasi Phantom: Jejak di Tengah Bayangan
Penulis N
Novel
RNB - Kage no Shinsengumi
DinOli_
Novel
Tempat paling aman
Ris Aruni
Flash
Bronze
Pohon Jeruk
Afri Meldam
Novel
Bronze
belati dan verisai
SAKSI PENA
Cerpen
Bronze
Perjuangan Menuju Sukses
Mochammad Ikhsan Maulana
Novel
Bronze
MERANTAU
hendri putra
Rekomendasi
Flash
Senandung Kerinduan di Balik Jendela November
Lukitokarya
Cerpen
Pengorbanan Janda
Lukitokarya
Flash
Gema Piano di Rumah Tua
Lukitokarya
Flash
Melodi yang Hilang di Kota Tua
Lukitokarya
Flash
Aroma pagi dan kopi
Lukitokarya
Flash
Surat dari masa lalu
Lukitokarya
Flash
Hati mu di layar
Lukitokarya
Cerpen
Lentera di Ujung Lorong
Lukitokarya
Flash
senandung rindu di balik panggung
Lukitokarya
Flash
Peta Usang dan Harta Karun di Pulau Terlupakan
Lukitokarya
Flash
Jejak Pelangi di Langit Hati
Lukitokarya
Flash
Di Balik Jaket Hijau
Lukitokarya
Cerpen
BELAJAR DARI LUKA
Lukitokarya
Flash
Tentang kita
Lukitokarya
Flash
Jejak Waktu di Balik Lensa
Lukitokarya