Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Teras
0
Suka
13,106
Dibaca

Teras itu tak pernah berubah. Kursi tua masih bersandar ke dinding, berderit pelan setiap kali Pak Didik duduk. Secangkir kopi dan sepotong roti tawar menemani paginya yang hampa. Kadang, ia menyiapkan dalam dua cangkir dan dua piring. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk siapa pun yang mungkin akan datang. Namun, hingga kopi dingin dan roti kering, tak pernah ada yang menyentuhnya.

Dulu, teras itu penuh suara. Bu Nani menyiram bunga sambil bersenandung. Satrio duduk di pangkuannya, bercerita tentang sekolah dan cita-cita. Sekarang, hanya ada suara angin yang menyapa. Singgah sebentar, menyematkan dingin dan hening.

Sepi menyelimuti seperti rumput di halaman. Terus tumbuh, menjalar ke semua sudut. Pak Didik menegakkan badan, menoleh ke luar pagar. Ia bersiap dengan senyum yang sudah dilatih lama di depan cermin. Menyambut Satrio pulang, atau kehadiran sang istri—walau dalam mimpi.

“Bu, daun jambunya kok beguguran terus, ya,” gumamnya, memegang ranting yang rapuh.

Ia menatap ranting itu sejenak, lalu meletakannya di atas meja. Jemarinya bergetar ditekan kesunyian. Waktu terus berputar, hanya memperbanyak uban di kepala.

Suara salam menggema di depan barisan besi berkarat. Nyaring. Membawa harapan. Pak Didik sontak bangkit, meluruskan punggung yang mulai membungkuk.

“Tio…” suaranya pecah, separuh yakin.

Sayangnya, bukan. Anak muda yang mengucapkan salam itu berdiri di teras rumah sebelah. Tangannya menarik koper dan menenteng kardus bekas mi instan. Ia tampak baru pulang dari rantau. Disambut haru oleh pelukan ibunya.

Pak Didik terpaku. Senyum di bibirnya menggantung, dan perlahan luruh bersama napas yang ditahan. Ia kembali duduk, memandangi kopi yang uapnya sudah lenyap.

Tanpa sadar, air matanya menetes. Ia buru-buru menyekanya, kemudian menatap langit, menyampaikan doa yang diucapkan oleh hati.

Sudah berhari-hari Satrio tak menghubungi. Terakhir kali mereka berbicara, sang putra berkata bahwa akan menelpon balik “nanti malam.” Namun, malam telah berubah menjadi esok, lalu menggulung menjadi minggu-minggu yang kelabu. Menunggu dalam rentang tak tentu.

Pak Didik mengambil ponsel ke dalam rumah. Layarnya memantulkan wajahnya sendiri. Keriput, pucat, tetapi masih mencoba tersenyum. Ia membuka pesan baru, menekan tombol-tombol keras dengan mata yang tak lagi awas. Huruf demi huruf dirangkai dengan ragu. Dihapus. Ditulis ulang lagi.

“Nak, kapan kamu libur? Bapak rindu.”

Pesan terkirim. Ponsel terus digenggam, layar tak henti ditatap.

Matahari naik, cahayanya menyusup ke sela daun jambu. Bayangan kursi memanjang ke arah jalan. Pak Didik meneguk kopi yang sudah berubah rasa dan aroma. Roti yang mengeras ia habiskan juga, menelannya dengan susah payah.

Ia masih di teras. Masih setia menanti ponselnya bergetar.

Sementara itu, tawa anak muda yang tadi melambung bersama tawa ibunya. Ringan, indah, dan bahagia. Membelai hangat, mengalir dalam getir. Pak Didik menunduk, mengusap kedua lututnya. Bukan iri, melainkan membayangkan nuansa yang sama yang akan hadir ketika Satrio pulang.

“Mungkin Tio sedang sibuk,” bisiknya. “Bapak akan tunggu balasanmu sampai kapan pun, ya, Nak.”

Pak Didik beranjak dari teras. Pintu rumah ditutup rapat, menahan sinar siang yang merambat di ambang. Di dalam, hanya ada detak jam dan bunyi napasnya sendiri. Ponselnya berkedip sekali. Setelahnya, padam lagi sebelum sempat ia lihat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Komik
Bronze
DREAM
Esti Farida
Flash
Bronze
Guru Dadakan
Nurbaya Pulhehe
Flash
KEROPOK LEKOR BASAH
Gadis Dusun
Novel
Setelah Kepergian Ibu
Momo Shiny
Novel
Resonansi Warna
Kaia Sari
Novel
Lembaran Harapan
Yukina Gelia
Novel
Perjalanan Cinta
Haida Lee
Flash
Bronze
DENDAM YANG HILANG SEBELUM MATAHARI TENGGELAM
Rahmayanti
Novel
Resonance
Misaka Takashi
Novel
ELMIRA
Sirius Pen
Flash
Kopi & Gorengan
Call Me W
Flash
Bronze
ARTI YANG TERSEMBUNYI
Rahmayanti
Flash
7 Hari Berlalu
Yuanita Faridatun Ni'mah
Flash
Bronze
KEDASIH
Keita Puspa
Rekomendasi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Flash
Residu
Jasma Ryadi
Flash
Warisan Keris
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Di Radio Sekolah
Jasma Ryadi
Flash
Mengasuh Sabar
Jasma Ryadi
Flash
Mereka Bilang Aku Setan
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Simetris
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Jatuh Cinta di Tahun Kelima
Jasma Ryadi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Flash
Dekapan yang Hilang
Jasma Ryadi