Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Teras
0
Suka
17,529
Dibaca

Teras itu tak pernah berubah. Kursi tua masih bersandar ke dinding, berderit pelan setiap kali Pak Didik duduk. Secangkir kopi dan sepotong roti tawar menemani paginya yang hampa. Kadang, ia menyiapkan dalam dua cangkir dan dua piring. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk siapa pun yang mungkin akan datang. Namun, hingga kopi dingin dan roti kering, tak pernah ada yang menyentuhnya.

Dulu, teras itu penuh suara. Bu Nani menyiram bunga sambil bersenandung. Satrio duduk di pangkuannya, bercerita tentang sekolah dan cita-cita. Sekarang, hanya ada suara angin yang menyapa. Singgah sebentar, menyematkan dingin dan hening.

Sepi menyelimuti seperti rumput di halaman. Terus tumbuh, menjalar ke semua sudut. Pak Didik menegakkan badan, menoleh ke luar pagar. Ia bersiap dengan senyum yang sudah dilatih lama di depan cermin. Menyambut Satrio pulang, atau kehadiran sang istri—walau dalam mimpi.

“Bu, daun jambunya kok beguguran terus, ya,” gumamnya, memegang ranting yang rapuh.

Ia menatap ranting itu sejenak, lalu meletakannya di atas meja. Jemarinya bergetar ditekan kesunyian. Waktu terus berputar, hanya memperbanyak uban di kepala.

Suara salam menggema di depan barisan besi berkarat. Nyaring. Membawa harapan. Pak Didik sontak bangkit, meluruskan punggung yang mulai membungkuk.

“Tio…” suaranya pecah, separuh yakin.

Sayangnya, bukan. Anak muda yang mengucapkan salam itu berdiri di teras rumah sebelah. Tangannya menarik koper dan menenteng kardus bekas mi instan. Ia tampak baru pulang dari rantau. Disambut haru oleh pelukan ibunya.

Pak Didik terpaku. Senyum di bibirnya menggantung, dan perlahan luruh bersama napas yang ditahan. Ia kembali duduk, memandangi kopi yang uapnya sudah lenyap.

Tanpa sadar, air matanya menetes. Ia buru-buru menyekanya, kemudian menatap langit, menyampaikan doa yang diucapkan oleh hati.

Sudah berhari-hari Satrio tak menghubungi. Terakhir kali mereka berbicara, sang putra berkata bahwa akan menelpon balik “nanti malam.” Namun, malam telah berubah menjadi esok, lalu menggulung menjadi minggu-minggu yang kelabu. Menunggu dalam rentang tak tentu.

Pak Didik mengambil ponsel ke dalam rumah. Layarnya memantulkan wajahnya sendiri. Keriput, pucat, tetapi masih mencoba tersenyum. Ia membuka pesan baru, menekan tombol-tombol keras dengan mata yang tak lagi awas. Huruf demi huruf dirangkai dengan ragu. Dihapus. Ditulis ulang lagi.

“Nak, kapan kamu libur? Bapak rindu.”

Pesan terkirim. Ponsel terus digenggam, layar tak henti ditatap.

Matahari naik, cahayanya menyusup ke sela daun jambu. Bayangan kursi memanjang ke arah jalan. Pak Didik meneguk kopi yang sudah berubah rasa dan aroma. Roti yang mengeras ia habiskan juga, menelannya dengan susah payah.

Ia masih di teras. Masih setia menanti ponselnya bergetar.

Sementara itu, tawa anak muda yang tadi melambung bersama tawa ibunya. Ringan, indah, dan bahagia. Membelai hangat, mengalir dalam getir. Pak Didik menunduk, mengusap kedua lututnya. Bukan iri, melainkan membayangkan nuansa yang sama yang akan hadir ketika Satrio pulang.

“Mungkin Tio sedang sibuk,” bisiknya. “Bapak akan tunggu balasanmu sampai kapan pun, ya, Nak.”

Pak Didik beranjak dari teras. Pintu rumah ditutup rapat, menahan sinar siang yang merambat di ambang. Di dalam, hanya ada detak jam dan bunyi napasnya sendiri. Ponselnya berkedip sekali. Setelahnya, padam lagi sebelum sempat ia lihat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
First place in my heart
Reveniella
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Novel
Keyra's story
ulya hilmi
Skrip Film
PREMIUM EIGHTEEN
Nia Amelia Suhada Dalimunthe
Skrip Film
KLARA & BELLE
Herman Trisuhandi
Novel
Berkah Tersembunyi
Siti Fatimah
Flash
Me Time
Pikadita
Flash
Bitter Sweet Surprise
Erdem Emre
Cerpen
Bronze
Hentak Mesin Dini Hari
Johanes Gurning
Novel
Bronze
Dawuh
Sena N. A.
Skrip Film
Sampai Nanti, Sampai Kita Bertemu Kembali
Webi Okto Satria
Flash
Nyanyian Anophilia
Silvia
Flash
ANAK-ANAK KONGLOMERAT
DENI WIJAYA
Flash
Bronze
Sementara Pulang
Neil E. Fratér
Komik
Bronze
g punk
Jefrianto
Rekomendasi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Flash
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Telinga Kelima
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Laut yang Tak Menjawab
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Unfinished Business
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Data dan Mereka
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Shift Tiga
Jasma Ryadi
Flash
Residu
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Bingkai Tak Berujung
Jasma Ryadi