Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Teras
0
Suka
16,564
Dibaca

Teras itu tak pernah berubah. Kursi tua masih bersandar ke dinding, berderit pelan setiap kali Pak Didik duduk. Secangkir kopi dan sepotong roti tawar menemani paginya yang hampa. Kadang, ia menyiapkan dalam dua cangkir dan dua piring. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk siapa pun yang mungkin akan datang. Namun, hingga kopi dingin dan roti kering, tak pernah ada yang menyentuhnya.

Dulu, teras itu penuh suara. Bu Nani menyiram bunga sambil bersenandung. Satrio duduk di pangkuannya, bercerita tentang sekolah dan cita-cita. Sekarang, hanya ada suara angin yang menyapa. Singgah sebentar, menyematkan dingin dan hening.

Sepi menyelimuti seperti rumput di halaman. Terus tumbuh, menjalar ke semua sudut. Pak Didik menegakkan badan, menoleh ke luar pagar. Ia bersiap dengan senyum yang sudah dilatih lama di depan cermin. Menyambut Satrio pulang, atau kehadiran sang istri—walau dalam mimpi.

“Bu, daun jambunya kok beguguran terus, ya,” gumamnya, memegang ranting yang rapuh.

Ia menatap ranting itu sejenak, lalu meletakannya di atas meja. Jemarinya bergetar ditekan kesunyian. Waktu terus berputar, hanya memperbanyak uban di kepala.

Suara salam menggema di depan barisan besi berkarat. Nyaring. Membawa harapan. Pak Didik sontak bangkit, meluruskan punggung yang mulai membungkuk.

“Tio…” suaranya pecah, separuh yakin.

Sayangnya, bukan. Anak muda yang mengucapkan salam itu berdiri di teras rumah sebelah. Tangannya menarik koper dan menenteng kardus bekas mi instan. Ia tampak baru pulang dari rantau. Disambut haru oleh pelukan ibunya.

Pak Didik terpaku. Senyum di bibirnya menggantung, dan perlahan luruh bersama napas yang ditahan. Ia kembali duduk, memandangi kopi yang uapnya sudah lenyap.

Tanpa sadar, air matanya menetes. Ia buru-buru menyekanya, kemudian menatap langit, menyampaikan doa yang diucapkan oleh hati.

Sudah berhari-hari Satrio tak menghubungi. Terakhir kali mereka berbicara, sang putra berkata bahwa akan menelpon balik “nanti malam.” Namun, malam telah berubah menjadi esok, lalu menggulung menjadi minggu-minggu yang kelabu. Menunggu dalam rentang tak tentu.

Pak Didik mengambil ponsel ke dalam rumah. Layarnya memantulkan wajahnya sendiri. Keriput, pucat, tetapi masih mencoba tersenyum. Ia membuka pesan baru, menekan tombol-tombol keras dengan mata yang tak lagi awas. Huruf demi huruf dirangkai dengan ragu. Dihapus. Ditulis ulang lagi.

“Nak, kapan kamu libur? Bapak rindu.”

Pesan terkirim. Ponsel terus digenggam, layar tak henti ditatap.

Matahari naik, cahayanya menyusup ke sela daun jambu. Bayangan kursi memanjang ke arah jalan. Pak Didik meneguk kopi yang sudah berubah rasa dan aroma. Roti yang mengeras ia habiskan juga, menelannya dengan susah payah.

Ia masih di teras. Masih setia menanti ponselnya bergetar.

Sementara itu, tawa anak muda yang tadi melambung bersama tawa ibunya. Ringan, indah, dan bahagia. Membelai hangat, mengalir dalam getir. Pak Didik menunduk, mengusap kedua lututnya. Bukan iri, melainkan membayangkan nuansa yang sama yang akan hadir ketika Satrio pulang.

“Mungkin Tio sedang sibuk,” bisiknya. “Bapak akan tunggu balasanmu sampai kapan pun, ya, Nak.”

Pak Didik beranjak dari teras. Pintu rumah ditutup rapat, menahan sinar siang yang merambat di ambang. Di dalam, hanya ada detak jam dan bunyi napasnya sendiri. Ponselnya berkedip sekali. Setelahnya, padam lagi sebelum sempat ia lihat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Crush On
Hanni Maharani
Novel
Bronze
Tragedi Cinta Jilid 1
Tinta Emas
Novel
Yang Menungguku Pulang
Lexine Nine
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Skrip Film
Orang Baik
Christian Rumbo
Flash
Bronze
Pohon Kersen dan Kamu
Perdians syah
Cerpen
Bronze
Kembalinya Sang Penari
Jasma Ryadi
Novel
PawsLova
Regina Mega P
Novel
Maryam Tanpa Mihrab
Nur Azizah
Skrip Film
Fate & Future
Vitri Dwi Mantik
Skrip Film
Balada Si Roy
Marlon Anaka
Flash
Satu Persen Ibu
Hani Abla
Flash
Bronze
HUT Organisasi Berry-Berry
Silvarani
Novel
Madu yang Kupilih untuk Suamiku
Rinz Sugianto
Novel
Bronze
Madu yang Beracun
Dara Kirana
Rekomendasi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kembalinya Sang Penari
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Efisiensi
Jasma Ryadi
Novel
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Inang
Jasma Ryadi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Cerpen
Silsilah Para Penambal
Jasma Ryadi
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Flash
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Jadikan Hariku Senin Selalu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Setelah Malin Menjadi Batu: Hasnah dan Debur Ombak
Jasma Ryadi
Flash
Sisa Rindu
Jasma Ryadi