Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Manna dan Salwa
4
Suka
8,462
Dibaca

“Kita putus.”

Suara itu seperti benda jatuh pelan, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka tiba-tiba berhenti.

Ini sudah kesekian kalinya Salwa memintanya. Seolah-olah dejavu yang tak bisa lagi ditolak.

“Boleh,” jawab Manna akhirnya mengalah mencoba berjudi pada hatinya, sambil menatap ke dalam matanya. “Tapi harus ada alasannya.”

Salwa terdiam. Tangannya menggenggam ujung jaket, matanya berkaca.

“Tidak ada alasan. Cuma mau putus.”

Manna mendengus kecil, tapi bukan karena marah, lebih karena tak habis pikir.

“Tidak boleh,” jawab Manna akhirnya. Suaranya datar, tapi di dalamnya tetap dijaganya sisa-sisa keteguhan yang ia kumpulkan dari serpihan hatinya.

“Kenapa tidak boleh, tadi bilang boleh?”

“Karena kalau tidak ada alasan, itu bukan keputusan. Itu pelarian.”

Sunyi menggantung tinggi.

Angin sore menyelinap lewat sela dahan cemara, membawa cericip suara burung.

“Kadang orang tidak butuh alasan untuk pergi,” kata Salwa akhirnya, pelan.

“Dan kadang orang juga tetap bertahan meski tahu alasannya menyakitkan,” balas Manna kali ini tidak mau mengalah.

Keduanya terdiam lagi.

Di titik itu, tak ada yang menang, hanya dua hati yang sedang mencoba saling memahami caranya hancur.

***

Lalu Salwa tersenyum kecil. Senyum yang anehnya lebih mirip menyerah daripada lega.

“Kalau begitu, biar saja aku lari kali ini.”

Kalimat itu seperti mengunci segalanya. Tidak ada yang berteriak, tidak ada air mata yang jatuh.

Hanya dua orang yang sama-sama tahu, kadang yang paling menyakitkan bukan perpisahan, tapi ketenangan yang datang seperti misteri bersamanya.

***

Salwa berdiri. Lalu melangkah pelan.

Manna di belakangnya ingin memanggil, tapi bibirnya cuma terbuka tanpa suara.

Udara di ruangan itu mendadak terasa terlalu luas, seperti memberi jarak yang tidak bisa dijembatani lagi.

"Apakah ada hati lain?" tanya Manna akhirnya tidak bisa menahan diri.

"Itu bukan urusanmu."

"Setidaknya itu bisa jadi sebabnya."

"Itu juga, bukan urusanmu," nada Salwa sedikit ketus.

***

Sejak hari itu, mereka benar-benar tidak pernah bicara lagi.

Bukan karena benci. Tapi karena sudah tidak tahu harus bicara apa.

Mungkin… begitulah akhir dari banyak kisah, bukan karena seseorang berhenti mencintai, tapi karena mereka berusaha menyembuhkan sesuatu yang sudah lama patah.

***

Note: Semoga kalian berdua baik-baik saja sekarang, Kami kuatir jadinya.

Manna, bersabarlah. Mungkin Salwa hanya butuh waktu untuk menyendiri. Bicara dengan hatinya untuk memutuskan jawabannya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Unforgettable Magnolia
Annisa fathonah
Komik
Kilas
Dita Hanifa
Flash
Manna dan Salwa
Hans Wysiwyg
Novel
Assalamualaikum, jodoh.
fin
Novel
Gold
I'm Fine
Bentang Pustaka
Novel
Jodohku di Tangan Orang Tuaku
Lolita Alvianti susintaningrum
Cerpen
Winter In My Heart
Diyah Ayu NH
Cerpen
Bronze
Sahabat Rasa Pacar
Nasreen
Cerpen
Bronze
My Dear Cousin
Mas Intan
Novel
DESTRUCTA
Anastasya putri
Novel
Just Before You Love
Usep Jamaludin
Novel
Mawar Merah Di Genggaman Terakhir
Valen Pahlintias
Skrip Film
Sri, tok!
Selvi Nofitasari
Flash
Titik Balik Rasa
Dear An
Cerpen
SELEPAS
Inggita Hardaningtyas
Rekomendasi
Flash
Manna dan Salwa
Hans Wysiwyg
Cerpen
KOTAK MERAH
Hans Wysiwyg
Cerpen
Terjebak Rasa
Hans Wysiwyg
Flash
Sebelas-Duabelas
Hans Wysiwyg
Cerpen
Jendela yang Pecah
Hans Wysiwyg
Cerpen
BADRI BERHANTU Pabrik Padi Syereem!
Hans Wysiwyg
Flash
MAKLAR
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pacar Figuran
Hans Wysiwyg
Cerpen
SUNYI SEKALI
Hans Wysiwyg
Cerpen
Maybe Someday
Hans Wysiwyg
Cerpen
FAKE PSIKOPAT
Hans Wysiwyg
Cerpen
SYURGA YANG DILELANG
Hans Wysiwyg
Cerpen
Mencari Cinta Di Kelab Malam
Hans Wysiwyg
Cerpen
Susah Lupa
Hans Wysiwyg
Cerpen
Aku Dalam Cermin
Hans Wysiwyg