Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Telepon
1
Suka
15,201
Dibaca

Mengapa betah melajang? Memangnya, tidak ingin menikah? Sampai kapan mau hidup sendiri? Apa tidak takut kesepian ketika tua nanti?

Pertanyaan itu meluncur dari suara yang sudah lama tak kudengar. Teman sekolah di bangku menengah atas, tidak akrab, menelepon di tengah malam. Awalnya hangat, kami mengulas hari-hari yang polos. Kemudian, suhu meningkat ketika nadanya terkesan menginterogasiku.

Bagi sebagian orang, mungkin kesendirian tampak begitu menyeramkan. Sementara, bagiku, biasa saja. Hati bukannya betah tanpa ada yang mengisi. Bukan pula tak berusaha mencari yang bisa menemani. Pernah beberapa kali menjalin kasih, tetapi sebanyak itu juga tak sampai pelaminan.

“Kirain lu sama Wahyu bakalan berjodoh. Padahal, kalian serasi banget. Emang putusnya kenapa, sih?” tanyanya, tanpa jeda.

Aku terdiam sejenak. Wahyu. Nama terakhir yang kukira akan tersemat dalam satu buku denganku. Ternyata, hanya menitipkan jejak di hati bagaikan tinta yang tak bisa dihapus.

“Karena kami sama-sama ingin bahagia, tapi dengan cara yang berbeda,” jawabku pelan.

Dia membangkitkan kenangan yang sudah lama kusimpan rapi. Hubungan-hubungan yang pernah kujalani, harapan-harapan yang sempat tumbuh, dan keputusan-keputusan yang akhirnya harus diambil. Semua itu bukan sekadar masa lalu, melainkan bagian dari prosesku memahami diri sendiri.

Aku nyaman denganku duniaku saat ini. Menata hari tanpa ikatan dengan siapa pun. Lantas, salahkah seandainya aku memilih untuk merawat hidupku saja?

Benar. Manusia makhluk sosial. Sejatinya, selalu membutuhkan kehadiran orang lain dalam keseharian. Hanya saja, ini perasaan. Jalinannya tak sekadar hubungan fungsional maupun transaksional. Ada emosi yang harus saling dimengerti sepanjang satu ranjang. Ada setia dari perilaku dan bahasa yang harus saling menetap sepanjang satu atap.

“Cuma kamu dari angkatan kita yang belum menikah. Jangan terlalu sibuk meniti karir. Bohong kalau kamu bilang tidak ingin seperti teman-teman: punya keluarga dan tempat berbagi,” ucapnya lagi, setengah menuding serta menilai.

Jalan hidup manusia berbeda-beda. Satu dan yang lain memiliki kekhasannya masing-masing. Tak ada standar baku dalam mengukur tingkat kebahagiaan seseorang. Jika aku mampu bahagia sendiri, mengapa harus ada yang menggugatnya?

“Terima kasih atas perhatiannya. Tapi maaf, aku udah mulai ngantuk,” ucapku, mencoba mengakhiri sambungan telepon dengannya setelah hampir satu jam berkutat di topik yang sama.

“Bentar, Yul. Yang tadi gimana? Paling tidak bantu setengahnya, ya. Aku pengen ngasih kado jam tangan buat ulang tahun suamiku. Bulan depan pasti aku ganti,” mohonnya dengan suara menurun.

Aku menghela napas. “Maaf, Mir. Aku benar-benar lagi nggak bisa bantu.”

“Oh, ya udah.” Dia mematikan telepon tanpa salam, terdengar kecewa.

Aku merebahkan badan ke kasur. Dalam hening, mencuat sebuah pertanyaan: “Mengapa harus membahas kehidupan pribadiku demi meminjam uang?”

Mungkin, niat awalnya bukan peduli. Hanya sebagai pengantar. Mungkin, aku hanya dijadikan cermin untuk menutupi kekurangannya. Atau mungkin, aku terlalu cepat berprasangka.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Pondok Sasana Penyamun
Adinda Salshabilla Yudha
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Novel
Dream Changes Me
Auli Inara
Novel
Popisdead
D. Hardi
Novel
Ian's Stories: My True Happines
Muh Fajrin
Novel
Bronze
Jangan Lekas Pulih, Ingatan-Ingatan Itu
Achmad Afifuddin
Komik
Little Things
Alfi Zakira
Komik
BAKSO (Basket & Gorengan)
Ayani Owlet
Flash
Kereta
Nurmala Manurung
Cerpen
Bronze
Sebuah Drama di Corpus Christi
Nuel Lubis
Cerpen
Bronze
JIKA RUMAH ADALAH LUKA
Muhamad Irfan
Novel
Beruang Es
Vivilutfia41
Novel
Gold
Nun Mati
Falcon Publishing
Komik
Kita selalu bersama-sama
Dava Satya
Skrip Film
Fragmen: Dialog
alpistasedo pelawi
Rekomendasi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka Bilang Aku Durhaka
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Rasa yang Tak Bisa Kembali
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Shift Tiga
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Inang
Jasma Ryadi
Flash
Surat Untukmu Dariku
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Prenuptial Agreement: Cinta di Atas Materai
Jasma Ryadi
Flash
Ikan adalah Luka
Jasma Ryadi
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Flash
Terminal
Jasma Ryadi
Flash
Di Barisan Belakang
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi