Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Perjalanan Pulang
2
Suka
7,265
Dibaca

Seharusnya aku naik kereta saja tadi, bukan bus. Biar lebih murah

Lapar. Sebaiknya makan di rumah atau mampir ke warung bakso ya? Eh, tapi aku sudah boros dengan naik bus.

Tapi, bus lebih cepat, sih. Kenapa aku mengeluh? Kan sudah terlanjur. Cuman beda 8000.

Hm, 8000 lumayan bisa buat beli bakso. Apalagi mendung-mendung seperti ini.

Eh, mendung. Gelap banget. Semoga nggak hujan, sih. Kayaknya aku lupa bawa payung, deh.

Tapi seingatku payungku rusak juga. Nanti checkout lah pas pulang.

Lapar woi, busnya kok malah berhenti sih, bentar lagi nyampe loh padahal. Oh, macet, ya?

Ganjal pakai air putih dulu, deh. Untung tadi sempet isi ulang botol sebelum pulang.

Lah lah lah, kok mulai turun hujannya? Gimana nanti opernya ke angkot? Masa harus neduh dulu?

Akhirnya nyampe juga, tapi hujan beneran turun sih walah nggak deras.

Itu ada warung bakso. Makan dulu ga ya? Uang sih ada, tapi harus hemat.

Hm, belum terlalu deras juga. Ya udah terobos aja. Kayaknya angkot di depan itu langsung berangkat.

Yap, berhasil naik. Meski sempit gpp. Maaf ya Bu, Mas, jadi makin sempit angkotnya.

Hmph bau asap rokok. Lembab. Sempit. Sesak. Nambah-nambah masalah tuh orang. Kenapa nggak ngerokok nanti sih?

Yup, dah sampe gang. Sial, ada bakso kelilingnya Pak Petot. Mampir nggak ya? Seminggu ini kayaknya belum beli baksonya deh. Tapi nanggung nggak sih udah hampir sampe rumah.

Yah, cuman menyapa doang jadinya. Gak jadi beli bakso. Hemat lah ya.

Eh eh eh, hujannya makin deras. Lari.

"Devans?"

Suara ibuku mengagetkanku. Aku mendongak ke arah ibuku yang berdiri di depan pintu. Aku berdiri tepat di depan teras. Seluruh tubuhku basah. Rambutku mengalirkan air yang meliuk-liuk di wajah. Dingin. Sangat Dingin.

Saat menoleh ke belakang, hujan telah turun deras. Sangat deras. Bahkan aku tak ingat sejak kapan hujannya sederas ini. Seingatku habis turun angkot, hujannya tak sederas itu. Padahal jarak antara rumah dan jalan depan nggak nyampe lima puluh meter. Kenapa aku basah kuyup?

Ah, sepertinya aku melakukannya lagi. Aku tehanyut dalam pikiranku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Fiksi Daripada Empat Windu, Atau Empat Windu Daripada Fiksi?
Petrus Setiawan
Flash
Terserah kamu!
Tri Wulandari
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Flash
Perjalanan Pulang
Hekto Kopter
Novel
Skizofrenia
Adhi Saputra Batubara
Flash
ES AIRMATA BAHAGIA
Faisal Syahreza
Cerpen
Bercengkerama dengan Nasib
Alwi Hamida
Cerpen
Kapan Serius
Lisa
Novel
Bronze
BINGKISAN DI BAWAH MEJA
Efi supiyah
Flash
Mata Seorang Pemungut Sampah
Neo Hernando
Flash
Pengorbanan Ivan
Khoirul Anam
Flash
Bronze
Reuni
Desy Cichika
Cerpen
Tentara Yang Sendirian
Noer Eka
Komik
100 Stories to Tell
achaa
Skrip Film
Gara-gara Istri Muda
Annisa Haroen
Rekomendasi
Flash
Perjalanan Pulang
Hekto Kopter
Cerpen
Bronze
Sang Penghancur
Hekto Kopter
Cerpen
Bronze
Lima Botol
Hekto Kopter
Cerpen
Bronze
Ramalan Ghina
Hekto Kopter
Cerpen
Bronze
Kolam Ikan
Hekto Kopter
Cerpen
Bronze
Suara Seruling
Hekto Kopter
Cerpen
Bronze
Peduli Upil
Hekto Kopter
Flash
Pria Tua di Cafe Modern
Hekto Kopter
Cerpen
Buah yang Berbuah Tiap Tiga Tahun Sekali
Hekto Kopter
Flash
Pria dengan Sebatang Rokok pada Dini Hari
Hekto Kopter
Cerpen
Bronze
Langit
Hekto Kopter
Cerpen
Kasur Basah
Hekto Kopter
Flash
Tenggelam
Hekto Kopter