Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Suar
1
Suka
5,002
Dibaca

Malam sudah lama jatuh ketika aku menyalakan lilin kecil di meja.

Suaranya lembut, hampir tak terdengar, tapi cahayanya menari di dinding.

Aneh aku tidak tahu kapan terakhir kali aku menyalakan cahaya untuk diriku sendiri.

Dulu, kau yang melakukannya.

Setiap kali listrik padam, kau akan menyalakan lilin, lalu berkata, “Tenang saja, kegelapan ini cuma sebentar.”

Aku selalu percaya, karena di wajahmu, selalu ada keyakinan yang membuat segalanya terasa aman.

Sekarang, hanya ada aku.

Dan satu cahaya kecil yang bergetar di antara tiupan angin.

Aku menatapnya lama.

Di dalam nyala itu, ada sesuatu yang menenangkan. Bukan karena terang, tapi karena ia tidak menyerah.

Api kecil itu berdiri di tengah udara yang dingin, seperti menolak padam.

Aku ingin sekuat itu tidak besar, tapi cukup untuk tetap menyala.

Di luar, hujan mengguyur lagi.

Ritmenya tidak teratur, seperti suara langkah seseorang yang ragu.

Aku membuka jendela sedikit; udara lembap masuk bersama aroma tanah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak menutupnya rapat.

Mungkin karena aku mulai percaya, tidak semua hujan datang untuk menenggelamkan.

Beberapa datang untuk membersihkan.

Aku menulis sesuatu di kertas kecil:

“Tidak apa-apa berjalan pelan, asal tidak berhenti.”

Kalimat sederhana, tapi terasa berat untuk ditulis.

Karena aku tahu aku menulisnya bukan untuk hari ini, tapi untuk hari-hari nanti, ketika gelap kembali datang dan aku mulai lupa cara berharap.

Aku menaruh kertas itu di samping lilin.

Cahayanya membuat tinta terlihat berkilau, seperti kata-kata itu sedang bernapas.

Aku sadar, hidupku mungkin tak akan kembali seperti dulu.

Tapi mungkin, itu bukan hal yang buruk.

Mungkin hidup memang bukan tentang kembali,

melainkan tentang menemukan arah baru setelah semuanya runtuh.

Di luar, langit mulai retak oleh cahaya pagi.

Aku menatapnya dari jendela yang masih terbuka.

Satu garis tipis jingga menembus awan seperti isyarat kecil dari sesuatu yang lebih besar.

Bukan kebetulan, pikirku.

Hanya waktu yang akhirnya memilih untuk lembut padaku.

Aku menutup mata sejenak.

Lilin di meja masih menyala, walau hampir habis.

Dan di balik kelopak mataku, aku merasa ada sesuatu yang hangat tumbuh perlahan.

Bukan cahaya dari luar, tapi dari dalam dari tempat yang dulu gelap, kini mulai menyala kembali.

Suar.

Kecil, tapi cukup untuk menunjukkan arah pulang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Namamu, Namaku
Vica Lietha
Flash
Bronze
Tentangmu
Lisnawati
Flash
Suar
lidia afrianti
Flash
MEMORIZE YOU
Iman Siputra
Novel
Dia Yang Tidak Mencintaiku
Kamalsyah Indra
Flash
Bronze
Namanya S
Nuel Lubis
Novel
Bronze
I'm First
Karin Vayra
Flash
Kopi Terakhir di Stasiun 12
Penulis N
Flash
Kopi Latte
wdya
Novel
Just Friend's Scenario
Vina Marlina
Novel
Selamat Pagi, Alen
Kavi M N
Novel
Bronze
The Power of First Love - Senkora & Tane
Amel Gladishani
Skrip Film
Friend Zone
Rizqiyanabila
Flash
Yang Terlupakan
Suci Asdhan
Flash
Bronze
Dua Tahun Lagi
Ron Nee Soo
Rekomendasi
Flash
Suar
lidia afrianti
Flash
Kenapa kita kura-kura
lidia afrianti
Novel
Wandering Toward You
lidia afrianti
Flash
Bronze
Jeda Yang Tak Pernah Usai 2
lidia afrianti
Flash
Aku, Cinta Dan Kamu
lidia afrianti
Flash
Sisa Di Gelas
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Without You
lidia afrianti
Flash
Tumbuhan Pemakan Rahasia
lidia afrianti
Flash
Bayang
lidia afrianti
Flash
My Battery
lidia afrianti
Flash
Cinta Tanpa Pamrih
lidia afrianti
Flash
Ibu, sebenarnya. . .
lidia afrianti
Flash
Bronze
Juni Tanpa Ju
lidia afrianti
Flash
Bronze
Kenapa Kita Berpisah?
lidia afrianti
Flash
Ramai
lidia afrianti