Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Jejak
1
Suka
5,500
Dibaca

Ada tempat-tempat yang tetap sama, bahkan ketika orang-orang di dalamnya telah berganti.

Bangku taman yang retak di sudut kanan, jalan kecil menuju stasiun, toko roti yang masih menjual kue kesukaanmu semuanya seperti menunggu seseorang yang takkan datang lagi.

Aku melewati tempat-tempat itu pagi ini.

Tanpa niat, hanya kaki yang tiba-tiba mengarah ke sana.

Langkah-langkahku berhenti di depan toko bunga, tempat kau dulu membeli mawar putih karena katanya “bunga itu tenang, tapi tidak menyerah.”

Pemilik tokonya sudah berubah, tapi aroma tanah basahnya masih sama.

Aneh, bagaimana sesuatu bisa tetap setia meski manusia tidak.

Aku sempat ingin memotret tempat-tempat itu.

Tapi lalu berpikir, untuk apa?

Kenangan tidak butuh foto. Ia cukup berdiam di dada, menunggu waktu untuk menua bersama pemiliknya.

Ada bekas telapak sepatu di jalan setapak setelah hujan.

Aku menatapnya lama, seolah bisa membaca masa lalu dari arah langkahnya.

Jejak-jejak itu seperti mengajakku kembali ke hari ketika segalanya masih ringan sebelum kata “selamat tinggal” menjadi batas antara dua dunia.

Orang bilang waktu akan menutup semua luka.

Tapi waktu tidak menutup apa pun. Ia hanya membuat luka itu belajar hidup berdampingan dengan kita.

Setiap langkah yang kuambil hari ini adalah bukti kecilnya: aku tidak sembuh, tapi aku berjalan.

Kadang aku masih mendengar langkahmu di belakangku.

Bukan nyata, tentu saja. Hanya gema dari kenangan yang menolak padam.

Aku tidak lagi menoleh.

Aku biarkan ia mengikuti, sejauh yang ia mau.

Karena mungkin, sebagian dari diriku juga masih ingin diikuti—meski hanya oleh bayangan.

Saat matahari mulai condong ke barat, aku berhenti di tepi danau.

Permukaannya beriak pelan, memantulkan langit yang oranye.

Aku menatap pantulanku di air: seseorang yang sudah jauh berjalan dari tempat awal, tapi masih membawa arah yang sama.

Aku tersenyum kecil.

Mungkin ini arti sebenarnya dari menerima bukan melupakan, tapi memahami bahwa jejak yang tertinggal tidak harus dihapus.

Beberapa memang ada untuk diingat, sebagai bukti bahwa kita pernah berani melangkah, meski tahu kita bisa hilang di tengah jalan.

Hujan turun pelan saat aku pulang.

Jejak di tanah mulai memudar.

Tapi anehnya, aku justru merasa ringan.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku sadar:

tidak semua yang hilang harus ditemukan.

Beberapa hanya perlu dibiarkan tinggal, dalam bentuk jejak yang diam-diam, masih menuntunku pulang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
SESIUN ALTHA
Yukariani
Flash
Bronze
Tsun Tsun Dere Dere
Keita Puspa
Flash
Jejak
lidia afrianti
Novel
Lady Bug
AdityoWahyu
Flash
Bronze
Tiada Dirinya
Gia Oro
Flash
Bronze
Tanda Tangan
Haru Wandei
Flash
Hari Ini Bapak Menyemir Sepatuku
Hans Wysiwyg
Novel
Bronze
DEVAZURA
Wulan Apriani Widodo
Novel
a Bunch of Love
Titi Trisnaning Adyantari
Novel
Merindu Sewindu
Fitri Handayani Siregar
Novel
Last Love
Laila Nur Fitria D
Flash
Bronze
1800 Detik Untuk Cinta
Deeta Pratiwi
Novel
Romansa Imaginer
Muhammad Arief Rahman
Novel
Cinta 9 Malam
Mambaul Athiyah
Flash
Proposal
Fani Fujisaki
Rekomendasi
Flash
Jejak
lidia afrianti
Flash
Bronze
if we'd met before a decade
lidia afrianti
Flash
Hari Ketika Aku Mati Sebentar
lidia afrianti
Flash
Raut
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Line And Word
lidia afrianti
Flash
Bronze
Kenapa Kita Berpisah?
lidia afrianti
Flash
Andai semua ini benar-benar terjadi
lidia afrianti
Flash
Bayang
lidia afrianti
Flash
Aku berhenti bicara sekarang
lidia afrianti
Flash
Aku, Cinta Dan Kamu
lidia afrianti
Flash
Aku ingin kamu mendengarku
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
SANGUIN
lidia afrianti
Flash
Jika Sudah Lupa, Mari kita Bertemu
lidia afrianti
Flash
Ibu, sebenarnya. . .
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Without You
lidia afrianti