Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Jejak
1
Suka
6,596
Dibaca

Ada tempat-tempat yang tetap sama, bahkan ketika orang-orang di dalamnya telah berganti.

Bangku taman yang retak di sudut kanan, jalan kecil menuju stasiun, toko roti yang masih menjual kue kesukaanmu semuanya seperti menunggu seseorang yang takkan datang lagi.

Aku melewati tempat-tempat itu pagi ini.

Tanpa niat, hanya kaki yang tiba-tiba mengarah ke sana.

Langkah-langkahku berhenti di depan toko bunga, tempat kau dulu membeli mawar putih karena katanya “bunga itu tenang, tapi tidak menyerah.”

Pemilik tokonya sudah berubah, tapi aroma tanah basahnya masih sama.

Aneh, bagaimana sesuatu bisa tetap setia meski manusia tidak.

Aku sempat ingin memotret tempat-tempat itu.

Tapi lalu berpikir, untuk apa?

Kenangan tidak butuh foto. Ia cukup berdiam di dada, menunggu waktu untuk menua bersama pemiliknya.

Ada bekas telapak sepatu di jalan setapak setelah hujan.

Aku menatapnya lama, seolah bisa membaca masa lalu dari arah langkahnya.

Jejak-jejak itu seperti mengajakku kembali ke hari ketika segalanya masih ringan sebelum kata “selamat tinggal” menjadi batas antara dua dunia.

Orang bilang waktu akan menutup semua luka.

Tapi waktu tidak menutup apa pun. Ia hanya membuat luka itu belajar hidup berdampingan dengan kita.

Setiap langkah yang kuambil hari ini adalah bukti kecilnya: aku tidak sembuh, tapi aku berjalan.

Kadang aku masih mendengar langkahmu di belakangku.

Bukan nyata, tentu saja. Hanya gema dari kenangan yang menolak padam.

Aku tidak lagi menoleh.

Aku biarkan ia mengikuti, sejauh yang ia mau.

Karena mungkin, sebagian dari diriku juga masih ingin diikuti—meski hanya oleh bayangan.

Saat matahari mulai condong ke barat, aku berhenti di tepi danau.

Permukaannya beriak pelan, memantulkan langit yang oranye.

Aku menatap pantulanku di air: seseorang yang sudah jauh berjalan dari tempat awal, tapi masih membawa arah yang sama.

Aku tersenyum kecil.

Mungkin ini arti sebenarnya dari menerima bukan melupakan, tapi memahami bahwa jejak yang tertinggal tidak harus dihapus.

Beberapa memang ada untuk diingat, sebagai bukti bahwa kita pernah berani melangkah, meski tahu kita bisa hilang di tengah jalan.

Hujan turun pelan saat aku pulang.

Jejak di tanah mulai memudar.

Tapi anehnya, aku justru merasa ringan.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku sadar:

tidak semua yang hilang harus ditemukan.

Beberapa hanya perlu dibiarkan tinggal, dalam bentuk jejak yang diam-diam, masih menuntunku pulang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Ingkar
Rolly Roudell
Flash
Jejak
lidia afrianti
Novel
2 TAHUN
sandhya
Novel
Gold
Only We Know
Bentang Pustaka
Flash
Sedihnya Bahagia
Aneidda
Cerpen
SENJA SEMERAH DARAH
Areta Swara
Novel
On The Way With You
ika nana
Novel
Alanna
kiaqiya
Novel
Gold
A Room with A View
Noura Publishing
Flash
"Teman"
Faristama Aldrich
Novel
25 Days To Stole Your Heart
TUAN ALASKA KIKIRI
Novel
Without You
Safina
Skrip Film
Bukan Gagal Nikah
Diena Mzr
Flash
Bronze
Dua Tahun Lagi
Ron Nee Soo
Cerpen
Serpihan Jingga di Ufuk Senja
Rahman wahyudi
Rekomendasi
Flash
Jejak
lidia afrianti
Flash
Jika kita berubah
lidia afrianti
Flash
In Korea Means 사랑해
lidia afrianti
Flash
Rumus Manual ayah
lidia afrianti
Flash
Dia Bernama Lumi
lidia afrianti
Flash
Bronze
Kenapa Kita Berpisah?
lidia afrianti
Flash
Kenapa kita kura-kura
lidia afrianti
Flash
Kesalahan Hitung
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
StepMother
lidia afrianti
Flash
Aku berhenti bicara sekarang
lidia afrianti
Novel
Wandering Toward You
lidia afrianti
Flash
Ternyata Kita Pembohong
lidia afrianti
Flash
Kalau saat itu aku tidak diam. . .
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Without You
lidia afrianti
Flash
SELF
lidia afrianti